TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Di tengah denyut aktivitas masyarakat Mimika, sebuah rumah adat perlahan dibangun dengan semangat gotong royong dan kerinduan akan akar budaya. Tongkonan, simbol identitas masyarakat Toraja, tidak sekadar dirancang menjadi bangunan fisik, tetapi juga ruang yang menyimpan ingatan, persaudaraan, dan warisan leluhur yang hendak diteruskan kepada generasi mendatang.
Momentum itulah yang mewarnai kegiatan Reses Tahap II Anggota DPRK Mimika dari Partai Demokrat, Herman Tangke, di Daerah Pemilihan (Dapil) IV. Selain menyerap aspirasi masyarakat, ia turut menyerahkan bantuan untuk mendukung pembangunan Tongkonan yang hingga kini masih terkendala keterbatasan anggaran.
Di hadapan masyarakat, Herman menegaskan bahwa bantuan tersebut lahir dari rasa tanggung jawab moral terhadap kebutuhan masyarakat di wilayah yang diwakilinya.
“Tongkonan ini sudah lama direncanakan pembangunannya. Masyarakat Toraja sudah berusaha mengumpulkan biaya secara bersama-sama, tetapi dananya masih belum mencukupi. Karena lokasinya berada di Dapil IV yang saya wakili, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membantu agar pembangunan ini bisa terus berjalan,” ujar Herman Tangke.
Menurutnya, keberadaan Tongkonan memiliki makna yang jauh melampaui fungsi sebuah bangunan adat. Rumah adat itu merupakan simbol jati diri masyarakat Toraja sekaligus representasi keberagaman budaya yang tumbuh dan hidup harmonis di Kabupaten Mimika.
“Saya berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh panitia. Nantinya Tongkonan ini terbuka bagi semua masyarakat, bukan hanya orang Toraja. Bahkan saya berharap keberadaannya dapat menjadi salah satu tujuan wisata budaya yang ikut memperkaya potensi pariwisata di Kabupaten Mimika,” katanya.
Harapan itu disambut hangat oleh panitia pembangunan. Ketua Panitia Pembangunan Tongkonan, Marthen Tappi Mallisa, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Herman Tangke. Baginya, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan materi, tetapi juga suntikan semangat bagi masyarakat yang selama ini bergotong royong mewujudkan impian berdirinya Tongkonan di Mimika.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Herman Tangke yang telah menyerahkan bantuan untuk mendukung pembangunan Tongkonan. Bantuan ini sangat berarti karena masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi hingga pembangunan selesai. Kami berharap dukungan seperti ini juga datang dari berbagai pihak lainnya,” tutur Marthen.
Secara kontekstual, pembangunan Tongkonan di Kabupaten Mimika menjadi cerminan bagaimana identitas budaya tetap tumbuh di tengah masyarakat yang multietnis. Mimika dikenal sebagai daerah perjumpaan berbagai suku dan budaya dari seluruh penjuru Nusantara. Dalam konteks itu, kehadiran Tongkonan tidak hanya menjadi simbol eksistensi masyarakat Toraja, tetapi juga memperkaya mosaik kebudayaan daerah serta memperkuat nilai toleransi, persaudaraan, dan kebhinekaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat.
Panitia pembangunan optimistis, dengan dukungan pemerintah, para wakil rakyat, dan partisipasi masyarakat, pembangunan Tongkonan dapat segera diselesaikan dan difungsikan sebagai pusat pelestarian budaya, ruang kegiatan sosial, serta destinasi wisata budaya baru di Kabupaten Mimika.
Di atas tanah rantau yang mempertemukan banyak identitas, Tongkonan kelak tidak hanya akan berdiri sebagai bangunan kayu yang megah, tetapi sebagai penanda bahwa budaya tidak pernah kehilangan rumahnya. Sebab di mana pun masyarakat menjaga tradisinya, di situlah akar persaudaraan dan ingatan kolektif akan terus hidup, menghubungkan masa lalu dengan harapan masa depan.


















