TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di tengah padatnya lalu lintas dan aktivitas perkotaan, masih dijumpai anak-anak yang perlahan menjauh dari ruang kelas. Sebagian kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, sementara lainnya menghabiskan waktu di jalanan dan area parkir, menghadapi kerasnya kehidupan pada usia yang semestinya diisi dengan proses belajar dan pengembangan diri.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mimika menggelar Sosialisasi Bimbingan Sosial sebagai upaya memperkuat penanganan anak putus sekolah dan anak karton. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Horison Diana, Senin (29/6/2026), juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat terkait penanganan berbagai persoalan kesejahteraan sosial yang menyentuh keluarga penyandang disabilitas, anak terlantar, lanjut usia terlantar, gelandangan, pengemis, serta para pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Mimika, Hery Onawame, mewakili Bupati Mimika. Hadir pula Kepala Dinas Sosial Mimika Hasan Kemong, narasumber dari Sentra Gau Mabaji Makassar, serta jajaran Polres Mimika.
Dalam sambutannya, Hery Onawame menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Mimika terus berkomitmen memperkuat pelayanan kesejahteraan sosial, khususnya bagi kelompok rentan yang membutuhkan perhatian dan perlindungan negara.
“Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk hidup layak dan memperoleh perlindungan, termasuk penyandang disabilitas, anak terlantar, lanjut usia terlantar, hingga gelandangan dan pengemis. Karena itu, upaya kesejahteraan sosial harus hadir tidak hanya sebagai bantuan, tetapi juga sebagai jalan menuju kemandirian dan kehidupan yang lebih baik,” tegas Hery.
Menurutnya, bimbingan sosial merupakan instrumen penting yang tidak sekadar memberikan bantuan sesaat, melainkan membangun kemampuan individu dan keluarga untuk menghadapi persoalan sosial secara mandiri serta meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Mimika Hasan Kemong menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang bertujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai berbagai persoalan sosial, termasuk fenomena anak putus sekolah dan anak karton yang memerlukan penanganan serius dan terukur.
Hasan mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya masih melakukan pendataan terhadap anak-anak yang putus sekolah maupun anak karton di Kabupaten Mimika. Pendataan tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan strategi penanganan yang tepat sasaran.
“Kami masih melakukan pendataan terhadap anak putus sekolah dan anak karton. Setelah datanya lengkap, kami akan menentukan bentuk penanganan yang paling tepat agar program yang dijalankan benar-benar efektif,” ujar Hasan.
Ia menambahkan, Dinas Sosial akan berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam melakukan penjangkauan terhadap anak-anak yang berada di jalan. Bagi mereka yang sudah tidak lagi mengenyam pendidikan formal, pemerintah akan mengarahkan untuk mengikuti Program Sekolah Rakyat agar hak atas pendidikan tetap dapat terpenuhi.
Tak hanya itu, Hasan juga mengingatkan pentingnya peran keluarga sebagai benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai risiko sosial.
“Peran keluarga sangat penting. Kami berharap orang tua lebih peduli dan mengawasi anak-anaknya agar tidak berada di jalan, karena kondisi tersebut dapat memicu berbagai persoalan sosial,” katanya.
Fenomena anak putus sekolah dan anak karton bukan semata persoalan pendidikan, melainkan cerminan tantangan sosial yang lebih luas. Ketika seorang anak meninggalkan bangku sekolah dan menghabiskan waktunya di jalanan, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depannya, tetapi juga kualitas sumber daya manusia daerah pada masa mendatang. Karena itu, penanganannya membutuhkan pendekatan terpadu yang melibatkan pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat secara bersamaan.
Hasan menegaskan, keberhasilan program penanganan anak putus sekolah dan anak karton hanya dapat dicapai melalui kolaborasi seluruh pihak. Dengan kerja sama yang kuat, anak-anak yang saat ini berada di pinggir jalan diharapkan dapat kembali menemukan ruang belajar, harapan, dan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Pada akhirnya, setiap anak yang kembali ke ruang kelas merupakan kemenangan bagi kemanusiaan. Sebab, masa depan sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung yang menjulang, tetapi juga oleh anak-anak yang hari ini berhasil diselamatkan dari jalanan dan dikembalikan kepada cita-cita mereka.


















