BLITAR |LINTASTIMOR.ID— Di tengah riuh tafsir politik yang berlarian lebih cepat dari fakta, Megawati Soekarnoputri memilih cara yang sederhana untuk menjawab: mengingatkan publik bahwa tidak semua perbedaan harus berakhir menjadi permusuhan.
Di hadapan massa yang memenuhi ruang peringatan di Blitar, Jawa Timur, Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 Republik Indonesia itu menepis narasi tentang renggangnya hubungan dengan Presiden Prabowo Subianto. Dengan nada yang tidak meledak, tetapi cukup tegas untuk menghentikan spekulasi, Megawati menyampaikan satu kalimat yang seolah menggeser suhu politik menjadi lebih manusiawi.
«“Pak Prabowo sama saya bersahabat. Saya bukan musuh dia, itu teman saya.”»
Kalimat itu tidak datang sebagai pembelaan, melainkan seperti kenangan yang dipanggil kembali ke ruang publik.
Megawati kemudian membawa ingatan hadirin ke sebuah momen beberapa waktu lalu—peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Hari ketika kamera-kamera menangkap sesuatu yang jarang mendapat ruang dalam perdebatan politik: dua tokoh yang sering dibenturkan, berjalan berdampingan, bergandengan tangan, berbincang tanpa jarak yang dipertontonkan.
Di mata Megawati, persahabatan tidak semestinya dikalahkan oleh kompetisi politik.
Pernyataan itu menjadi penanda bahwa relasi politik tidak selalu bergerak dalam garis hitam-putih antara kawan dan lawan. Ada ruang yang lebih sunyi—tempat orang-orang tetap dapat berbeda posisi, namun tidak kehilangan penghormatan satu sama lain.Namun pidato di Blitar tidak berhenti pada soal hubungan personal.
Megawati menggeser arah pembicaraan pada denyut yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: harga kebutuhan pokok yang terasa menekan, percakapan tentang demokrasi yang terus bergerak, hingga cara negara dan warga saling berbicara.
Ia menekankan bahwa kritik kepada pemerintah bukan sesuatu yang harus ditakuti ataupun dibungkam. Kritik, menurutnya, merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, selama disampaikan melalui mekanisme yang menghormati etika, moral, dan tata hukum.
Nada itu semakin jelas ketika ia menyinggung gelombang suara mahasiswa yang belakangan menjadi perhatian publik.
Bagi Megawati, mahasiswa tetap memiliki ruang sebagai warga negara—ruang untuk bertanya, mengoreksi, dan menyampaikan pendapat tanpa kehilangan keberanian.
Demokrasi, dalam pandangan yang ia sampaikan, bukan sekadar soal siapa yang sedang memegang kekuasaan, melainkan tentang bagaimana ruang perbedaan tetap dijaga agar tidak berubah menjadi ketakutan.
Di Blitar siang itu, yang terdengar bukan sekadar bantahan atas isu keretakan.
Yang muncul adalah sebuah pengingat: bahwa politik mungkin mengubah posisi, tetapi tidak selalu harus menghapus persahabatan.


















