JAKARTA |LINTASTIMOR.ID -Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap diwarnai ambisi kekuasaan, Drs. Ayub Titu Eki, MS., Ph.D memilih jalan yang berbeda. Ia membangun kepemimpinannya dengan fondasi yang sederhana namun kokoh: iman, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dari ruang kuliah hingga kursi Bupati Kupang, perjalanan hidupnya menjadi kisah tentang bagaimana keyakinan kepada Tuhan dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab memimpin sebuah daerah.
Ayub Titu Eki bukanlah sosok yang lahir dari gelanggang politik. Ia datang dari dunia akademik. Sebelum dipercaya memimpin Kabupaten Kupang selama dua periode, ia dikenal sebagai pendidik, peneliti, dan birokrat pendidikan yang meniti karier secara bertahap.
Lahir di Fatuoni, Kabupaten Kupang, pada 5 Desember 1956, Ayub tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai disiplin dan kerja keras. Jejak pendidikannya membentang dari SD GMIT Oepula, SMP Kristen Bantuan Kupang, SMA Kristen Kupang, hingga meraih gelar Sarjana di FKIP Undana Kupang pada 1983. Semangat belajarnya membawanya melanjutkan studi magister di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada 1990, sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan doktoral di Adelaide University, Australia, pada 2003.
Perjalanan akademiknya tidak berhenti pada gelar. Untuk memperkaya kapasitas profesional, ia juga mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, termasuk Quality Management System pada November 2008.
Sebelum dikenal sebagai kepala daerah, Ayub lebih dahulu mengenal kehidupan masyarakat dari akar rumput. Ia pernah menjadi petani dan peternak pada periode 1983–1985. Pengalaman itu kemudian berpadu dengan kariernya sebagai guru SMEA, dosen FKIP Undana, dosen FKM Undana, Ketua Jurusan AKK FKM Undana, hingga dipercaya menjadi Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka Kupang pada 2004–2009.
Namun bagi Ayub, jabatan bukanlah tujuan akhir. Di balik aktivitas akademik dan birokrasi, ia aktif melayani gereja. Ia pernah mengemban tugas sebagai diaken, penatua, ketua pembangunan gereja, hingga menjadi Anggota Majelis Sinode GMIT periode 2011–2015.
Ayat yang selalu ia pegang teguh adalah Matius 6:33:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
Ayat tersebut tidak sekadar menjadi pegangan spiritual, tetapi juga filosofi hidup yang membimbing setiap langkah pengabdiannya.
Selain aktif dalam pelayanan gereja, Ayub juga berkiprah dalam organisasi kemasyarakatan. Ia pernah menjadi Ketua Umum Persehatian Orang Timor (POT) Kabupaten Kupang pada 2004 serta Wakil Ketua II POT Pusat pada tahun yang sama.
Dari Akademisi Menjadi Pemimpin Rakyat
Panggung politik Ayub Titu Eki dimulai pada Pilkada Kabupaten Kupang tahun 2008. Berpasangan dengan Viktor Jermias Tiran, mereka memperkenalkan diri kepada masyarakat dengan nama pasangan Tutor, akronim dari Titu dan Viktor.
Perjalanan menuju kemenangan tidak berlangsung mudah. Pilkada putaran pertama pada 10 Oktober 2008 belum menghasilkan pemenang karena tidak ada pasangan yang mencapai ambang dukungan yang dipersyaratkan. Putaran kedua pun digelar pada 30 Desember 2008.
Hasil pleno KPU Kabupaten Kupang yang diumumkan pada Januari 2009 menempatkan pasangan Tutor sebagai pemenang dengan perolehan 87.020 suara, mengungguli pasangan Ruben Funay dan Fritz Djubida yang memperoleh 69.092 suara.
Juru Bicara KPU Kabupaten Kupang saat itu, Immanuel Ballo, menjelaskan bahwa selisih suara kedua pasangan mencapai 17.928 suara.
“Suara sah sebanyak 156.112 dan 2.430 suara tidak sah. Selisih perolehan suara di antara kedua pasangan mencapai 17.928 suara,” ujarnya.
Kemenangan tersebut mengantarkan Ayub Titu Eki dan Viktor Jermias Tiran dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kupang pada 25 Maret 2009 untuk masa jabatan 2009–2014.
Lima tahun kemudian, kepercayaan rakyat kembali datang. Pada Pilkada 2013, Ayub Titu Eki yang berpasangan dengan Korinus Masneno berhasil memenangkan kontestasi dalam satu putaran dengan perolehan 63.229 suara atau 44,10 persen. Kemenangan itu menandai berlanjutnya kepemimpinannya hingga 2018.
Pemimpin yang Percaya pada Kekuatan Doa
Bagi banyak orang, Ayub Titu Eki dikenang bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena karakter kepemimpinannya.
Tokoh Kristiani sekaligus Ketua Yayasan Apostel Bangun Bangsa (ABB), Pdt. DR. Sarah Fifi, S.Th., M.Si., menilai Ayub sebagai figur pemimpin yang menjadikan iman sebagai fondasi dalam menjalankan pemerintahan.
“Ayub Titu Eki adalah kepala daerah yang ingin daerahnya makmur, damai sejahtera, dan jauh dari korupsi. Tokoh yang antikorupsi inilah yang dibutuhkan Indonesia,” ujarnya.
Menurut Sarah Fifi, Ayub memiliki keyakinan kuat bahwa pemulihan sebuah daerah harus dimulai dari pemulihan rohani masyarakatnya.
“Dia giat berdoa dan meminta kepada Tuhan agar daerahnya mendapatkan pemulihan kerohanian. Karena imannya bahwa doa kepada Tuhan mampu memulihkan sebuah daerah atau negeri agar diberkati Tuhan. Beliau adalah tokoh Kristen yang mampu menginspirasi dan memotivasi rakyat,” tuturnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Dr. Ir. Retno Sumekar, M.Sc., yang menulis tentang Ayub dalam buku Menabur Gagasan Menuju Perubahan Drastis.
“Saya mencermati, beliau seorang pemimpin yang humble, baik karakter maupun sikapnya. Tegas, welas asih, dan mengayomi seluruh warga masyarakat, khususnya warga NTT,” tulisnya.
Jejak Kepemimpinan dan Warisan Nilai
Di tengah banyaknya kepala daerah yang dinilai melalui angka pembangunan semata, Ayub Titu Eki menghadirkan dimensi lain dalam kepemimpinan: pembangunan karakter dan spiritualitas masyarakat. Ia berusaha memadukan kapasitas akademik, pengalaman birokrasi, nilai-nilai religius, serta pendekatan humanis dalam menjalankan roda pemerintahan. Itulah yang membuat namanya tidak hanya dikenang sebagai pejabat publik, tetapi juga sebagai figur moral di tengah masyarakat.
Pengakuan atas kiprahnya datang dari berbagai kalangan. Bersama 20 tokoh lainnya, Ayub Titu Eki menerima penghargaan “21 Tokoh Kristiani Versi Majalah Narwastu” yang dikukuhkan pada 12 Januari 2018 di Gedung Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), Menteng, Jakarta Pusat.
Kini, jejak pengabdiannya menemukan babak baru melalui generasi berikutnya. Putrinya, Aurum Obe Titu Eki, mencatat sejarah sebagai perempuan pertama sekaligus pemimpin termuda yang menjabat Wakil Bupati Kupang sejak kabupaten tersebut berdiri pada 1958. Dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025, Aurum mendampingi Bupati Yosef Lede memimpin Kabupaten Kupang yang berpenduduk lebih dari 350 ribu jiwa.
Kisah Ayub Titu Eki pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang seorang bupati dua periode. Ini adalah kisah tentang seorang anak kampung yang menempuh jalan ilmu, melayani melalui iman, dan memimpin dengan hati. Ketika jabatan telah usai dan masa kekuasaan berlalu, yang tersisa adalah jejak nilai yang ditanamkan kepada masyarakat—bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal memerintah, melainkan tentang menghadirkan harapan, keteladanan, dan keyakinan bahwa Tuhan tetap menjadi kompas dalam setiap pengabdian.


















