JAKARTA |LINTASTIMOR.ID- Pemerintah Daerah Kabupaten Belu,Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste kembali menorehkan kebanggaan di panggung nasional. Di tengah berbagai tantangan penanggulangan bencana yang semakin kompleks, nama Kepala Pelaksana BPBD Belu, drg. Maria Ansilla F. Eka Mutty, tampil bersinar sebagai simbol keteguhan, kecerdasan, dan kepemimpinan yang lahir dari pengabdian panjang untuk rakyat.
Mantan Kepala Dinas Kesehatan Belu itu sukses meraih Juara 1 Senior Disaster Management Training (SDMT) Angkatan III Tahun 2026, mengungguli 68 Kepala Pelaksana BPBD tingkat provinsi, kabupaten, dan kota dari seluruh Indonesia.
Prestasi prestisius tersebut diumumkan pada penutupan pendidikan dan pelatihan di Balai Diklat BNPB Citeureup, Bogor, Jawa Barat, setelah para peserta menjalani pelatihan intensif selama 12 hari, sejak 4 hingga 16 Mei 2026.
Penghargaan itu diberikan langsung oleh Kepala Pusdiklat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr. Kheriawan Khair, dan ditandatangani Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M.
Namun kemenangan ini bukan sekadar tentang trofi dan sertifikat.
Di balik capaian itu, ada kerja sunyi tentang bagaimana sebuah daerah perbatasan seperti Belu mampu menunjukkan kapasitas penanggulangan bencana yang matang, cepat, dan terukur di mata nasional.
Predikat terbaik yang diraih drg. Ansilla dinilai berdasarkan berbagai indikator penting, mulai dari catatan kinerja BPBD Belu dalam penanggulangan bencana, ketajaman analisa situasi, kemampuan mengambil keputusan cepat dalam kondisi krisis, hingga kematangan kepemimpinan dalam membangun tim kerja yang solid dan efektif.
Pelatihan SDMT sendiri merupakan program strategis nasional yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan para pimpinan BPBD di seluruh Indonesia.
Selama mengikuti pelatihan, para peserta digembleng dengan berbagai materi komprehensif, simulasi lapangan, hingga praktik penanganan situasi darurat secara nyata.
“Melalui program ini, para pimpinan diharapkan siap memegang komando penuh dan mengambil keputusan taktis secara cepat saat krisis terjadi. Selama masa pelatihan intensif tersebut kami bersama peserta lainnya dibekali materi komprehensif dan simulasi praktik nyata,” ungkap Ansilla.
Ia menjelaskan, fokus utama pembelajaran meliputi penguatan sistem penanggulangan bencana nasional, crisis leadership, pengelolaan informasi dan komunikasi publik, hingga manajemen logistik dan peralatan darurat.
Bagi Ansilla, penghargaan ini bukan kemenangan pribadi.
Ia menyebut keberhasilan tersebut lahir dari dukungan pemerintah daerah, solidaritas tim BPBD Belu, serta semangat pelayanan yang terus dijaga di lapangan.
╔══════════ ❀🤍❀ ══════════╗
“Prestasi ini untuk memperkuat solidaritas dan kapasitas tim di lapangan, sehingga sistem komando dan penanggulangan bencana di Kabupaten Belu berjalan lebih taktis.”
— drg. Maria Ansilla F. Eka Mutty
╚══════════ ❀🤍❀ ══════════╝
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Belu yang telah memberikan dukungan dan izin untuk mengikuti pelatihan strategis tersebut.
Di tengah riuh tepuk tangan penutupan diklat nasional itu, nama Belu ikut disebut dengan penuh hormat.
Dari daerah perbatasan di Timur Indonesia, seorang perempuan berdiri membawa nama daerahnya dengan kepala tegak—membuktikan bahwa kepemimpinan tidak lahir dari gemerlap kota besar, melainkan dari keberanian untuk tetap hadir ketika rakyat membutuhkan perlindungan paling nyata: keselamatan.


















