KUPANG | LINTASTIMOR.ID — Siang itu, langit di atas Kelurahan Naikoten I mendadak berubah muram. Angin bertiup kencang membawa aroma hangus yang perlahan memenuhi gang-gang kecil di RT009/RW004, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Dari sebuah rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh anak-anak yatim dan terlantar, kobaran api menjulang liar, melahap atap, dinding, dan kenangan dalam hitungan menit.
Panti Asuhan Guardian Holy Angel, rumah kasih milik para suster dari ordo Canonici Regulares a Jesu Domino (CJD), Rabu siang (13/5/2026) sekitar pukul 14.30 WITA, berubah menjadi lautan api. Diduga, petaka itu dipicu korsleting listrik dari meteran yang kemudian merambat cepat melalui kabel dan plafon rumah yang mudah terbakar.
Di tengah jerit kepanikan, lonceng duka seakan berdentang dari balik asap hitam yang membubung tinggi ke langit Kupang.
Warga berhamburan. Sebagian berteriak meminta air. Sebagian lain memecahkan konsentrasi dengan menyelamatkan anak-anak dan para suster yang masih berada di dalam bangunan.
Yustus Lamaleta, warga Naikoten I, masih mengingat jelas detik-detik pertama api muncul. Suaranya pelan, tetapi matanya menyimpan getar yang belum reda.
╔══════════════ ❁ ❁ ❁ ══════════════╗
“Percikan api terlihat dari kabel di meteran listrik. Api lalu naik ke plafon dan cepat sekali membesar. Untung warga langsung masuk menyelamatkan para suster dan anak-anak panti.”
— Yustus Lamaleta
╚══════════════ ❁ ❁ ❁ ══════════════╝
Menurut Yustus, saat kejadian seluruh penghuni panti berada di dalam rumah. Namun takdir seolah masih menyisakan ruang keselamatan. Banyak warga sedang berada di sekitar lokasi karena menghadiri prosesi pemakaman, sehingga pertolongan datang lebih cepat daripada kobaran api meluas sepenuhnya.
Anak-anak digendong keluar. Barang-barang dilemparkan melalui jendela. Kendaraan didorong ke jalan. Teriakan bercampur doa memenuhi udara.
Di sela kepulan asap, beberapa warga tampak masuk kembali ke bangunan yang mulai menghitam demi menyelamatkan pakaian dan perlengkapan milik penghuni panti.
Steven Pello (51), salah seorang warga yang ikut membantu evakuasi, mengaku nekat masuk meski asap sudah memenuhi ruangan.
╔══════════════ ❁ ❁ ❁ ══════════════╗
“Saya masuk saat rumah masih penuh asap. Pakaian dan barang-barang yang ada di depan langsung saya angkat keluar. Api bergerak sangat cepat dari bagian depan melalui plafon.”
— Steven Pello
╚══════════════ ❁ ❁ ❁ ══════════════╝
Angin siang yang berembus keras membuat api seperti menemukan jalannya sendiri. Dalam waktu singkat, jilatan merah itu menelan hampir seluruh bangunan panti yang selama ini menjadi rumah bagi 18 anak.
Di antara keramaian dan suara sirene, seorang remaja bernama Yanse Lasa (16) berdiri memandangi puing-puing yang perlahan mulai menghitam. Matanya kosong. Bibirnya gemetar saat mengingat bagaimana api pertama kali terlihat.
╔══════════════ ❁ ❁ ❁ ══════════════╗
“Api pertama kali terlihat dari kamar depan. Ada kasur yang terbakar di dalam.”
— Yanse Lasa, penghuni panti
╚══════════════ ❁ ❁ ❁ ══════════════╝
Yanse mengatakan, panti tersebut dihuni 18 anak, terdiri dari enam perempuan dan sisanya laki-laki. Beruntung, seluruh penghuni berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Pantauan di lokasi, dua unit mobil pemadam kebakaran Kota Kupang bersama satu truk tangki berjibaku memadamkan api yang terus berkobar di tengah hembusan angin. Sirene meraung panjang, sementara warga berdiri mematung menyaksikan rumah kasih itu perlahan runtuh oleh bara.
Kapolsek Kota Raja, AKP Frids Mada, bersama anggota kepolisian turut berada di lokasi untuk membantu proses pengamanan dan penanganan kebakaran.
Sore itu, yang tersisa bukan hanya arang dan asap. Ada doa-doa yang menggantung di udara. Ada air mata anak-anak yang kehilangan tempat pulang. Dan ada sunyi panjang yang sulit dijelaskan kata-kata.
Di rumah yang biasa dipenuhi tawa, nyanyian doa, dan langkah kecil anak-anak, kini hanya terdengar desir angin yang meniup sisa abu.
Namun di balik tragedi itu, warga Kota Kupang menunjukkan satu hal yang tak ikut terbakar: kemanusiaan.


















