PAPUA |LINTASTIMOR.ID — Sunyi rimba Papua kembali menyimpan kisah tentang pertarungan yang tidak hanya menyangkut keamanan negara, tetapi juga masa depan generasi muda di ufuk timur Indonesia. Di tengah hutan lebat Pegunungan Bintang, langkah-langkah prajurit TNI menyusuri jalur terjal, menembus semak dan dinginnya pedalaman, memburu ancaman yang perlahan tumbuh di tanah Papua: narkoba.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Pangkogabwilhan III), Letjen TNI Lucky Avianto, menegaskan bahwa peredaran dan budidaya ganja di Papua merupakan ancaman serius terhadap kehidupan sosial masyarakat dan masa depan anak-anak Papua.
Pernyataan itu disampaikan setelah Satgas TNI berhasil mengungkap dua ladang ganja siap panen di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
Dalam keterangannya, Letjen TNI Lucky Avianto menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang miris dan ironis.
╔═══════════════════════════════🌸
“Di saat mama-mama Papua berjuang menjaga anak-anak mereka dari bahaya narkoba di tanah kelahirannya, KKB/TPNPB-OPM justru menanam racun narkoba di tanah yang sama.”
🌸═══════════════════════════════╝
Ia menegaskan bahwa langkah pemberantasan narkoba tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang dalam poin ketujuh Asta Cita menekankan perang total terhadap peredaran narkotika demi menyelamatkan generasi bangsa.
Merespons instruksi tersebut, Satgas TNI bergerak melakukan penyisiran di kawasan hutan Papua setelah adanya laporan masyarakat Desa Ngutok, Distrik Oksibil, terkait dugaan aktivitas ilegal di sekitar wilayah mereka.
Didampingi Asintel Brigjen TNI BM Tanjung, Asops Brigjen TNI Patar Sitorus, Askomlek Laksma TNI Syahrial, serta personel TNI bersenjata lengkap, Letjen TNI Lucky Avianto turun langsung melakukan penyisiran di pedalaman Papua.
Dari lokasi pertama di sekitar Desa Ngutok, Satgas menemukan 55 batang pohon ganja setinggi sekitar 1,5 meter yang siap panen. Penyisiran kemudian dilanjutkan hingga ditemukan 80 batang ganja lainnya di kawasan hutan sekitar desa tersebut.
Langkah prajurit TNI tidak berhenti di situ. Mereka terus bergerak masuk lebih jauh ke dalam belantara Papua untuk memastikan tidak ada ladang serupa yang luput dari pengawasan.
╔═══════════════════════════════🌸
“Bagi TNI, langkah ini bukan sekadar tugas, tetapi perjalanan kemanusiaan untuk menyelamatkan generasi muda dari jerat narkoba.”
🌸═══════════════════════════════╝
Pengungkapan berikutnya dilakukan di kawasan hutan sekitar Desa Esipding, Distrik Serambakon. Di lokasi kedua ini, personel TNI menemukan 81 batang pohon ganja setinggi dua meter.
Secara keseluruhan, Satgas TNI mengamankan 216 batang pohon ganja beserta dua orang tersangka berinisial L-U dan C-U yang kemudian diserahkan ke Polsek terdekat untuk menjalani proses hukum.
Menurut Letjen TNI Lucky Avianto, temuan tersebut diyakini baru sebagian kecil dari persoalan yang lebih besar. Ia menyebut terdapat indikasi kuat bahwa ladang-ladang ganja lain masih tersebar di pedalaman Papua.
Ia juga menegaskan bahwa narkoba bukan sekadar persoalan hukum, melainkan ancaman terhadap masa depan bangsa dan ketahanan nasional.
╔═══════════════════════════════🌸
“Papua adalah tanah harapan. Jangan biarkan narkoba meluluhlantakkan harapan dan cita-cita luhur anak-anak kita.”
🌸═══════════════════════════════╝
Pangkogabwilhan III menekankan bahwa perang melawan narkoba tidak dapat dilakukan TNI sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa di Tanah Papua.
Analisis Kontekstual
Pengungkapan ladang ganja di wilayah pedalaman Papua menunjukkan bahwa ancaman narkotika kini mulai menyentuh kawasan-kawasan terpencil yang sebelumnya sulit terjangkau pengawasan aparat. Dalam konteks Papua, persoalan narkoba menjadi sangat sensitif karena berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda, stabilitas sosial, dan ketahanan masyarakat adat. Keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi kepada aparat menunjukkan bahwa perang melawan narkoba membutuhkan kolaborasi antara negara dan rakyat untuk mencegah kerusakan sosial yang lebih luas.
Di tengah heningnya rimba Papua, perang itu kini bukan hanya tentang menjaga batas negara.
Tetapi juga menjaga mimpi anak-anak Papua agar tetap tumbuh bersih di tanah kelahirannya sendiri.


















