Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Hukum & KriminalNasionalPeristiwaPolkam

Dikejar di Ujung Hutan, Dilumpuhkan di Titik Pelarian: Negara Menjawab di Timika

52
×

Dikejar di Ujung Hutan, Dilumpuhkan di Titik Pelarian: Negara Menjawab di Timika

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA| LINTASTIMOR.ID — Pagi itu belum genap tinggi ketika langkah pelarian bertemu dengan batasnya. Di kawasan SP 2, Timika, Minggu (26/4/2026) pukul 10.56 WIT, seorang pria yang lama diburu akhirnya tak lagi punya ruang untuk menghilang. Hutan yang selama ini menjadi pelindung, berubah menjadi saksi—bahwa hukum, pada waktunya, akan menemukan jalannya.

Personel Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 sektor Timika berhasil mengamankan seorang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) berinisial TJ alias K alias AW. Ia bukan nama baru dalam catatan aparat. Statusnya sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) tertuang dalam Surat Nomor: DPO/S-34/01/II/2026/Reskrim, terkait kasus penembakan terhadap warga sipil, Ahmad Gunawan, pada 12 Februari 2026 di pertigaan Puskesmas Ilu, Kabupaten Puncak Jaya—peristiwa yang merenggut nyawa dan meninggalkan duka.

Example 300x600

Penindakan dilakukan bukan dalam sekejap, melainkan melalui jejak panjang pemantauan dan pengintaian di lapangan. Ketika titik keberadaan teridentifikasi, tim bergerak. Namun, seperti yang kerap terjadi, pelarian menjadi pilihan terakhir.

╔════════════════════════════════════╗
🌿 “Saat akan diamankan, pelaku melawan petugas dan mencoba melarikan diri ke arah hutan di sekitar lokasi, sehingga petugas melakukan pengejaran dan memberikan tindakan tegas dan terukur yang mengenai bagian kaki sebelah kiri pelaku.”
— Kombes Pol. Yusuf Sutejo
╚════════════════════════════════════╝

Tembakan itu bukan untuk mengakhiri, tetapi untuk menghentikan. Pelaku dilumpuhkan di bagian kaki kiri, lalu diamankan dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Timika untuk mendapatkan penanganan medis sebelum menjalani proses hukum lebih lanjut.

Dari hasil pendalaman, TJ diketahui merupakan bagian dari kelompok KKB Mewoluk pimpinan Ternus Enumbi—kelompok yang selama ini bergerak dinamis, berpindah dari Puncak Jaya, Beoga, Intan Jaya hingga Mimika. Mobilitas itu bukan sekadar strategi bertahan, tetapi juga upaya menghindari pengejaran dan mencari tambahan senjata serta amunisi.

Kepala Operasi Damai Cartenz-2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa penangkapan ini adalah bagian dari komitmen yang tak bisa ditawar: hukum harus berdiri, dan masyarakat harus dilindungi.

╔════════════════════════════════════╗
🌿 “Penangkapan terhadap DPO ini menunjukkan keseriusan kami dalam menjaga keamanan serta memberikan perlindungan kepada masyarakat. Setiap pelaku tindak kekerasan akan diproses secara profesional sesuai hukum yang berlaku.”
— Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani
╚════════════════════════════════════╝

Sementara itu, Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol. Adarma Sinaga, mengingatkan bahwa stabilitas keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama.

╔════════════════════════════════════╗
🌿 “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang serta mendukung aparat dengan memberikan informasi yang akurat. Peran serta masyarakat sangat penting dalam menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif.”
— Kombes Pol. Adarma Sinaga
╚════════════════════════════════════╝

Secara kontekstual, penangkapan ini memperlihatkan pola yang konsisten dalam dinamika konflik bersenjata di Papua: kelompok-kelompok kecil dengan mobilitas tinggi, memanfaatkan medan geografis sebagai perlindungan, sementara aparat mengandalkan intelijen dan operasi terukur untuk menutup ruang gerak. Di titik ini, keberhasilan penindakan tidak hanya diukur dari penangkapan, tetapi juga dari seberapa jauh kehadiran negara mampu memutus rantai kekerasan yang berulang.

Langkah Strategis yang Perlu Diperkuat:

  • Penguatan intelijen berbasis wilayah, untuk memetakan pergerakan kelompok secara lebih presisi.
  • Pendekatan preventif berbasis masyarakat, membangun kepercayaan agar informasi mengalir tanpa rasa takut.
  • Pengamanan berlapis di wilayah rawan, guna menutup ruang mobilitas kelompok bersenjata.
  • Penegakan hukum yang konsisten dan transparan, agar keadilan tidak hanya ditegakkan, tetapi juga dirasakan.
  • Sinergi pembangunan dan keamanan, menghadirkan negara tidak hanya lewat senjata, tetapi juga kesejahteraan.

Pada akhirnya, peristiwa di SP 2 Timika ini bukan sekadar tentang satu orang yang tertangkap. Ia adalah pengingat bahwa di antara rimba dan sunyi, negara terus berjalan—mencari, mengejar, dan menjaga—agar rasa aman bukan hanya janji, tetapi kenyataan yang benar-benar sampai ke hati masyarakat.

Example 300250