Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalInternasionalNasionalPeristiwa

Dari Lebanon Selatan Untuk Indonesia, Tiga Prajurit Gugur, Dunia Berduka Dalam Hening

49
×

Dari Lebanon Selatan Untuk Indonesia, Tiga Prajurit Gugur, Dunia Berduka Dalam Hening

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LEBANON SELATAN | LINTASTIMOR.ID — Langit Beirut sore itu seakan menahan napas. Di dalam hanggar Lebanese Air Force, tiga peti jenazah berbalut kehormatan berdiri dalam diam—namun berbicara lebih lantang dari ribuan kata. Dunia berkumpul, bukan untuk merayakan kemenangan, melainkan untuk memberi salam terakhir kepada mereka yang gugur demi perdamaian.

Mereka adalah Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon—tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengakhiri pengabdian mereka di tanah jauh, Lebanon Selatan, dalam misi mulia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Example 300x600

Upacara Memorial Service yang digelar oleh United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pada Kamis, 2 April 2026 pukul 16.00 waktu setempat berlangsung dalam kesunyian yang sarat makna. Setiap langkah pasukan, setiap denting protokol militer, hingga setiap doa yang terlantun—menjadi bahasa universal tentang kehilangan dan kehormatan.

Dipimpin langsung oleh Force Commander sekaligus Head of Mission UNIFIL, Mayor Jenderal Diodato Abagnara, upacara ini turut dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon beserta jajaran KBRI, Atase Pertahanan RI di Kairo, perwakilan United Nations Headquarters New York, serta unsur militer Lebanon dan kontingen internasional. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan penegasan bahwa pengorbanan tiga prajurit Indonesia diakui oleh dunia.

Prosesi berjalan khidmat dan penuh disiplin militer: dari penghantaran peti jenazah, pembacaan riwayat hidup, doa, hingga penganugerahan medali kehormatan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lebanese Armed Forces (LAF) secara anumerta. Karangan bunga diletakkan satu per satu—seolah setiap kelopak adalah ucapan terima kasih yang tak terucap.

“Pengorbanan mereka adalah cahaya dalam gelap konflik. Mereka datang sebagai penjaga damai, dan pulang sebagai pahlawan yang dihormati dunia. Dedikasi mereka akan selalu hidup dalam setiap langkah misi perdamaian yang dilanjutkan oleh generasi berikutnya.”

Dalam momen paling menggetarkan, Force Commander UNIFIL secara simbolis menyematkan scarf PBB pada peti jenazah serta menyampaikan belasungkawa langsung kepada seluruh kontingen Indonesia yang hadir. Upacara juga melibatkan unsur pasukan gabungan, termasuk satu satuan setingkat peleton Infanteri dan Polisi Militer Lebanon, unsur korsik, serta pasukan Kontingen Garuda (Konga).

UNIFIL dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa ketiga prajurit tersebut gugur saat menjalankan tugas pada 29 dan 30 Maret 2026 di Lebanon Selatan—sebuah fakta yang mempertegas bahwa misi perdamaian bukan tanpa risiko, melainkan jalan sunyi yang sering kali dibayar dengan nyawa.

Secara kontekstual, gugurnya prajurit TNI dalam misi internasional kembali mengingatkan dunia bahwa Indonesia bukan sekadar pengirim pasukan, tetapi aktor aktif dalam menjaga stabilitas global. Di tengah dinamika konflik kawasan Timur Tengah yang kompleks, kehadiran Kontingen Garuda menjadi simbol komitmen diplomasi damai Indonesia—sebuah peran yang menempatkan prajuritnya di garis paling depan antara harapan dan bahaya.

Upacara ditutup dengan penghormatan militer, mengheningkan cipta, dan pengantaran kembali jenazah—sebuah perjalanan pulang yang tidak lagi diiringi langkah hidup, tetapi diiringi doa dari seluruh penjuru dunia.

Di ujung senja Beirut, dunia belajar satu hal: bahwa perdamaian tidak pernah lahir dari kata-kata semata—ia tumbuh dari pengorbanan, dari keberanian, dan dari mereka yang rela gugur tanpa pernah meminta dikenang.

 

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id/Puspen TNIEditor: Agustinus Bobe