Mappi tidak hanya tentang rawa, sungai, dan jejak-jejak perahu di pagi hari. Senin itu, di halaman , harapan sedang dimasak perlahan—bukan di atas tungku kayu, melainkan di dalam gagasan besar bernama Makanan Bergizi Gratis.
MAPPI |LINTASTIMOR.ID — Udara pagi masih menyisakan embun ketika para orang tua melangkah masuk ke aula sekolah. Kursi-kursi tertata sederhana. Di wajah mereka, ada rasa ingin tahu, ada pula harap yang diam-diam tumbuh. Di hadapan mereka, menggelar sosialisasi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Senin (2/3/2026).
Acara itu bukan sekadar pertemuan formal. Ia menjelma ruang dialog tentang masa depan anak-anak Mappi.
Hadir dalam forum tersebut perwakilan , tenaga ahli gizi, unsur Dinas Pendidikan, serta Kepala SMK Negeri 1 Obaa. Mereka duduk berdampingan dengan para orang tua—sebuah simbol bahwa urusan gizi bukan hanya tugas negara, melainkan tanggung jawab bersama.
Perwakilan Pengurus Yayasan, Rosita Adriyanti, S.E, berdiri dengan suara tenang namun tegas. Ia tak berbicara tentang angka-angka statistik semata, melainkan tentang anak-anak yang butuh energi untuk bermimpi.
╔══════════════════════════════════╗
“MBG tidak sekadar memberi makan dalam jumlah banyak.
Ia memberi asupan gizi seimbang—
karena yang kita bangun bukan hanya tubuh,
tetapi masa depan.”
╚══════════════════════════════════╝
Di ruangan itu, kalimat tersebut menggantung, meresap, lalu perlahan menemukan maknanya sendiri di benak setiap orang tua.
Rosita menjelaskan, yayasan akan beroperasi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat—mulai dari pengelolaan dapur, pemilihan bahan pangan, hingga keamanan makanan. Tidak ada ruang bagi kelalaian ketika yang dipertaruhkan adalah kesehatan generasi muda.
Ia memaparkan bahwa MBG dirancang untuk meningkatkan fokus belajar, memenuhi kebutuhan gizi seimbang guna mencegah stunting, serta memperkuat daya tahan fisik anak-anak sekolah.
Namun lebih dari itu, program ini juga menyentuh nadi ekonomi lokal. Bahan pangan akan diprioritaskan dari produk-produk daerah. Sayur dari kebun warga. Ikan dari perairan sekitar. Pangan lokal menjadi tulang punggung menu harian.
╔══════════════════════════════════╗
“Kami mengutamakan pangan lokal.
Bukan hanya untuk mengisi perut anak-anak,
tetapi untuk menggerakkan ekonomi kampung sendiri.”
╚══════════════════════════════════╝
Sosialisasi itu menjadi ruang kesepahaman. Orang tua mengangguk, beberapa mengangkat tangan bertanya. Dialog mengalir hangat. Tidak ada sekat antara penyelenggara dan wali murid. Yang ada hanya kesadaran bahwa gizi adalah investasi jangka panjang.
Di luar aula, anak-anak berlarian di lapangan. Mereka mungkin belum memahami istilah “program nasional” atau “ketahanan pangan”. Namun mereka tahu rasa lapar. Dan mereka tahu rasanya ketika tubuh kuat dan pikiran jernih.
Program MBG yang digalakkan pemerintah pusat ini memang dirancang untuk menjawab dua persoalan sekaligus: kesehatan generasi muda dan perputaran ekonomi daerah. Di Mappi, langkah kecil itu kini mulai ditapakkan.
Rosita menutup sosialisasi dengan ajakan kolaboratif.
╔══════════════════════════════════╗
“Mari kita berjalan bersama.
Meningkatkan status gizi,
menguatkan konsentrasi belajar,
dan menjaga kesehatan fisik anak-anak kita—
agar Mappi melahirkan generasi emas
yang sehat, cerdas, dan bermartabat.”
╚══════════════════════════════════╝
Senin itu, yang dibagikan bukan sekadar informasi.
Yang dibagikan adalah keyakinan—
bahwa masa depan bisa dimulai dari sepiring makanan yang layak.


















