ATAMBUA| LINTASTIMOR.ID – Hujan yang turun berhari-hari di wilayah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI – Timor Leste meninggalkan jejak luka pada infrastruktur jalan. Di Raikuwak Wain, ruas Halilulik–Laktutus tampak tergerus longsor, tanahnya runtuh perlahan seolah menahan beban alam yang terlalu berat.
Di tempat itulah, pada Jumat (06/03/2026), Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves, S.T berdiri menatap langsung kondisi jalan yang rusak, memastikan langkah penanganan segera digelar.
Peninjauan tersebut turut dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Belu Theodorus Manehitu Djuang, Ketua Komisi II DPRD Edmundus Yakobus Manek, Plt. Kepala Dinas PUPR Kabupaten Belu Ferdinand Hale Kin, ST, serta Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Vincensius Kurniawan Laka, ST.
Rombongan menyusuri ruas jalan yang terdampak longsor di wilayah Kecamatan Nanaet Duabesi itu setelah beberapa pekan terakhir Kabupaten Belu dilanda hujan dengan intensitas cukup tinggi yang menyebabkan sejumlah infrastruktur jalan mengalami kerusakan.
Di hadapan para pejabat daerah dan masyarakat setempat, Wakil Bupati Vicente menjelaskan bahwa peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kondisi lapangan sekaligus menentukan langkah penanganan cepat agar aktivitas masyarakat tidak terganggu.
╔════════════════════════════════════╗
“Hari ini kita melakukan pemantauan karena beberapa minggu terakhir di Kabupaten Belu terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi sehingga banyak ruas jalan mengalami kerusakan. Tadi juga kita melewati wilayah Wedomu, ada deuker yang sudah rubuh akibat banjir.”
— Vicente Hornai Gonsalves
╚════════════════════════════════════╝
Ia menegaskan bahwa langkah yang paling memungkinkan saat ini adalah melakukan penanganan darurat terlebih dahulu agar akses transportasi masyarakat tetap terbuka dan tidak terputus.
Menurutnya, ruas jalan Halilulik–Laktutus memang memiliki karakteristik tanah yang rawan longsor, terutama ketika musim hujan datang dengan curah hujan tinggi.
╔════════════════════════════════════╗
“Untuk ruas jalan ini memang membutuhkan penanganan khusus karena kontur tanahnya mudah longsor. Biaya yang dibutuhkan juga cukup besar, sehingga kami berharap masyarakat dapat memahami kondisi keuangan daerah yang saat ini juga terdampak kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat.”
— Vicente Hornai Gonsalves
╚════════════════════════════════════╝
Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati juga menginstruksikan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat untuk bergotong-royong membantu penanganan darurat di lokasi terdampak. Ia mengapresiasi langkah cepat masyarakat dan pihak gereja yang lebih dahulu mengambil inisiatif membantu perbaikan sementara.
╔════════════════════════════════════╗
“Tadi Pater juga menyampaikan bahwa bersama umat mereka sudah bergerak melakukan penanganan darurat. Ini sangat luar biasa dan kami sangat berterima kasih atas inisiatif tersebut.”
— Vicente Hornai Gonsalves
╚════════════════════════════════════╝
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Belu Theodorus Manehitu Djuang menegaskan bahwa DPRD sebagai mitra pemerintah daerah akan mendorong percepatan penanganan kerusakan jalan tersebut. Ia bahkan meminta Plt. Kepala Dinas PUPR agar segera mengambil langkah cepat dalam penanganan darurat.
╔════════════════════════════════════╗
“Sebagai mitra pemerintah, tadi saya sudah menyampaikan kepada Plt Kadis PUPR agar segera mengatasi masalah ini paling lambat besok.”
— Theodorus Manehitu Djuang
╚════════════════════════════════════╝
Ia mengakui bahwa penanganan kerusakan ini tidaklah mudah karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun langkah darurat tetap harus dilakukan sebelum penanganan permanen direncanakan melalui proses penganggaran.
╔════════════════════════════════════╗
“Sejujurnya penanganan ini cukup berat, tetapi akan dilakukan penanganan darurat terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan penanganan permanen. Kami di DPRD juga akan berdiskusi terkait penganggarannya dan memperjuangkan usulan dari dinas teknis agar bisa ditangani secepatnya.”
— Theodorus Manehitu Djuang
╚════════════════════════════════════╝
Secara kontekstual, kerusakan jalan akibat curah hujan tinggi yang terjadi di sejumlah wilayah Belu menunjukkan betapa rentannya infrastruktur di daerah dengan kontur tanah labil. Dalam kondisi seperti ini, sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, serta partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar akses transportasi tetap terjaga, terutama bagi warga yang bergantung pada jalur tersebut untuk aktivitas ekonomi dan pelayanan publik.
Di Raikuwak Wain, tanah yang longsor mungkin hanya tampak sebagai retakan di tubuh jalan. Namun bagi masyarakat di baliknya, jalan itu adalah urat nadi kehidupan—penghubung kampung, pasar, sekolah, dan harapan yang terus berjalan bersama roda pembangunan.


















