Scroll untuk baca artikel
Dirgahayu Indonesia 80
Example 728x250
Hukum & KriminalNasionalPeristiwa

Umar, Pemuda Sukabumi yang Gugur di Jalanan Ibu Kota

263
×

Umar, Pemuda Sukabumi yang Gugur di Jalanan Ibu Kota

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

JAKARTA|

Example 300x600

LINTASTIMOR.ID]-
Malam itu, Kamis (28/8/2025), Jakarta diguyur riuh. Jalan Penjernihan, Jakarta Pusat, dipenuhi teriakan massa dan deru kendaraan taktis. Di tengah kerumunan itu, seorang anak muda berjaket hijau—seragam para pengemudi ojek online—jatuh tersungkur. Namanya Moh. Umar Amarudin, lahir di Sukabumi, 19 Agustus 1995.

Ia bukan orator di barisan demonstran. Ia bukan pula aparat bersenjata. Umar hanyalah seorang anak bangsa yang mencari nafkah, menggenggam setir motor sebagai jalan hidup. Namun, takdir membawanya bertemu dengan sebuah mobil Brimob yang melaju. Tubuhnya terhenti, lalu terlindas.

Rekaman peristiwa itu menebar merinding. Mobil sempat berhenti sesaat, seolah ragu, lalu melaju kembali. Umar tak lagi berdiri. Sejenak, keramaian berubah hening—hening yang penuh getir.


Jejak Duka dari Sukabumi

KTP lusuh yang ditemukan di saku jaketnya memperkenalkan Umar kepada dunia. Dari Kampung Sukamukti, Cikidang, Sukabumi, ia merantau dengan harapan sederhana: hidup lebih baik, menghidupi keluarga, dan menjaga harga diri sebagai lelaki pekerja keras.

Kini, KTP itu menjadi saksi bisu. Nama, alamat, dan wajahnya di selembar plastik berwarna biru mendadak viral, diiringi tangisan warganet yang ikut berduka.

“Abang kami telah gugur. Semoga jasadnya pulang dengan selamat, dan doa kami menyertai langkah terakhirnya menuju rumah,” tulis seorang rekannya di media sosial.


Kapolri Turut Berduka

Kabar Umar sampai ke telinga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dengan nada penuh sesal, ia menyampaikan permintaan maaf.

“Saya menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas peristiwa pelindasan kendaraan taktis Brimob terhadap seorang pengemudi ojek online. Kami menyesali kejadian ini, dan Divisi Propam Polri sudah diperintahkan untuk melakukan penanganan lebih lanjut,” ujar Kapolri.

Namun, permintaan maaf tak mampu mengembalikan nyawa. Umar tetaplah nama yang kini dikenang, bukan dipanggil.


Dua Luka di Malam Ricuh

Malam itu tak hanya Umar yang jadi korban. Seorang anggota Polri dilaporkan kritis akibat bentrokan di sekitar DPR. Kadiv Propam Polri Irjen Pol Abdul Karim membenarkan hal tersebut.

“Anggota Polri yang dirawat saat ini ada satu yang kritis. Saat ini tengah mendapat penanganan di RS Kramat Jati,” katanya.

Dua luka, dua cerita. Satu dari rakyat, satu dari aparat. Jakarta menuliskan duka ganda di malam yang sama.


Elegi untuk Umar

Di rumah sederhana di Sukabumi, orang tua Umar mungkin sedang menunggu kepulangannya. Mereka tidak pernah tahu, bahwa kepulangan kali ini akan berbeda. Umar pulang bukan dengan tawa, bukan dengan cerita lelah sehabis mengaspal jalanan. Ia pulang dalam diam, dalam selimut kain kafan.

Umar hanyalah satu dari jutaan anak bangsa yang merantau demi sesuap nasi. Namun kisahnya kini menjadi pengingat: bahwa di tengah gaduh politik dan teriakan unjuk rasa, ada nyawa-nyawa kecil yang bisa terhimpit tanpa sengaja.

Jakarta berhutang pada Umar—hutang empati, hutang kemanusiaan.


Selamat jalan, Umar Amarudin.
Namamu akan tetap hidup, meski tubuhmu telah berpulang.


 

Example 300250