Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupPeristiwaPolkam

Tangis Wakil Bupati Aurum Titu Eki di Mimbar Nonbaun: Saat Seorang Pemimpin Menanggalkan Perisai Jabatannya

49
×

Tangis Wakil Bupati Aurum Titu Eki di Mimbar Nonbaun: Saat Seorang Pemimpin Menanggalkan Perisai Jabatannya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG | LINTASTIMOR.ID| — Sebuah jabatan sering kali menjadi perisai. Ia melindungi pemiliknya dari hujan kritik dan panasnya tuntutan publik. Namun pada Jumat siang (6/3/2026), di Gereja Imanuel Nonbaun, Fatulelu Tengah, perisai itu runtuh perlahan.

Di mimbar gereja yang sederhana itu, Wakil Bupati Kupang Aurum Titu Eki berdiri bukan sebagai pejabat yang berjarak dengan rakyatnya, tetapi sebagai anak kampung yang tiba-tiba tak lagi mampu menahan ingatan tentang masa lalu.

Example 300x600

Dan ketika ia menangis, air matanya tidak sekadar jatuh. Setiap tetesnya seperti mengetuk kesunyian ruangan, menyentuh hati siapa pun yang berada di sana.

Di luar gereja, mentari bersinar terang—secerah janji-janji pembangunan yang kerap bergema dalam setiap musim politik. Jalanan kampung masih rusak dan becek oleh hujan semalam, seperti kisah lama yang belum sepenuhnya berubah.

Namun di dalam Gereja Imanuel Nonbaun, suasana terasa berbeda. Ratusan warga, para kepala desa, dan aparat kecamatan berkumpul mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), sebuah agenda tahunan yang biasanya berlangsung formal dan kering seperti dedaunan di musim kemarau.

Mereka datang dengan pikiran sederhana—sebagian mungkin masih memikirkan kebun, ternak, atau pekerjaan yang ditinggalkan sejenak di rumah. Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan siang itu akan berubah menjadi momen emosional yang membasahi ruang gereja.

Ketika mikrofon berada di tangannya, Aurum Titu Eki tampak menahan sesuatu yang berat di dadanya. Tangannya sedikit gemetar. Matanya redup seperti langit yang sedang menunggu hujan.

Lalu suaranya pecah.

╔════════════════════════════════╗
“Saya bisa merasakan hal yang sama seperti bapa, mama… karena saya juga merasakan didikan orang kampung.”
╚════════════════════════════════╝

Kalimat itu sederhana, tetapi seketika meruntuhkan jarak yang biasanya membentang antara seorang pejabat dan rakyatnya. Di hadapan warga yang memenuhi bangku gereja, Aurum seperti kembali menjadi anak kecil yang dulu berlari tanpa alas kaki di jalan berbatu kampungnya.

Ia mengenang masa kecil yang sederhana—masa ketika jajanannya hanya singkong rebus, masa ketika orang tua harus bekerja keras agar anaknya tetap bisa bersekolah.

╔════════════════════════════════╗
“Tapi saya bangga akan hal itu,” katanya lirih, sementara bibirnya bergetar seperti daun yang disentuh angin.
╚════════════════════════════════╝

Dalam sekejap, mimbar gereja itu bukan lagi sekadar tempat pidato seorang pejabat daerah. Ia berubah menjadi ruang pengakuan seorang anak kampung yang kini memikul tanggung jawab besar di pundaknya.

Secara kontekstual, momen seperti ini jarang terlihat dalam forum pemerintahan yang biasanya diisi angka, program, dan target pembangunan. Tangisan seorang pemimpin di ruang publik memperlihatkan sisi lain dari kekuasaan—bahwa di balik jabatan yang terlihat kokoh, ada manusia yang tetap membawa ingatan masa kecil, perjuangan keluarga, dan luka yang tak selalu terlihat.

Dan siang itu, di Gereja Imanuel Nonbaun, warga tidak hanya menyaksikan seorang wakil bupati berbicara tentang pembangunan. Mereka melihat seorang anak kampung yang berdiri di hadapan mereka—dengan jabatan di pundaknya, tetapi dengan hati yang masih pulang ke rumah asalnya.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe