Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaPolkam

Tanda Darah dan Waktu: Saat Pagar Asrama Lebih Tajam dari Parang”

90
×

Tanda Darah dan Waktu: Saat Pagar Asrama Lebih Tajam dari Parang”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID-
Di bawah langit Timika yang kelabu seperti besi tua,pagar-pagar itu bukan sekadar batas. Ia adalah jurang pemisah antara dua dunia: disiplin besi yang dijanjikan, dan hutan belantara kebebasan yang dirindukan. Jumat itu, di halaman Sekolah Asrama Taruna Papua, dentang lonceng bukan memanggil untuk belajar, tetapi untuk sebuah pertanggungjawaban. Setiap nama yang tercoret di daftar hadir adalah pengakuan. Setiap detik yang terlewat adalah pengkhianatan.

Di sini, waktu bukanlah uang. Waktu adalah nyawa masa depan yang digenggam dalam genggaman pasir, cepat berlalu.

Example 300x600

Bau kapur dan tanah basah menyambut di gerbang. Udara pagi di kompleks SATP terasa padat, bukan oleh lembap, tetapi oleh keheningan yang tegang.

Sebuah meja panjang berdiri bagai benteng di tengah halaman, dengan beberapa guru duduk bak hakim. Di depannya, antrean remaja dengan seragam biru—beberapa rapi, sebagian lagi masih menyisakan debu perjalanan dari kampung halaman—bergerak lambat.

Mata mereka bercampur: ada yang mengantuk, ada yang waspada, ada yang kosong menatau jauh ke arah pegunungan tempat PT Freeport beroperasi.

Kepala Sekolah Sonianto Kuddi berdiri di samping, pandangannya mengawasi setiap guratan pena di lembar daftar. Suaranya, ketika berbicara, tidak keras tetapi memotong seperti pisau dingin. “Ini bukan sekadar daftar ulang. Ini adalah sumpah setia kedua. Setelah sumpah pada keluarga di kampung, kini sumpah pada masa depan sendiri di sini,” ujarnya, sementara angin menyapu ucapannya ke arah asrama-asrama beton. Konsekuensi, baginya, bukan hukuman. Ia menyebutnya “bayaran untuk pelajaran tentang hormat”—hormat pada waktu, pada kesempatan, pada janji.

Di sisi lain, Kepala Asrama Wilhelmus Wanmang memegang kalkulator dan daftar panjang. Angka-angka berderet: 1170 jiwa yang dipercayakan, 935 yang telah kembali membawa diri, 35 yang masih menjadi tanda tanya besar di udara Timika. “Kami tidak mengejar tubuh. Kami mengejar komitmen. Tubuh bisa dipulangkan dengan mobil. Tapi komitmen? Itu harus tumbuh dari dalam, atau tidak sama sekali,” katanya. Hukuman bagi yang terlambat—membersihkan kamar, penyitaan izin keluar—disebutnya bukan sebagai siksaan, melainkan “puisi peringatan” yang ditulis dengan sapu dan kunci pintu.

Namun, di balik dinding disiplin besi itu, ada ruang untuk belas kasih yang keras. Siswa yang datang tepat waktu mendapat “kupon kebebasan terkendali”—izin keluar untuk keperluan mendesak. Sebuah hadiah yang lebih berharga dari uang saku di dunia remaja yang terkungkung.

Dukungan datang dari tokoh masyarakat Banti, Joni Magal, yang kata-katanya seperti batu kali—keras dan jelas. “Anak-anak yang bolos dan lompat pagar itu… mereka bukan pahlawan yang melawan. Mereka adalah pelarian yang kalah sebelum berperang,” tegasnya, matanya menyala dengan api yang berbeda: api dari seorang yang telah melihat terlalu banyak mimpi Papua terperosok di lubang yang sama. Baginya, SATP dengan fasilitas lengkapnya adalah “kapal penjelajah” di tengah samudera keterbatasan. Melompat darinya bukanlah keberanian, tapi kebodohan.

 

“Di sini, kami tidak membunuh mimpi. Kami membedahnya. Membuang yang busuk, menjahit yang luka, membalut yang rapuh. Terlambat datang berarti menunjukkan luka itu bernanah. Dan kami punya pisau bedah bernama aturan.”
— Sonianto Kuddi, di depan pintu gerbang asrama, sambil menatap langit yang tak kunjung cerah.

“Pagar ini bukan penjara. Ia adalah garis horizon palsu. Bagi yang disiplin, ia adalah batas yang melindungi. Bagi yang melompat, ia adalah ilusi yang menjerat. Kami hanya memberitahu: pilih horizon mana yang akan kau kejar.”
— Wilhelmus Wanmang, sambil jarinya menunjuk deretan jendela asrama yang berkilat.

“Mereka pikir dengan lari ke hutan, mereka bebas. Mereka lupa, hutan terbesar yang harus ditaklukkan bukan di luar, tapi di dalam kepala mereka sendiri. SATP sedang membabat hutan itu. Sedikit demi sedikit.”
— Joni Magal, di penghujung hari, saat bayangan pagar mulai memanjang seperti arloji raksasa.

Senja mulai menelan kompleks SATP.Meja pendaftaran telah ditutup. Daftar nama telah menjadi dokumen resmi—beberapa dengan tanda centang hijau (penghargaan), beberapa dengan tanda asterisk merah (konsekuensi). 1000 target hampir terpenuhi. Sisanya, 35 nama, akan menjadi cerita untuk hari esok: apakah mereka akan datang dengan kepala tertunduk dan janji baru, atau hilang begitu saja dalam statistik putus sekolah? Di Timika, di bawah bayangan gunung yang memberi kehidupan sekaligus mengambilnya, pendidikan di SATP bukanlah jalan mulus beraspal. Ia adalah jalan setapak penuh duri dan bunga, di mana setiap langkah—tepat waktu atau terlambat—akan meninggalkan bekas yang dalam. Seperti kata mereka di sini: “Kami tidak mendidik anak-anak untuk jadi pejabat. Kami menempa Taruna untuk jadi penyintas.” Malam turun. Pagar-pagar itu berdiri lebih tinggi, lebih tegas. Menunggu.

Example 300250