JAYAPURA |LINTASTIMOR.ID —
Di atas geladak KRI TTH-853, laut Jayapura pagi itu tampak tenang. Ombaknya kecil, seolah menahan napas. Namun di kedalaman Samudera Pasifik, sejarah berbicara lirih—tentang pengorbanan, kesetiaan, dan darah para prajurit yang pernah jatuh tanpa sempat berpamitan.
Kamis, 15 Januari 2026, TNI dan unsur Forkopimda Papua berdiri khidmat dalam Upacara Tabur Bunga memperingati Hari Dharma Samudera. Bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ritual kebangsaan yang menghubungkan masa kini dengan pengorbanan masa lalu.
Pangdam XVII/Cenderawasih yang diwakili Kapoksahli Pangdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Sukamdi, S.I.P., hadir menyatu dalam barisan penghormatan di Dermaga Porasko, Jayapura Utara—sebuah titik geografis yang kerap menjadi saksi senyap perjalanan sejarah maritim Indonesia di timur negeri.
Upacara dipimpin langsung oleh Mayjen TNI (Mar) Werijon, M.Han., CIQnR., CIQaR., Dankodaeral X, selaku Inspektur Upacara. Komando barisan dipercayakan kepada Letkol Laut (S) Carli Matatar, S.E.
Hari Dharma Samudera sendiri adalah penanda sejarah Pertempuran Laut Arafura—pertempuran yang tak hanya mencatat strategi perang, tetapi juga keberanian absolut para prajurit TNI AL yang memilih bertahan hingga akhir demi kedaulatan republik.
Bunga, Laut, dan Ingatan Kolektif Bangsa
Satu per satu, bunga dilepaskan ke laut. Mengapung sesaat, lalu perlahan menghilang di balik riak air. Seperti itulah ingatan bangsa bekerja: tak selalu riuh, tapi abadi.
Bagi Brigjen TNI Sukamdi, kehadiran lintas institusi dalam upacara ini adalah pesan yang jauh lebih besar dari sekadar formalitas militer.
“Kehadiran kita semua di sini—TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah—bukan semata seremoni. Ini bukti nyata sinergitas dan soliditas yang tak tergoyahkan di tanah Papua, sekaligus penghormatan abadi atas pengabdian para pendahulu,”
— Brigjen TNI Sukamdi, S.I.P.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Dharma Samudera bukan hanya milik angkatan laut, melainkan warisan moral seluruh bangsa—tentang bagaimana negara menghormati mereka yang gugur tanpa pamrih.
Dari Laut Arafura ke Papua Hari Ini
Pertempuran Laut Arafura terjadi jauh di selatan Nusantara. Namun semangatnya menyeberang waktu dan wilayah, hingga ke Papua hari ini—wilayah strategis yang terus dijaga dengan kombinasi kekuatan, pendekatan kemanusiaan, dan kesadaran sejarah.
Kehadiran Forkopimda Papua memperlihatkan bahwa pertahanan negara bukan kerja satu matra, melainkan orkestrasi kolektif yang memerlukan kepercayaan, koordinasi, dan empati.
Turut hadir dalam upacara tersebut antara lain:
Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, S.P., M.Eng.,
Laksma TNI Dadang Somantri, CHRMP. (Wadan Kodaeral X),
Kolonel Laut (P) Bambang ABR (Dansatrol Kodaeral X),
Kombes Pol. Andreas L.J. Tampubolon (Ka SPN Polda Papua),
Kolonel ADM Ridwan Syaparudin, S.E., M.Si. (Kadispers Lanud Silas Papare),
Pdt. Robert Josias Horik, M.A., M.H. (Wakil Ketua I MRP Papua),
serta unsur kejaksaan dan peradilan tinggi Papua.
Refleksi Publik: Mengapa Kita Harus Terus Mengingat
Tabur bunga bukan tentang masa lalu semata. Ia adalah pengingat etis bagi generasi hari ini:
bahwa kemerdekaan bukan hadiah,
bahwa kedaulatan dibayar mahal,
dan bahwa kekuatan negara harus selalu berpijak pada nilai kemanusiaan.
Di tengah dinamika geopolitik, konflik, dan perubahan zaman, peringatan Hari Dharma Samudera mengajarkan satu pelajaran penting bagi publik:
negara besar adalah negara yang tidak melupakan para penjaganya.
Laut boleh menelan nama-nama,
namun bangsa tak boleh menenggelamkan ingatan.
Dan pagi itu, di Jayapura,
laut kembali menjadi altar sunyi—
tempat janji kesetiaan diulang,
tanpa teriak, tanpa senjata,
hanya dengan bunga dan doa.


















