Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKabupaten MappiKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Tabur Bunga di Laut Papua: Ketika Negara Menundukkan Kepala pada Sejarah yang Tak Pernah Usai

156
×

Tabur Bunga di Laut Papua: Ketika Negara Menundukkan Kepala pada Sejarah yang Tak Pernah Usai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAYAPURA |LINTASTIMOR.ID —
Laut pagi di Teluk Jayapura tampak tenang, seolah menyimpan rahasia panjang tentang darah, keberanian, dan pengorbanan. Ombak bergerak perlahan, memantulkan cahaya matahari yang jatuh di geladak KRI TTH-853, kapal perang yang pagi itu bukan hanya menjadi alat pertahanan negara, tetapi juga altar sejarah.

Di sanalah, Kamis (15/1/2026), negara kembali menundukkan kepala.

Example 300x600

Pangdam XVII/Cenderawasih yang diwakili Kapoksahli Pangdam XVII/Cenderawasih, Brigjen TNI Sukamdi, S.I.P., menghadiri Upacara Tabur Bunga dalam rangka Peringatan Hari Dharma Samudera Tahun 2026, sebuah ritual kebangsaan yang tak sekadar seremonial, melainkan pengakuan sunyi atas utang sejarah kepada para pahlawan laut yang gugur dalam Pertempuran Laut Arafura.

Upacara dipimpin Mayjen TNI (Mar) Werijon, M.Han., CIQnR., CIQaR., selaku Inspektur Upacara, dengan Letkol Laut (S) Carli Matatar, S.E. sebagai Komandan Upacara. Di tengah keheningan laut, nama-nama yang tak tercatat di buku pelajaran sekolah kembali dipanggil oleh waktu.

Laut sebagai Saksi, Negara sebagai Penjaga Ingatan

Hari Dharma Samudera bukan sekadar penanggalan militer. Ia adalah pengingat keras bahwa kedaulatan Indonesia lahir dari darah prajurit muda yang memilih tenggelam bersama kapal daripada menyerah pada penjajah.

Tabur bunga ke laut bukan simbol kehilangan. Ia adalah pernyataan hukum dan moral negara bahwa pengorbanan para pahlawan tidak pernah kedaluwarsa.

“Kehadiran kita semua di sini, baik dari unsur TNI, Polri, maupun Pemerintah Daerah, bukan sekadar seremonial. Ini adalah bukti nyata sinergitas dan soliditas yang tak tergoyahkan di tanah Papua, sekaligus bentuk penghormatan abadi kita atas pengabdian para pendahulu,”
— Brigjen TNI Sukamdi, S.I.P.

Kutipan itu mengalir di atas laut seperti amanat sejarah: bahwa keamanan, hukum, dan persatuan tak pernah berdiri sendiri—mereka dibangun oleh kerja kolektif dan kesetiaan lintas generasi.

Papua, Samudera, dan Makna Kedaulatan

Di Papua, laut bukan sekadar batas geografis. Ia adalah garis hukum kedaulatan, jalur ekonomi, dan ruang hidup masyarakat. Upacara ini menegaskan bahwa kehadiran negara di wilayah timur bukan slogan, melainkan tanggung jawab konstitusional.

Kehadiran unsur Forkopimda Papua memperlihatkan bahwa ingatan sejarah hanya akan bermakna jika diterjemahkan dalam kerja nyata hari ini: menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan memastikan keadilan hadir hingga ke batas terluar negeri.

Turut hadir dalam upacara ini antara lain:
Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, S.P., M.Eng.,
Laksma TNI Dadang Somantri, CHRMP. (Wadan Kodaeral X),
Kolonel Laut (P) Bambang ABR (Dansatrol Kodaeral X),
Kombes Pol. Andreas L.J. Tampubolon (Ka SPN Polda Papua),
Kolonel ADM Ridwan Syaparudin, S.E., M.Si. (Kadispers Lanud Silas Papare),
Pdt. Robert Josias Horik, M.A., M.H. (Wakil Ketua I MRP Papua),
Kolonel Chk. Dasat Triadi, S.H. (Aspidmil Kejati Papua),
serta unsur yudikatif dan lembaga negara lainnya.

Kehadiran mereka bukan sekadar daftar tamu, melainkan penanda komitmen kolektif bahwa pertahanan negara tidak berdiri di satu matra saja.

Pelajaran bagi Publik dan Para Politisi

Hari Dharma Samudera menyimpan pesan penting, terutama bagi para pemegang kekuasaan:

  • Bahwa kekuasaan tanpa ingatan sejarah akan melahirkan kebijakan tanpa nurani.
  • Bahwa jabatan publik adalah amanah, bukan ruang transaksional.
  • Bahwa negara harus hadir lebih dulu sebelum rakyat kehilangan harapan.

Para pahlawan di Laut Arafura tidak gugur untuk kepentingan politik jangka pendek. Mereka gugur demi keutuhan republik yang hari ini sering diperdebatkan, namun jarang direnungkan.

Bunga yang Mengapung, Janji yang Tak Boleh Tenggelam

Saat bunga-bunga dilepaskan ke laut, ia mengapung sebentar, lalu hilang ditelan ombak. Namun maknanya tidak ikut tenggelam. Ia tinggal di ingatan kolektif bangsa—menjadi kompas moral bagi generasi hari ini.

Di hadapan samudera Papua, negara kembali berjanji:
bahwa sejarah akan dijaga,
bahwa kedaulatan akan dipertahankan,
dan bahwa pengorbanan para pahlawan tidak akan dikhianati oleh lupa.

Karena laut boleh tenang,
tetapi ingatan bangsa tak pernah boleh diam.

Example 300250