Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalPeristiwaPolkam

Sepuluh Nama di Udara yang Sunyi

158
×

Sepuluh Nama di Udara yang Sunyi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Klarifikasi KKP dan IAT, Tentang Misi Negara, Manusia, dan Tanggung Jawab Keselamatan

JAKARTA | LINTASTIMOR.ID
Di balik deru mesin pesawat yang tak lagi terdengar, ada angka yang harus diluruskan, dan ada nama-nama yang tak boleh keliru dicatat. Sabtu malam, 17 Januari 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Indonesia Air Transport (IAT) akhirnya berdiri di hadapan publik, menyampaikan klarifikasi penting: bukan 11 orang, melainkan 10 orang yang berada di dalam pesawat ATR yang menjalankan misi negara.

Klarifikasi ini mungkin terdengar administratif. Namun dalam tragedi penerbangan, angka bukan sekadar statistik—ia adalah penanda tanggung jawab, kejelasan informasi, dan penghormatan terhadap setiap nyawa yang terlibat.

Example 300x600

Pesawat tersebut, ditegaskan Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono, merupakan pesawat sewaan KKP yang digunakan untuk misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara—sebuah tugas sunyi menjaga kedaulatan laut Indonesia.

“Perlu kami klarifikasi terkait pesawat tersebut, bahwa benar ini adalah pesawat KKP yang digunakan untuk misi pengawasan. Di dalamnya terdapat tiga pegawai KKP,”
ujar Wahyu Sakti Trenggono.

Tiga Pegawai Negara dalam Misi Pengawasan Laut

Tiga pegawai KKP yang ikut dalam penerbangan tersebut berasal dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP)—unit yang selama ini bekerja jauh dari sorotan, namun berada di garis depan menjaga laut Nusantara.

Mereka adalah:

  • Feri Irawan, Penata Muda Tingkat I, Analis Kapal Pengawas
  • Deden Mulyana, Penata Muda Tingkat I, Pengelola Barang Milik Negara
  • Yoga Noval, Operator Foto Udara

Mereka bukan sekadar penumpang. Mereka adalah aparatur negara yang menjalankan mandat konstitusional: memastikan laut Indonesia tidak dijarah, tidak dirusak, dan tetap berdaulat.

Tujuh Kru, Tujuh Penjaga Langit

Sementara itu, dari pihak Indonesia Air Transport (IAT), ditegaskan bahwa tujuh orang kru berada di dalam pesawat—para profesional penerbangan yang mengikatkan hidup mereka pada disiplin, prosedur, dan kepercayaan pada mesin serta cuaca.

“Kami klarifikasi, terdapat tujuh kru kami di dalam pesawat,”
ujar perwakilan IAT.

Mereka adalah:

  • Capt. Andy Hananto
  • Co-Pilot Farhan Gunawan
  • Hariadi
  • Restu Adi
  • Dwi Murdiono
  • Florencia Lolita
  • Esther Aprilia

Nama-nama ini kini tercatat bukan hanya dalam manifes penerbangan, tetapi juga dalam ingatan publik—sebagai insan-insan yang menjalankan tugas hingga titik terakhir.

Ketika Pesawat Jatuh, Negara Tidak Boleh Diam

Tragedi penerbangan selalu meninggalkan luka berlapis. Bagi keluarga, ia adalah kehilangan. Bagi negara, ia adalah ujian tanggung jawab. Klarifikasi jumlah orang di dalam pesawat menjadi langkah awal penting, namun bukan akhir dari pertanggungjawaban.

Publik berhak mendapatkan:

  • Informasi yang akurat
  • Investigasi yang transparan
  • Evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan penerbangan misi negara

Pesawat ini tidak membawa penumpang komersial. Ia membawa tugas negara. Maka setiap aspek keselamatannya harus berada pada standar tertinggi—bukan cukup, tetapi paling aman yang mungkin.

Pelajaran bagi Kita Semua

Di balik kecelakaan ini, ada pesan sunyi yang perlu didengar:
bahwa pengawasan laut, kedaulatan udara, dan keselamatan penerbangan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Mereka saling terkait, saling bergantung.

Setiap misi negara selalu membawa risiko. Namun risiko tidak boleh dibayar dengan kelalaian. Tragedi ini menuntut satu hal dari kita semua—negara, operator, dan publik—yaitu tidak cepat lupa.

Karena di langit yang kini senyap, ada sepuluh nama yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap berita, selalu ada manusia.

Dan kepada manusia, kebenaran adalah bentuk penghormatan paling dasar.

 

Example 300250