Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalOtomotifPeristiwaTeknologi

Senjata Terarah, Soliditas Forkopimda Belu Menguat

2
×

Senjata Terarah, Soliditas Forkopimda Belu Menguat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Dentuman tembakan memecah udara pagi di Lapangan Tembak Dasba 6000, Halikelen, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Kamis (24/9/2026).

Di tempat yang biasanya menjadi ruang latihan personel bersenjata itu, pemandangan berbeda tersaji. Para pimpinan daerah dan instansi vertikal Kabupaten Belu berdiri dalam satu barisan, bukan sekadar untuk menguji ketepatan bidikan, tetapi membangun sebuah ruang perjumpaan yang lebih dekat: komunikasi, koordinasi, dan soliditas untuk menjaga keamanan di wilayah perbatasan negara.

Example 300x600

Polres Belu bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan instansi vertikal Kabupaten Belu menggelar latihan menembak bersama di Lapangan Tembak Dasba 6000, Kompi 1 Yon A Pelopor Sat Brimob Polda NTT, Halikelen.

Bupati Belu Willybrodus Lay, S.H., hadir bersama Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H., S.I.K., Dandim 1605/Belu Letkol Arh. Ariestyo Ardyanto, S.I.P., M.H.I., Kajari Belu Arif Mirra Kanahau, S.H., Kepala Bea Cukai Atambua Bambang Tutuko P., S.E., Ak., M.M., serta Danyon A Pelopor Brimob Kompol Raimundo De Jesus, S.H.

Hadir pula Wakapolres Belu Kompol Cecep Ibnu Ahmadi, S.I.K., S.H., M.H., Kepala Lapas Belu Antonius Luis Pui Ximenes Da Costa, Kabag Log Polres Belu, Kasat Lantas, Danki Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur, serta personel Kompi 1 Yon A Brimob, Bea Cukai dan Polres Belu.

Di Balik Bidikan, Ada Komunikasi

Sebelum senjata diarahkan ke sasaran, para peserta terlebih dahulu menerima pengarahan dari instruktur atau pelatih.

Mekanisme penggunaan senjata, tata cara latihan, hingga prosedur keselamatan dijelaskan secara bertahap. Setiap peserta mengikuti petunjuk yang diberikan sebelum memasuki sesi latihan.

Kemudian suasana berubah.

Senjata pendek dan laras panjang mulai digunakan. Para peserta mengasah keterampilan melalui sejumlah posisi menembak—berdiri, duduk, hingga tiarap.

Pandangan tertuju pada sasaran.

Tangan menggenggam senjata.

Konsentrasi dipusatkan pada satu titik.

Di tengah suasana latihan yang disiplin itu, kebersamaan antarpimpinan dan personel dari berbagai institusi justru menjadi warna lain yang terasa kuat.

Sebab, di balik suara letusan yang sesekali memecah keheningan, terdapat pesan yang jauh lebih luas: keamanan perbatasan membutuhkan komunikasi yang tidak boleh terputus.

Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa mengatakan latihan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan keterampilan menembak.

Menurut dia, kegiatan itu juga menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus membangun komunikasi dan koordinasi yang semakin kuat antara Polres Belu, Forkopimda, instansi vertikal, dan Yon A Sat Brimob Polda NTT.

“Tujuan utama kita menggelar latihan ini sebagai sarana silaturahmi dan membangun komunikasi secara langsung antarpara pimpinan dan personel dari berbagai instansi serta memperkuat koordinasi operasional sehingga potensi hambatan komunikasi maupun koordinasi di lapangan dapat diminimalisir,” ungkap Kapolres Belu.

Perbatasan Membutuhkan Deteksi Dini

Kabupaten Belu bukan sekadar sebuah wilayah administratif.

Di garis paling timur Pulau Timor itu, wajah Indonesia berhadapan langsung dengan Timor-Leste. Setiap persoalan keamanan memiliki ruang yang lebih luas karena menyentuh kawasan perbatasan negara.

Karena itu, koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kapolres Belu menegaskan, latihan bersama tersebut juga menjadi ruang untuk bertukar informasi sekaligus membangun deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan kamtibmas maupun persoalan hukum yang dapat muncul di wilayah Kabupaten Belu.

“Selain itu, latihan bersama ini menjadi ruang untuk kita bertukar informasi serta membangun deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan kamtibmas maupun persoalan hukum yang dapat muncul di wilayah Kabupaten Belu,” tambahnya.

Ia berharap komunikasi yang terbangun antarlembaga tidak berhenti di lapangan tembak.

Sebaliknya, komunikasi itu harus menjadi kekuatan ketika masing-masing institusi menjalankan tugas di lapangan.

“Dengan terbangunnya komunikasi dan koordinasi yang baik antarinstansi, diharapkan setiap potensi permasalahan dapat diantisipasi secara bersama-sama dan ditangani secara cepat sesuai tugas dan kewenangan masing-masing,” ujar Kapolres.

Ketika Senjata Menjadi Simbol Kebersamaan

Kegiatan berlangsung sejak pukul 09.00 WITA hingga siang hari.

Tidak ada sekat yang terlalu lebar di antara para peserta. Pimpinan daerah, aparat keamanan, penegak hukum, petugas pemasyarakatan, Bea Cukai, hingga personel perbatasan berada dalam satu ruang kegiatan.

Mereka datang dari institusi berbeda, membawa kewenangan dan tanggung jawab masing-masing.

Namun di Lapangan Tembak Dasba 6000, semua bertemu dalam satu kepentingan yang sama: membangun komunikasi untuk menjaga keamanan Kabupaten Belu.

Latihan menembak akhirnya bukan hanya tentang bagaimana sebuah peluru diarahkan tepat menuju sasaran.

Ia juga menjadi metafora tentang pentingnya ketepatan koordinasi.

Sebab dalam menjaga sebuah daerah perbatasan, ketepatan mengambil keputusan, kecepatan bertukar informasi, dan kekuatan komunikasi dapat menjadi bagian penting dari upaya mencegah persoalan sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan.

Di Halikelen, suara tembakan pun perlahan mereda.

Namun pesan dari latihan itu masih tersisa: bahwa soliditas tidak lahir hanya dari seragam yang sama, melainkan dari kesediaan untuk berdiri bersama, berkomunikasi, dan bekerja sesuai tugas serta kewenangan masing-masing.

Di tanah perbatasan itu, senjata memang diarahkan kepada sasaran.

Tetapi yang sedang dibangun sesungguhnya adalah satu arah koordinasi untuk menjaga Belu tetap aman, tertib, dan kokoh di beranda terdepan Indonesia.

Example 300250
Penulis: Agustinus Bobe/HumaspolresBeluEditor: Agustinus Bobe