MAKASSAR |LINTASTIMOR.ID)– Kota ini menyala, bukan oleh pesta lampu, melainkan oleh kobaran api amarah. Dua rumah rakyat—DPRD Sulawesi Selatan di Jalan Urip Sumoharjo dan DPRD Kota Makassar di Jalan AP Pettarani—runtuh dilahap api. Sejarah mencatat, malam Jumat hingga Sabtu (29–30 Agustus 2025) menjadi kelam bagi demokrasi di timur Indonesia.
Amarah Membakar Kota
Seribuan warga, dengan mata berkaca-kaca atau dengan dada bergemuruh, menyaksikan fasad gedung peninggalan Orde Baru itu tumbang satu per satu. Armada pemadam hanya jadi saksi, tak kuasa melawan jilatan api yang lahir dari bara kemarahan massa.
“Ini bukan sekadar gedung yang terbakar, ini adalah kepercayaan rakyat yang runtuh,” lirih seorang warga di antara kerumunan.
Tragedi di Gedung Parlemen
Gedung DPRD Sulsel, tempat 85 wakil rakyat dari 24 kabupaten/kota biasa duduk bersidang, kini hanya menyisakan puing dan arang. Sementara DPRD Kota Makassar, ruang kerja 50 anggota dewan dari 15 kecamatan, luluh lantak sebelum sempat menggelar rapat paripurna RPJMD bersama wali kota, wakil wali kota, sekda, dan puluhan pimpinan SKPD.
Lebih tragis, seorang staf bidang kesejahteraan rakyat dari salah satu kecamatan meninggal dunia setelah nekat melompat dari lantai dua gedung parlemen kota pada pukul 00.45 Wita. Duka itu menambah luka kolektif sebuah kota berpenduduk 9,1 juta jiwa.
Aparat yang Terdiam
Seribuan aparat TNI–Polri yang disiagakan pun terdiam. Mereka akhirnya membaur dengan warga, hanya bisa menatap api melumat arsitektur Bugis-Makassar yang megah itu.
“Seperti kita kehilangan rumah sendiri,” ucap seorang anggota Satpol PP dengan mata sembab, seakan bicara kepada dirinya sendiri.
Abu Demokrasi
Kerugian material belum dihitung. Tapi kerugian batin jelas tak terukur. Dua simbol demokrasi itu kini hanyalah abu, meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab: di mana sesungguhnya tempat rakyat bersandar?
Kota Makassar berduka. Indonesia pun turut berduka. Tragedi ini menuntun kita untuk menunduk, menghela napas panjang, dan berbisik dalam hati: semoga ini yang terakhir.