Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanNasional

Sasando Menggema di Ruang Gubernur: Mateo Jubileo Singgih Membawa Nada Rote ke Panggung Dunia

97
×

Sasando Menggema di Ruang Gubernur: Mateo Jubileo Singgih Membawa Nada Rote ke Panggung Dunia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG | LINTASTIMOR.ID— Pagi di ruang kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur, Kamis (5/3/2026), terasa berbeda. Di antara map-map kerja pemerintahan dan agenda pembangunan daerah, tiba-tiba mengalun bunyi yang tidak sekadar musik. Ia seperti desir angin dari Pulau Rote yang menjelma menjadi nada. Sasando berbicara.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menerima audiensi seorang anak muda yang membawa identitas budaya NTT melintasi batas negara: Mateo Jubileo Singgih, musisi Sasando sekaligus konten kreator yang dikenal luas melalui penampilan epiknya di berbagai platform media sosial.

Example 300x600

Mateo datang tidak sendiri. Ia didampingi ibunya, Julia, serta dua musisi Sasando asal NTT lainnya, Jenny Besin dan Rizky Hauteas, juga keluarga yang turut menyertai perjalanan seninya.

Di ruangan itu, percakapan tentang budaya dan masa depan NTT berlangsung hangat. Namun yang paling memikat bukan sekadar kata-kata, melainkan kisah perjalanan sebuah alat musik tradisional yang kini menggema hingga panggung dunia.

Mateo menceritakan bahwa kecintaannya pada Sasando tidak lahir dari panggung besar atau festival musik, melainkan dari ruang sederhana yang penuh iman: gereja.

╔════════════════════════════════╗
“Kecintaan saya pada alat musik Sasando dimulai dari Gereja. Keberhasilan tampil hingga ke sejumlah negara, termasuk di Basilica St. John Lateran di Italia, adalah wujud pelestarian kekayaan budaya asal NTT. Saya berkomitmen terus memperkenalkan Sasando ke luar negeri.”
Mateo Jubileo Singgih
╚════════════════════════════════╝

Di sela dialog, Mateo tidak hanya bercerita. Ia memainkan Sasando.

Petikan demi petikan mengalir lembut, membawakan lagu-lagu rohani hingga lagu nasional. Nada-nada itu mengisi ruang kerja gubernur dengan suasana yang hampir terasa sakral—seolah budaya NTT sedang berbicara dengan caranya sendiri.

Gubernur Melki Laka Lena tampak menikmati setiap alunan. Baginya, musik yang dimainkan Mateo bukan sekadar pertunjukan, tetapi simbol dari identitas daerah yang hidup dan terus bergerak.

╔════════════════════════════════╗
“Ke depan jangan lupa terus memperkenalkan budaya NTT melalui lagu-lagu daerahnya. Kita juga berencana menghadirkan Dapur NTT, NTT Mart, dan Bank NTT di berbagai wilayah Indonesia. Akan luar biasa jika di sana juga ada penampilan spesial dari Mateo dan kawan-kawan.”
Gubernur NTT, Melki Laka Lena
╚════════════════════════════════╝

Ia berharap perjalanan Mateo dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda NTT—bahwa kebanggaan terhadap budaya daerah tidak harus berhenti di kampung halaman. Ia bisa melintasi samudra.

Dalam konteks yang lebih luas, kemunculan figur seperti Mateo mencerminkan transformasi baru dalam diplomasi budaya NTT. Jika dulu promosi budaya bergantung pada panggung resmi dan festival pemerintah, kini generasi muda membawa tradisi ke dunia digital—mengubah alat musik tradisional menjadi bahasa global yang dapat didengar jutaan orang.

Sasando, yang dahulu hanya bergema di rumah-rumah adat Rote, kini menemukan ruang baru di layar ponsel dunia.

Dan pada pagi itu di ruang kerja gubernur, ketika nada terakhir Sasando perlahan mereda, yang tersisa bukan hanya musik—melainkan keyakinan bahwa dari timur Indonesia, sebuah warisan budaya sedang berjalan jauh, dipandu oleh tangan-tangan muda yang setia memetik sejarahnya.

Example 300250