Koramil 02 Sinak dan Mama-Mama Papua Menyapu Harapan di Jantung Puncak
PUNCAK | LINTASTIMOR.ID —
Pagi di Pasar Sinak tak sekadar riuh oleh tawar-menawar. Kamis (5/2/2026), denyut kehidupan itu bertambah satu makna: gotong royong. Di antara lapak-lapak sederhana dan aroma hasil kebun, tangan-tangan bersatu menyapu bukan hanya sampah—tetapi juga harapan akan ruang hidup yang lebih bermartabat.
Sejumlah prajurit TNI dari Koramil 02 Sinak bersama mama-mama Papua menggelar karya bakti pembersihan pasar. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan Pangdam XVII/Cenderawasih agar seluruh jajaran—dari Kodam hingga satuan kewilayahan—melaksanakan korve secara serentak di ruang-ruang publik, termasuk pasar dan pantai.
Arahan tersebut diturunkan oleh Komandan Kodim 1717/Puncak, Letkol Inf. Himawan, dan di Sinak dijalankan langsung oleh Komandan Koramil 02 Sinak, Kapten Inf. Soleman.
Pasar yang Lebih Ramai, Kerja yang Lebih Mulia
Pagi itu, Pasar Sinak tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena lonjakan pembeli, melainkan oleh semangat kebersamaan. Mama-mama Papua yang sehari-hari menggantungkan hidup dari lapak kecil mereka, berjibaku bersama prajurit TNI mengangkat sampah plastik, sampah basah dan kering—memasukkannya ke dalam trash bag dan karung.
Tak ada jarak. Tak ada sekat. Yang ada hanyalah kesadaran bersama bahwa pasar bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang hidup yang harus dijaga.
Bersih Itu Sehat, Bersih Itu Bermartabat
Di sela-sela kegiatan, Kapten Inf. Soleman menegaskan pentingnya menjaga kebersihan pasar sebagai pusat aktivitas masyarakat.
“Pasar Sinak adalah tempat berkumpul dan berjualan mama-mama. Karena itu, kebersihannya harus kita jaga bersama. Bersih itu sehat, dan bersih itu indah,”
— Kapten Inf. Soleman
Baginya, karya bakti bukan sekadar rutinitas komando, melainkan bentuk kehadiran negara yang menyentuh langsung kehidupan warga—dengan tindakan, bukan slogan.
Gotong Royong sebagai Bahasa Keamanan Sosial
Apa yang terjadi di Pasar Sinak hari itu adalah pesan sederhana namun kuat: keamanan sosial tidak selalu dibangun dengan senjata, melainkan dengan sapu, karung sampah, dan rasa memiliki bersama.
Di Puncak, mama-mama Papua dan prajurit TNI menunjukkan bahwa merawat ruang publik berarti merawat martabat manusia yang hidup di dalamnya.


















