TIMIKA| LINTASTIMOR.ID —
Di balik layar perencanaan pembangunan, ada kerja sunyi yang jarang disorot kamera. Bukan pidato, bukan seremoni. Melainkan barisan data, angka, dan rencana kerja yang perlahan diketik satu per satu. Di Mimika, denyut itu mulai terasa. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bergerak cepat—menginput rencana kerja—sebagai pintu awal menuju Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) tahun 2027.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ia adalah upaya menjemput kebutuhan masyarakat sejak dari meja perencanaan. Dari kampung ke kota, dari pesisir hingga pegunungan, harapan warga Mimika pelan-pelan diterjemahkan ke dalam program dan kegiatan yang akan menentukan wajah pembangunan tiga tahun ke depan.
Kepala Bappeda Kabupaten Mimika, Yoahanna Paliling, menyebut respons cepat OPD sebagai sinyal positif. Menurutnya, kualitas RKPD sangat ditentukan oleh seberapa jujur dan detail OPD membaca denyut kebutuhan masyarakatnya sendiri.
“Data yang diinput OPD bukan sekadar angka.
Ia adalah cerita tentang kebutuhan warga—
tentang layanan dasar, infrastruktur, dan masa depan Mimika.”
Yoahanna menegaskan, RKPD 2027 tetap berpijak pada RPJMD tahun kedua, dengan alokasi anggaran yang telah disepakati. Namun ia mengingatkan satu hal penting: sinkronisasi. Tanpa koordinasi yang matang, program bisa saling tumpang tindih, dan anggaran berisiko habis tanpa dampak nyata.
Di ruang perencanaan itulah, ketelitian menjadi etika. Setiap program harus saling menyapa, bukan saling meniadakan. Setiap rupiah harus punya tujuan, bukan sekadar terserap.
Saat ini, OPD yang telah menuntaskan Rencana Strategis (Renstra) didorong segera menginput Rencana Kerja (Renja) secara manual. Bappeda Mimika, kata Yoahanna, tengah menyiapkan pembukaan sistem aplikasi resmi agar proses input data dapat dilakukan secara terpusat, transparan, dan lebih akuntabel.
“RKPD bukan dokumen milik kantor.
Ia milik masyarakat.
Karena itu, setiap OPD harus memastikan rencana yang disusun benar-benar lahir dari kebutuhan lapangan.”
Penekanan pada kebutuhan masyarakat menjadi roh utama penyusunan RKPD 2027. Bappeda berharap, melalui input yang akurat dan berbasis realitas, program pembangunan tidak lagi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari warga.
Di Mimika, perencanaan kini tidak hanya bicara tentang target dan indikator. Ia mulai bicara tentang empati—tentang bagaimana negara hadir sejak dari tahap paling awal: mendengar.
Dan di balik layar itu, OPD sedang menulis masa depan Mimika, baris demi baris, dengan data sebagai bahasanya dan masyarakat sebagai tujuannya.


















