TIMIKA | LINTASTIMUR.ID — Dini hari yang biasanya lengang di Timika berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan obor menyala, bergerak perlahan menembus gelap, seakan membawa harapan yang hidup. Dalam hening yang khidmat, langkah demi langkah umat Kristiani menyatu dalam satu irama: merayakan kebangkitan, merawat kebersamaan.
Minggu (5/4/2026), pawai obor Paskah bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjelma menjadi pengalaman batin kolektif—sebuah perjalanan simbolik dari gelap menuju terang, dari luka menuju pemulihan.
Dari Lapangan Eks Pasar Swadaya di Jalan Yos Sudarso, Bupati Mimika Johannes Rettob melepas ribuan peserta yang dengan tertib mengalir melewati ruas-ruas jalan utama kota, sebelum akhirnya berlabuh di halaman Gedung Eme Neme Yauware. Sepanjang rute, cahaya obor seperti menulis puisi panjang di udara malam Timika.
Dalam suasana yang sarat makna itu, Johannes Rettob mengingatkan bahwa Paskah bukan sekadar perayaan, melainkan momentum pembaruan diri dan relasi sosial.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Melalui Paskah, kita diajak untuk bangkit dari masa lalu dan memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih damai.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Pesan itu mengalir sederhana, namun terasa dalam. Ia tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga tentang kehidupan bersama di tengah keberagaman Mimika yang dinamis.
Bupati pun menegaskan pentingnya menjaga persatuan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Kebersamaan harus terus dijaga agar Mimika tetap aman dan kondusif. Mari kita saling menghargai dan hidup rukun.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Pawai berlangsung dalam suasana aman dan tertib. Aparat keamanan tampak berjaga di sepanjang rute, memastikan setiap langkah berjalan dalam rasa tenang. Namun lebih dari itu, ketertiban malam itu lahir dari kesadaran kolektif: bahwa kebersamaan adalah kekuatan.
Secara kontekstual, pawai obor ini mencerminkan wajah Mimika hari ini—sebuah daerah dengan dinamika sosial yang kompleks, namun terus berupaya merawat harmoni. Di tengah berbagai tantangan, simbol-simbol kultural dan keagamaan seperti ini menjadi ruang perekat yang efektif, mempertemukan perbedaan dalam satu tujuan: hidup damai.
Pada akhirnya, obor-obor itu akan padam ketika fajar datang. Namun cahaya yang mereka nyalakan di hati—tentang harapan, persatuan, dan keberanian untuk bangkit—adalah nyala yang seharusnya tak pernah redup.


















