KUPANG |LINTASTIMOR.ID –
Langit Februari di Nusa Tenggara Timur mulai berubah warna. Di halaman-halaman sekolah, suara lonceng tak lagi sekadar penanda jam pelajaran, melainkan penanda ritme baru: ritme Ramadhan. Pemerintah Provinsi NTT melalui resmi mengatur ulang denyut kegiatan belajar-mengajar selama bulan suci 1447 Hijriah/2026 M.
Surat edaran bernomor 400.14.1.1/926/PK1.2 tertanggal 13 Februari 2026 itu diteken Kepala Dinas, Ambrosius Kodo,S.Sos,M.M dan ditujukan kepada seluruh Kepala SMA, SMK, dan SLB se-NTT. Isinya bukan sekadar jadwal. Ia adalah pengakuan bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga tentang ruang batin.
╔══════════════════════════════════╗
“Penyesuaian ini memberi kesempatan kepada peserta didik beragama Islam untuk melaksanakan ibadah puasa secara khusyuk, tanpa meninggalkan tanggung jawab akademik.”
╚══════════════════════════════════╝
Begitulah semangat yang terbaca dari kebijakan tersebut.
Dari Imlek hingga Idul Fitri: Kalender yang Disusun dengan Rasa
Penyesuaian dimulai bahkan sebelum Ramadhan mengetuk pintu.
16–17 Februari 2026 ditetapkan sebagai libur Cuti Bersama Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
18 Februari–17 Maret 2026, kegiatan pembelajaran tetap berlangsung di sekolah dengan penyesuaian jam belajar sesuai ketentuan.
18–24 Maret 2026, ditetapkan sebagai libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
25 Maret 2026, sekolah kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Di atas kertas, ini adalah agenda administratif. Namun di ruang kelas, ia menjadi cerita yang berbeda.
Di sebuah SMA di Atambua, misalnya, guru-guru mulai membicarakan strategi pengurangan jam tanpa mengurangi esensi materi. “Belajar tetap jalan, tapi ritmenya kita buat lebih manusiawi,” ujar seorang guru, sambil menata buku absen.
Ramadhan bukan jeda pendidikan. Ia hanya mengubah tempo.
Pendidikan yang Mengerti Nafas Spiritual
Kebijakan ini merujuk pada Surat Keputusan Bersama tiga menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026. Namun lebih dari sekadar kepatuhan administratif, penyesuaian ini memperlihatkan satu hal penting: negara hadir dalam keseimbangan antara kewajiban akademik dan hak spiritual.
Di NTT yang plural, keputusan ini terasa seperti jembatan. Imlek dihormati, Ramadhan diatur dengan empati, Idul Fitri diberi ruang perayaan.
╔══════════════════════════════════╗
“Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi ruang membentuk karakter dan menghormati keyakinan.”
╚══════════════════════════════════╝
Dalam perspektif pendidikan modern, kebijakan semacam ini adalah wujud pendekatan humanistik—bahwa peserta didik adalah manusia utuh: intelektual, emosional, dan spiritual.
Ritme Baru di Bulan Suci
Jam belajar yang disesuaikan berarti pagi datang lebih ringan. Anak-anak yang berpuasa tidak dipaksa berlari dalam jadwal yang padat. Guru pun diajak lebih kreatif: memadatkan materi, memilih esensi, menata ulang metode.
Di beberapa sekolah, kegiatan tadarus pagi dan refleksi singkat sebelum pelajaran mulai menjadi kemungkinan. Bagi yang tidak berpuasa, suasana tetap inklusif—tidak ada sekat, hanya saling menghormati.
Ramadhan menjadi ruang pendidikan karakter: tentang disiplin, empati, dan pengendalian diri.
Setelah Takbir, Lonceng Kembali Berbunyi
Tanggal 25 Maret 2026, sekolah akan kembali normal. Buku-buku dibuka seperti biasa. Namun anak-anak datang dengan cerita baru—tentang sahur, tentang tarawih, tentang silaturahmi.
Kebijakan ini mungkin sederhana. Tetapi ia menyimpan pesan yang dalam: pendidikan dan spiritualitas tidak harus saling meniadakan.
Di NTT, Ramadhan tahun ini tidak menghentikan sekolah. Ia hanya mengajarkan bahwa belajar pun bisa berpuasa dari tergesa-gesa.
Dan ketika takbir usai menggema, lonceng sekolah kembali berbunyi—bukan sebagai rutinitas semata, melainkan sebagai tanda bahwa ilmu dan iman berjalan beriringan.


















