JAKARTA |LINTASTIMOR.ID]– Malam tak lagi sunyi di ibu kota. Di jalanan Senen, Kwitang, hingga di depan gedung DPR RI, massa terus bergerak seperti arus sungai yang tak terbendung. Api semangat bercampur dengan kabut gas air mata, teriakan berpadu dengan doa, dan langkah kaki menjadi dentuman yang mengguncang ruang kebangsaan.
Namun di balik riuh itu, suara teduh hadir. Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH., MH—seorang tokoh bangsa yang dikenal dengan kebijaksanaan dan kelembutan tutur—menyerukan sesuatu yang sederhana, namun mendalam: dialog.
“Obat luka bangsa bukan benturan, melainkan pertemuan hati dalam dialog yang tulus,” ungkapnya kepada media, seolah mengusap keresahan negeri.
Kota yang Gelisah, Bangsa yang Menunggu
Jakarta, bagi sebagian orang, adalah pusat kekuasaan. Tapi hari-hari ini, ia menjadi cermin kegelisahan bangsa. Jalanan dipenuhi poster, spanduk, dan suara rakyat yang menuntut perubahan.
Prof. Sutan menatap fenomena ini dengan keprihatinan. Ia tahu, setiap gas air mata yang ditembakkan, setiap benturan antara aparat dan massa, hanya menambah luka. “Tak ada benteng yang bisa menghentikan suara hati rakyat, kecuali telinga pemimpinnya sendiri yang mau mendengar,” katanya lirih.
Ia percaya, Presiden Prabowo Subianto sesungguhnya punya niat baik, terbukti dengan kerja keras hampir 200 hari terakhir. Tetapi, kelemahan koordinasi di tingkat bawah seringkali memunculkan masalah yang berlarut.
Luka yang Perlu Diobati
Prof. Sutan menggunakan perumpamaan sederhana namun sarat makna.
“Jika ada gigi yang rusak parah, maka sebaiknya dicabut agar sembuh. Begitu juga dalam pemerintahan—siapapun yang membuat bangsa ini sakit, harus berani dicopot demi kesehatan negara,” ujarnya.
Kata-katanya bagai cermin. Ia mengingatkan bahwa bangsa ini bukan sekadar mesin politik, melainkan tubuh yang hidup, yang bisa terluka dan butuh penyembuhan.
Lebih dari itu, ia menolak tuduhan bahwa gerakan rakyat ditunggangi asing. “Itu hanya bisikan hati yang kejam. Rakyat tidak menginginkan presiden mereka ditikam dari belakang. Yang mereka inginkan sederhana: negeri ini damai, adil, dan bahagia,” tegasnya.
Harapan di Tengah Air Mata
Prof. Sutan menyeru, jangan biarkan air mata rakyat jatuh sia-sia. Jangan biarkan darah atau nyawa menjadi harga yang dibayar untuk menyadarkan seorang pemimpin.
“Cukup sudah luka ini. Saatnya Presiden menanggalkan sekat, menjemput suara mahasiswa dan masyarakat dengan tangan terbuka. Dari dialoglah kita bisa merajut kembali persaudaraan kebangsaan,” katanya penuh harap.
Di ujung perbincangan, Prof. Sutan menatap jauh, seakan memandang wajah Indonesia yang ia cintai.
“Dialog adalah jembatan. Dari sanalah kita bisa membangun rumah bersama yang disebut Indonesia.”
Catatan Redaksi: Tulisan ini bukan hanya berita, tetapi doa. Doa agar riuh jalanan berubah menjadi pertemuan hangat di meja dialog. Agar tangis berganti senyum, dan bangsa ini menemukan kembali jalan pulangnya: kedamaian.