Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwa

Polwan di Garda Perbatasan AKBP Eliana Papote: Dari Kupang ke Kursi Kapolres TTU

52
×

Polwan di Garda Perbatasan AKBP Eliana Papote: Dari Kupang ke Kursi Kapolres TTU

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TTU | LINTASTIMOR.ID —Di tanah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, tempat garis peta berjumpa dengan realitas kehidupan masyarakat perbatasan, seorang perempuan berdiri di barisan terdepan menjaga hukum dan ketertiban.

Namanya AKBP Eliana Papote, S.I.K., M.M.

Example 300x600

Di tengah dominasi laki-laki dalam institusi kepolisian, polisi wanita (Polwan) asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini menorehkan jejak kepemimpinan yang tidak hanya kuat, tetapi juga penuh ketekunan. Ia kini dipercaya memimpin Kepolisian Resor Timor Tengah Utara (TTU)—sebuah wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Timor Leste.

Perjalanan hidupnya bukan sekadar kisah karier seorang perwira polisi. Ia adalah cerita tentang disiplin, pendidikan, dan keteguhan hati seorang perempuan dari timur Indonesia yang memilih jalan pengabdian.

Tumbuh dari Kupang

AKBP Eliana Papote lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 18 Januari 1985. Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok yang tekun dan disiplin.

Lingkungan keluarga dan pendidikan yang baik membentuk karakter kepemimpinan yang kelak menjadi fondasi kariernya.

Ia menempuh pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Kupang, salah satu sekolah favorit di ibu kota provinsi tersebut. Dari bangku sekolah inilah cita-citanya untuk mengabdi kepada negara mulai menemukan arah.

Pilihan hidupnya kemudian jatuh pada Akademi Kepolisian.

Pada tahun 2006, Eliana Papote resmi lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) sebagai taruni dan memulai perjalanan panjang sebagai perwira Polri.

Menapaki Tangga Karier

Langkah awal kariernya dimulai di Polda Kalimantan Tengah, ketika ia dipercaya sebagai Perwira Pembina Penegakan Hukum Bidang Lalu Lintas.

Di posisi awal inilah ia menempa diri dalam dunia kepolisian yang keras dan penuh tantangan. Rekan-rekannya mengenal Eliana sebagai sosok yang tekun, disiplin, dan memiliki kemampuan manajerial yang kuat.

Pada tahun 2015, ia kembali ke tanah kelahirannya, Nusa Tenggara Timur.

Di Direktorat Lalu Lintas Polda NTT, ia menjabat sebagai Perwira Urusan Registrasi dan Identifikasi (Regident). Dari sini namanya mulai dikenal sebagai perwira perempuan yang memiliki kompetensi teknis sekaligus kemampuan memimpin.

Di tengah kesibukan tugas, Eliana juga terus menempuh pendidikan. Ia menyelesaikan Sarjana Ilmu Kepolisian (S.I.K.) dan kemudian meraih Magister Manajemen (M.M.), memperkuat kapasitasnya sebagai pemimpin profesional.

Wakapolres Manggarai Barat

Kariernya terus bergerak naik.

Pada tahun 2020, Eliana Papote dipercaya menjabat sebagai Wakapolres Manggarai Barat—sebuah jabatan strategis yang menunjukkan besarnya kepercayaan pimpinan Polri terhadap kemampuannya.

Di wilayah yang juga dikenal sebagai gerbang pariwisata Labuan Bajo itu, ia aktif membangun komunikasi dengan masyarakat dan mendorong peningkatan profesionalisme anggota kepolisian.

Pengalaman lapangan, koordinasi lintas lembaga, serta pendekatan humanis kepada masyarakat menjadi bagian penting dari gaya kepemimpinannya.

Menempa Diri di Sespim Polri

Sebagai bagian dari pengembangan kepemimpinan, Eliana kemudian mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah Polri (Sespimmen).

Pendidikan ini merupakan tahap penting bagi perwira Polri yang dipersiapkan untuk menduduki jabatan strategis.

Selepas pendidikan tersebut, kariernya memasuki fase baru.

Kapolres Perbatasan

Momentum penting datang pada mutasi Polri akhir tahun 2024.

Dalam mutasi tersebut, AKBP Eliana Papote ditunjuk sebagai Kapolres Timor Tengah Utara (TTU) di bawah jajaran Polda Nusa Tenggara Timur.

Ia resmi menjabat pada 13 Januari 2025, menggantikan pejabat sebelumnya.

Penunjukan ini menjadi momen bersejarah karena tidak banyak polisi wanita yang dipercaya memimpin Polres, terlebih di wilayah perbatasan negara yang memiliki dinamika keamanan cukup kompleks.

Ia menjabat Kapolres pada usia sekitar 40 tahun.

Sebuah usia yang relatif muda untuk memimpin wilayah strategis seperti TTU.

Menjaga Tanah Perbatasan

Kabupaten Timor Tengah Utara adalah daerah yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Timor Leste.

Di wilayah ini, persoalan keamanan sering kali berkaitan dengan dinamika sosial masyarakat, kriminalitas, hingga isu lintas batas.

Sebagai Kapolres, Eliana Papote mengedepankan pendekatan yang humanis, tetapi tetap tegas dalam penegakan hukum.

Dalam berbagai kesempatan, ia juga menyoroti persoalan minuman keras yang kerap memicu tindak kriminal.

╔════════════════════════════════╗
“Sekitar 80 persen kasus kriminal di wilayah ini berkaitan dengan konsumsi minuman keras. Karena itu, pengendalian miras menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keamanan masyarakat.”
╚════════════════════════════════╝

Pernyataan tersebut menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang tidak hanya represif, tetapi juga preventif dan edukatif.

Simbol Perempuan dari Timur

Di balik seragam kepolisian yang tegas, AKBP Eliana Papote juga adalah seorang ibu dari tiga anak.

Ia menjalani dua dunia sekaligus: sebagai pemimpin institusi penegak hukum dan sebagai ibu dalam keluarga.

Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di Nusa Tenggara Timur—bahwa perempuan dari daerah timur Indonesia mampu berdiri sejajar di tingkat nasional.

Analisis Kontekstual

Kehadiran AKBP Eliana Papote sebagai Kapolres TTU memiliki makna yang lebih luas dari sekadar rotasi jabatan di tubuh Polri. Di tengah upaya mendorong kesetaraan gender dalam kepemimpinan publik, penunjukan seorang Polwan memimpin wilayah perbatasan negara menunjukkan perubahan paradigma dalam institusi kepolisian—bahwa kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh gender, melainkan oleh kompetensi, integritas, dan rekam jejak profesional.


Dari Kupang hingga memimpin Polres di wilayah perbatasan negara, perjalanan AKBP Eliana Papote adalah bukti bahwa kerja keras, pendidikan, dan integritas mampu membuka jalan menuju pengabdian tertinggi.

Di tanah perbatasan itu, ia berdiri bukan hanya sebagai Kapolres.

Tetapi juga sebagai simbol bahwa dari timur Indonesia, lahir pemimpin-pemimpin yang menjaga negeri dengan hati, keberanian, dan pengabdian yang sunyi namun berarti.

Example 300250
Penulis: Agustinus BobeEditor: Agustinus Bobe