ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID) – Senja belum lagi turun ketika tumpah ruah masyarakat Kabupaten Belu berkumpul di monumen Batas Kota Atambua, Sabtu (30/8/2025). Senyum, tangis haru, dan tangan-tangan terulur menyambut kepulangan seorang anak daerah yang namanya kini bergaung di panggung nasional: Petrus Yohannes Debrito Armando Djaga Kota—akrab disapa Piche Kota.
Dibalut kain adat, disuguhi bunga, bahkan sekadar pelukan dari warga yang menanti, Piche disambut layaknya pahlawan. Ia bukan pulang dengan gelar politik atau jabatan, melainkan dengan prestasi dan suara emas yang telah membanggakan perbatasan.
Suara dari Pemerintah Daerah
Mewakili Pemerintah Kabupaten Belu, Staf Ahli Bupati Belu Bidang Politik, Hukum, dan Pemerintahan, Aloysius Fahik, S.STP, menyampaikan sambutan hangat penuh kebanggaan.
“Tentunya kami sangat bangga padamu. Prestasi yang didapatkan adalah kebanggaan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Belu. Dengan adanya Piche Kota, kita yakin akan lahir Piche-Piche lain dari perbatasan ini,” ucap Aloysius, dengan mata berbinar menatap sosok muda itu.
Menurutnya, Piche Kota telah menunjukkan konsistensi: dari jalanan dan kafe kecil, ia kini menjadi corong musik nasional yang membawa harum nama Belu.
Dari Radio Lokal ke Panggung Nasional
Perjalanan Piche memang tak instan. Sebelum dikenal jutaan penonton Indonesia melalui Indonesian Idol Season XIII 2025 dan masuk hingga Top 6 Spektakuler Show, ia pernah meniti langkah kecil dari rumah sendiri. Tahun 2022, ia sudah menggebrak lewat Bintang Radio RRI Atambua hingga menjadi finalis.
Langkah kecil itu menjadi sayap. Kini, ia kembali pulang bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi juga simbol harapan.
Kota yang Menyambut dengan Cinta
Di Atambua, ribuan masyarakat menanti kehadirannya untuk penampilan perdana di tanah kelahiran. Ia akan tampil dalam Closing Ceremony Semarak Kemerdekaan ke-80 di Lapangan Umum Atambua, Minggu (31/8/2025). Lagu-lagu yang selama ini menjadi penopang kafe, jalanan, hingga layar televisi nasional, akan menggema dari panggung terbuka di jantung Belu.
Tak hanya warga Belu, para penonton dari Kabupaten Malaka dan TTU pun dipastikan datang. Sebab, pulang seorang Piche bukan sekadar hiburan—melainkan perayaan identitas dan kebanggaan orang perbatasan.
Singgah di Rumah, Lanjut ke Utara
Dari informasi yang dihimpun, Piche selama tiga hari akan tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah dinas DPRD Kabupaten Belu. Sementara tim manajemen beristirahat di Home Stay Alam Subur.
Selepas Atambua, Piche dijadwalkan melanjutkan tour ke Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, pada 2 September 2025.
Suara Harapan
Pulangnya Piche Kota memberi pesan bahwa mimpi tak mengenal batas negara, tak mengenal kecilnya sebuah kota. Dari Atambua—gerbang perbatasan yang sering disebut pinggiran—lahirlah suara yang kini menggema di televisi nasional.
“Saya hanya ingin membuktikan, anak kafe pun bisa naik ke panggung nasional. Dan saya pulang untuk kalian semua, masyarakat Belu,” tutur Piche singkat, menahan haru di depan kerumunan yang tak henti menyebut namanya.
Malam esok, ketika Piche berdiri di atas panggung Lapangan Umum Atambua, barangkali bukan hanya suaranya yang akan terdengar. Tapi juga degup bangga ribuan hati orang Belu yang melihat anaknya pulang, membawa cahaya dari perbatasan untuk seluruh Indonesia.