Dana Otsus Sudah Cair, Anak-anak Jila Masih Menunggu Bacaan
MIMIKA | LINTASTIMOR.ID —
Di Distrik Jila, sunyi lebih dahulu tiba dibanding bangunan. Di atas tanah yang seharusnya menjadi rumah ilmu bagi anak-anak SMP Negeri Jila, hanya berdiri umpak—pondasi yang seolah membeku dalam waktu. Sementara itu, dana proyek telah lebih dulu mengalir.
Proyek pembangunan Perpustakaan SMP Negeri Jila Tahun Anggaran 2025, yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, kini menuai sorotan. Bukan karena kemegahan desain, melainkan karena ketimpangan antara progres fisik dan pencairan anggaran.
Berdasarkan penelusuran pada laman LPSE Kabupaten Mimika, proyek ini tidak melalui mekanisme pelelangan karena nilai kontrak berada di bawah Rp1 miliar.
Dinas Pendidikan menggunakan skema Penunjukan Langsung (PL) dan menunjuk PT Harmoni Persada Mimika, beralamat di Jalan Diponegoro, Kelurahan Karang Senang, Distrik Kuala Kencana.
Nilai pagu proyek tercatat sebesar Rp950.000.000, dengan nilai kontrak Rp937.637.000.
Pekerjaan dimulai pada 27 Agustus 2025 dan seharusnya rampung pada akhir Desember 2025. Namun hingga memasuki Februari 2026, progres pembangunan baru sebatas pemasangan umpak—sementara berdasarkan laporan kontraktor, 30 persen dana proyek telah dicairkan oleh Dinas Pendidikan.
Sunyi di Lokasi, Gelisah di Hati Warga
Di lokasi proyek, tak terlihat aktivitas pekerja. Tak terdengar suara palu. Yang tersisa hanya jejak pondasi dan harapan yang menggantung.
Elly Dolame, tokoh pemuda asli Suku Amungme dari Distrik Jila, mengaku telah turun langsung mengecek kondisi di lapangan.
“Saya sudah cek langsung di lokasi. Pembangunan baru sampai pemasangan umpak, dan tidak ada pekerja kontraktor di Jila,” tegas Elly kepada Lintastimor.id.
Bagi Elly, perpustakaan bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol kehadiran negara di wilayah pedalaman—tempat anak-anak belajar mengenal dunia melalui buku.
“Ibu Kepala Dinas tolong panggil kontraktor. Anak-anak sekolah di Distrik Jila sangat membutuhkan tempat bacaan,” lanjutnya, dengan nada yang menahan amarah.
Ancaman Laporan Hukum
Kegelisahan itu tak berhenti pada pernyataan moral. Elly menyatakan siap membawa persoalan ini ke jalur hukum jika proyek terus dibiarkan stagnan.
“Kalau tidak dikerjakan, saya akan laporkan pihak-pihak terkait ke Polres Mimika, Kejaksaan di Timika, hingga KPK di Jakarta,” ujarnya.
Ancaman itu mencerminkan satu pesan: pembangunan pendidikan tidak boleh menjadi ruang abu-abu antara administrasi dan pembiaran.
Respons Dinas Pendidikan
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Jeani Oesmani, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, menyampaikan bahwa proyek tersebut akan ditindaklanjuti.
“Akan dicek dulu ya. Tapi pasti pekerjaan akan dikerjakan dan diselesaikan oleh kontraktor tersebut,” ungkapnya singkat.
Pernyataan itu menjadi satu-satunya suara resmi dari pemerintah daerah di tengah sunyi pembangunan di Distrik Jila.
Antara Anggaran dan Masa Depan Anak Jila
Di tanah Jila, anak-anak masih belajar tanpa perpustakaan. Di atas kertas, anggaran telah berjalan. Di lapangan, waktu seakan berhenti.
Perpustakaan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh literasi kini berubah menjadi tanda tanya besar tentang tanggung jawab, komitmen, dan keberpihakan pada pendidikan di wilayah pinggiran.
Karena bagi anak-anak Jila, setiap hari tanpa buku adalah hari yang hilang dari masa depan mereka.


















