KEFAMENANU |LINTASTIMOR.ID] – Malam mulai merambat di Dusun 3 Desa Inbate. Di rumah sederhana yang masih menyisakan keheningan pasca luka, Paulus Taeki Oki menyambut dengan senyum yang tertahan. Ia adalah saksi hidup sekaligus korban dalam kisah perbatasan yang nyaris merenggut nyawanya. Dari bibirnya mengalir cerita tentang batas, tanah, dan peluru yang memutus damai di tepian negeri.
Paulus Oki baru saja kembali dari perjalanan yang penuh perih—bukan perjalanan jauh, melainkan dari ruang luka menuju ruang pemulihan. Tubuhnya kini membaik, meski hatinya masih menyimpan jejak peluru yang melesat di tanah tempat ia berpijak sejak lahir.
“Awalnya kami hanya ingin menjaga batas, menjaga tanah yang kami yakini sebagai Indonesia,” tutur Paulus dengan suara berat, Jumat (29/8/2025) malam, ketika ditemui Redaksi Lintastimor.id di kediamannya.
Hari itu, di hamparan perbatasan Distrik Oe-Cuse Pasabe, ia bersama puluhan warga Inbate melihat sekelompok orang dari Timor Leste datang membawa semen. Niat mereka jelas: menanam pilar batas. Tetapi masalah muncul ketika titik yang dipilih justru masuk hampir lima puluh meter ke wilayah Indonesia.
“Kami lihat ada empat orang bawa semen. Kami tegur, mereka langsung lari. Tidak lama kemudian mereka kembali lagi dengan tiga orang tambahan, termasuk dua polisi Timor Leste. Jumlah mereka jadi tujuh,” kenang Paulus.
Benturan tak terhindarkan. Kata-kata berubah jadi lemparan batu, sementara dari seberang muncul suara letusan senjata. Udara yang tadinya hening pecah oleh dentum, dan satu peluru singgah di tubuh Paulus.
“Yang luka hanya saya. Kami ada 24 orang, tidak ada yang lain terluka. Mereka yang tembak duluan, kami hanya membalas dengan lemparan batu,” ucapnya, seraya menunduk.
Kini, di rumahnya di Dusun 3, Paulus duduk dikelilingi keluarga. Luka fisik mungkin perlahan sembuh, tetapi kisah perbatasan itu masih akan dikenang. Sebab batas negara bukan hanya soal garis di tanah, tetapi juga soal darah dan air mata yang pernah jatuh di atasnya.
Pihak kepolisian telah mengambil keterangan dari Paulus dan 23 warga lainnya. Sementara di seberang, batas kembali hening. Namun, keheningan itu selalu menyimpan pertanyaan: sampai kapan damai bisa bertahan di ujung negeri?