Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Hukum & KriminalKabupaten MappiKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Paskah di Tengah Bara: Ananias Faot Menyeru Damai, Hentikan Perang Saudara di Kwamki Narama

153
×

Paskah di Tengah Bara: Ananias Faot Menyeru Damai, Hentikan Perang Saudara di Kwamki Narama

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA |LINTASTIMOR.ID – Siang itu, di tanah Kwamki Narama yang biasanya teduh, gema duka menggantung di udara. Langkah aparat dan pejabat daerah menyusuri jejak konflik yang belum juga padam—perang saudara antara kubu Dang dan kubu Newegalen yang telah merenggut nyawa, melukai tubuh, dan meretakkan ikatan keluarga sendiri.

Di tengah suasana mencekam itu, harapan datang bersama rombongan Pemerintah Daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, hadir bersama perwakilan Pemda Mimika, Asisten I Ananias Faot, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman, Danyon Detasemen B Pelopor Satuan Brimob Polda Papua Tengah Kompol Umbo Sairo, serta para kepala distrik Kwamki Narama dan Tembagapura. Mereka tidak sekadar datang—mereka membawa pesan yang lebih besar dari sekadar himbauan: menghentikan luka yang diwariskan oleh konflik.

Example 300x600

Dengan suara yang berat oleh empati, Nenu Tabuni menyampaikan duka mendalam atas korban yang jatuh—mereka yang sejatinya berasal dari satu akar keluarga di Kabupaten Puncak.

┌──────────────────────────────────────────┐
“Turut prihatin dan berbela sungkawa atas jatuhnya korban jiwa antara kubu Dang dan kubu Newegalen yang satu keluarga berasal dari Kabupaten Puncak. Mari kita akhiri perang saudara ini dan hidup dalam damai.”
└──────────────────────────────────────────┘

Ia menegaskan, tidak boleh ada lagi ruang bagi kekerasan yang lahir dari konflik internal. Perang ini, katanya, bukan hanya melukai tubuh, tetapi juga merobek jalinan persaudaraan yang seharusnya dijaga.

┌──────────────────────────────────────────┐
“Tidak ada perang, tidak ada izin untuk perang suku. Siapa pun yang melakukan kejahatan akan diproses sesuai hukum.”
└──────────────────────────────────────────┘

Sementara itu, Ananias Faot berdiri dengan nada yang lebih mengajak, membawa semangat rekonsiliasi yang berakar pada momentum suci Paskah. Ia mengingatkan bahwa di tengah luka, selalu ada ruang untuk kembali—untuk memulai ulang, untuk memaafkan.

┌──────────────────────────────────────────┐
“Sekarang hari Paskah, hentikan perang ini. Mari dengan perayaan suci ini kita berdamai, hidup kembali normal, dan saling memaafkan sesama saudara.”
└──────────────────────────────────────────┘

Pesan itu bukan sekadar seruan, melainkan panggilan nurani—terlebih setelah jatuhnya korban, Yunius Magai, yang menjadi simbol betapa mahal harga dari konflik yang terus dibiarkan menyala.

Kunjungan ini menjadi momen penting, bukan hanya sebagai langkah mediasi, tetapi juga sebagai pengingat bahwa konflik horizontal di Papua kerap berakar pada relasi kekerabatan yang kompleks. Ketika konflik dibiarkan berlarut, ia tidak hanya menciptakan korban jiwa, tetapi juga memutus mata rantai sosial yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat adat.

Kini, di tengah gema lonceng Paskah yang seharusnya membawa kabar kebangkitan, Kwamki Narama berdiri di persimpangan: melanjutkan dendam, atau memilih damai sebagai jalan pulang.

Dan mungkin, seperti yang diharapkan banyak pihak, damai bukan sekadar pilihan—melainkan satu-satunya cara untuk menyelamatkan masa depan yang tersisa.

Example 300250