ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID – Pagi yang cerah di Desa Rafae, Kabupaten Belu, Sabtu (14/3/2025), terasa berbeda dari biasanya. Di hamparan kebun yang memerah oleh tomat matang, tawa petani dan langkah-langkah tamu undangan menyatu dengan aroma tanah yang baru dipetik hasilnya. Hari itu, bukan sekadar panen tomat—melainkan perayaan kecil atas harapan besar dari sebuah desa di beranda negeri.
Di tengah barisan tanaman tomat yang ranum, Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST, hadir menyapa para petani. Turut mendampingi dalam momentum panen tersebut, Perwakilan PT Agrinas Pangan Nusantara NTT Brigjen TNI Joao Xavier Barreto Nunes, Plt. Kepala Dinas Pertanian, serta Kabag Prokopim Setda Belu.
Suasana terasa hangat dan penuh optimisme. Para petani memetik tomat merah yang segar, sementara para pejabat berdialog langsung dengan masyarakat, menyaksikan bagaimana kerja keras berbulan-bulan akhirnya berbuah.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Belu menegaskan pentingnya keberlanjutan produksi pangan di wilayah perbatasan. Ia berharap masyarakat Rafae tidak berhenti pada satu komoditas saja, tetapi mulai mengembangkan tanaman hortikultura lainnya demi memperkuat ketahanan pangan daerah.
╔════════════════════════════════╗
“Hari ini kita melakukan panen tomat di Desa Rafae. Semoga masyarakat Rafae terus berproduksi, tidak hanya tomat tetapi juga lombok, jagung, dan komoditas lainnya. Dengan begitu ketahanan pangan di Kabupaten Belu tetap terjaga, harga di pasar bisa ditekan, dan ekonomi keluarga serta ekonomi daerah dapat meningkat.”
— Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves
╚════════════════════════════════╝
Sementara itu, perwakilan PT Agrinas Pangan Nusantara NTT, Brigjen TNI Joao Xavier Barreto Nunes, menilai panen ini merupakan bukti nyata partisipasi masyarakat dalam memperkuat fondasi ketahanan pangan di Belu.
Menurutnya, tomat hasil panen tersebut nantinya akan masuk dalam rantai distribusi Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih, sehingga manfaat ekonomi dari produksi petani dapat dirasakan lebih luas.
╔════════════════════════════════╗
“Ini merupakan salah satu wujud ketahanan pangan yang nantinya akan masuk ke Koperasi Merah Putih. Jika suatu saat kita memiliki kelebihan stok tomat, maka akan kita kirim ke kabupaten tetangga bahkan ke Timor Leste. Komoditas ini juga akan kita dorong masuk ke program MBG karena kualitasnya sangat segar.”
— Brigjen TNI Joao Xavier Barreto Nunes
╚════════════════════════════════╝
Secara kontekstual, panen tomat di Rafae bukan sekadar aktivitas pertanian biasa. Di wilayah perbatasan seperti Belu, produksi hortikultura memiliki makna strategis: menjaga stabilitas harga pangan lokal, memperkuat ekonomi keluarga petani, sekaligus membuka peluang perdagangan lintas wilayah hingga ke negara tetangga, Timor Leste. Ketika desa mampu menghasilkan surplus pangan, ia tidak hanya memberi makan warganya, tetapi juga menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan pasar-pasar di kawasan perbatasan.
Di bawah langit Rafae yang mulai meninggi, keranjang-keranjang tomat terus terisi. Di balik buah merah yang dipetik satu per satu, tersimpan kisah kerja keras petani, harapan keluarga, dan mimpi sebuah daerah untuk berdiri tegak dengan kekuatan pangannya sendiri—sebuah pengingat bahwa dari ladang-ladang kecil di perbatasan, masa depan kemandirian pangan bangsa perlahan sedang ditanam.


















