MALAKA | LINTASTIMOR.ID—
Siang itu, Pantai Cemara Abudenok tak sekadar menjadi ruang rekreasi. Ia berubah menjadi altar sunyi, tempat doa-doa tergantung di antara debur ombak dan desir angin pesisir. Di bawah matahari yang masih tegak, seorang anak lelaki tak kembali dari laut—dan sejak itu, waktu seolah berjalan lebih lambat.
Sekitar pukul 12.30 WITA, tawa yang semula riang berubah menjadi kepanikan yang tertahan. Jorganio Faot, yang akrab disapa Dito (15), pelajar SMP Negeri Fatukoan, hilang ditelan ombak saat mandi bersama teman-temannya di tepi Pantai Cemara Abudenok, Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat.
Ia datang bukan untuk menantang laut, melainkan merayakan kebersamaan. Rombongan 32 siswa dengan empat orang dewasa pendamping tiba untuk berpiknik—sebuah jeda sederhana dari rutinitas sekolah. Namun laut memiliki bahasa sendiri. Dalam hitungan detik, langkah Dito diduga terlalu jauh ke dalam. Ombak datang tanpa aba-aba. Dan laut tak mengembalikan tubuh kecil itu ke permukaan.
“Kami melihat dia masih di air… lalu tiba-tiba tidak muncul lagi,”
(ucap seorang rekan korban, lirih, dengan mata yang tak sanggup menatap laut).
Laporan cepat disampaikan kepada pendamping dan petugas penjaga pantai. Namun harap berkejaran dengan waktu. Baru pada pukul 14.45 WITA, kabar itu sampai ke Piket Polsek Malaka Barat—sebuah jeda yang terasa panjang bagi mereka yang menunggu di tepi pantai, menatap horizon dengan cemas.
Tak lama berselang, Polri bergerak sigap. Kapolsek Malaka Barat bersama personel piket dan Bhabinkamtibmas Desa Umatoos tiba di lokasi. Garis pantai disusuri. Mata menyisir ombak. Koordinasi dilakukan dengan nelayan setempat, memanfaatkan perahu sederhana—kayu, dayung, dan harap—untuk menembus laut yang terus berdenyut.
Pencarian tak berdiri sendiri. Dinas Sosial dan Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka turut dikoordinasikan, menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar insiden, melainkan urusan kemanusiaan yang memanggil semua pihak.
“Kami lakukan pencarian maksimal, berkoordinasi dengan semua unsur,”
(kata seorang petugas di lokasi, dengan suara yang dijaga tetap tenang).
Pantai Cemara Abudenok sore itu tidak ramai. Yang terdengar hanya suara ombak—berulang, tak lelah—seolah menguji kesabaran manusia. Di pasir, langkah-langkah kecil tertinggal. Di udara, doa-doa mengapung. Di dada, duka menunggu kepastian.
Bagi keluarga, hari itu adalah luka yang belum bernama. Bagi teman-teman Dito, laut tak lagi sama. Dan bagi semua yang hadir, peristiwa ini menjadi pengingat: alam selalu indah, tetapi ia juga menyimpan kuasa yang tak bisa disepelekan.
Pencarian terus dilakukan. Harapan belum dilepaskan. Sebab di pesisir seperti ini, manusia belajar satu hal yang paling sunyi:
bahwa kehilangan bukan hanya tentang yang pergi, tetapi tentang yang tinggal—menunggu, berdoa, dan berharap.


















