Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwa

Ombak yang Merenggut Senyum: Doa dan Duka di Pantai Abudenok

316
×

Ombak yang Merenggut Senyum: Doa dan Duka di Pantai Abudenok

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BETUN |LINTASTIMOR.ID- Minggu itu, laut Abudenok tidak hanya bergelombang—ia membawa kabar duka. Di antara riuh rekreasi dan tawa anak-anak, satu nama kini dipanggil dalam doa yang tak putus: Jorgenio Kristian Faot, akrab disapa Dito Faot. Seorang murid SMP yang terseret arus, meninggalkan sunyi yang mendalam di hati keluarga, guru, dan teman-temannya.

Kronik Singkat di Tepi Pantai

Peristiwa terjadi Minggu, 1 Februari 2026, di Pantai Cemara Abudenok, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur,perbatasan RI- Timor Leste.

Example 300x600

Rombongan siswa/i SMP Fatuk Oan, Biudukfoho, datang untuk rekreasi. Namun alam tiba-tiba berubah wajah. Arus kuat dan gelombang menyeret Dito—seketika, kegembiraan berganti kepanikan.

Unggahan warga di media sosial menyebutkan bahwa rombongan berasal dari Biudukfoho, Kecamatan Rinhat. Seruan pun segera disampaikan agar orang tua korban di Biudukfoho datang ke lokasi untuk membantu proses pencarian. Pantai yang biasa ramah itu berubah menjadi ruang harap yang menahan napas.

“Tuhan, tunjukkan kuasa-Mu. Semoga Dito segera ditemukan.”
(Doa yang mengalir dari rekan-rekan sekolah dan warga)

Informasi dari Unggahan Warga

Dalam unggahan yang beredar, disebutkan bahwa salah satu anak dari rombongan tersebut tenggelam di Pantai Cemara Abudenok. Unggahan itu juga menegaskan identitas sekolah korban sebagai SMP Fatuk Oan Biudukfoho, sekaligus permohonan terbuka kepada masyarakat agar informasi ini segera disampaikan kepada keluarga korban.

Seruan itu menyebar cepat—menjadi pengikat empati, menyatukan warga dalam satu tujuan: menemukan Dito.

“Satu unggahan, ribuan doa.”

Detik-Detik yang Mengubah Segalanya

Di foto-foto yang beredar, wajah-wajah cemas berkumpul di pasir. Anak-anak berdiri mematung, sebagian menunduk, sebagian memandang laut—seolah menunggu laut mengembalikan yang ia ambil. Guru dan warga bahu-membahu, suara memanggil nama Dito berulang, lalu tenggelam oleh desau ombak.

“Kami datang untuk bermain, pulang membawa duka.”
(Seorang rekan sekolah, lirih)

Analitik Alam: Ketika Arus Menguat

Wilayah pesisir Abudenok pada hari itu dipengaruhi arus balik (rip current)—fenomena laut yang sering muncul tiba-tiba di pantai berpasir dengan vegetasi cemara. Perubahan angin, tinggi gelombang, dan kontur dasar laut dapat menciptakan tarikan kuat ke arah laut lepas—sunyi, cepat, dan mematikan, terutama bagi anak-anak yang tidak menyadari bahaya.

“Laut tidak selalu marah dengan suara; kadang ia diam, lalu menarik.”

Doa, Pencarian, dan Harap

Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian masih berlangsung dengan dukungan warga setempat. Sekolah, keluarga, dan masyarakat menyatukan doa—memohon keajaiban, memohon kekuatan, dan memohon agar laut berkenan mengembalikan yang ia simpan.

“Kami percaya, di antara ombak dan doa, Tuhan masih bekerja.”

Pantai Abudenok sore itu menyimpan jejak langkah kecil yang terputus. Di pasir, doa-doa dititipkan. Di laut, harap dipanggil. Dito, namamu kini menjadi nyala yang dijaga bersama—agar tak padam oleh gelombang.

 

Example 300250