Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKesehatanNasionalPeristiwaPolkam

Obat Malaria DHP-Frimal tersedia, Puskesmas Timika dorong pencatatan berbasis NIK cegah Duplikasi data

40
×

Obat Malaria DHP-Frimal tersedia, Puskesmas Timika dorong pencatatan berbasis NIK cegah Duplikasi data

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA, LINTASTIMOR.ID — Ketersediaan obat malaria kembali dipastikan aman. Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung, mengonfirmasi bahwa obat malaria DHP–Frimal tablet atau yang dikenal luas sebagai obat biru kini tersedia cukup dan telah didistribusikan oleh Dinas Kesehatan.

Seiring dengan ketersediaan obat tersebut, Puskesmas Timika juga memperkuat sistem pencatatan pasien berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK). Langkah ini dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya duplikasi data pasien malaria yang selama ini kerap terjadi akibat sistem pencatatan manual dan lintas fasilitas layanan kesehatan.

Example 300x600

“Pencatatan berbasis NIK sudah kami terapkan. Idealnya setiap pasien yang datang berobat dicatat menggunakan NIK. Namun jika pasien tidak dapat menunjukkan identitas, pelayanan tetap diberikan dan pelaporan akan disesuaikan,” jelas dr. Moses.

Ia menerangkan, sistem pencatatan yang belum terintegrasi membuat satu orang bisa tercatat sebagai beberapa kasus, hanya karena berobat di fasilitas kesehatan yang berbeda dalam waktu berdekatan. Kondisi inilah yang turut memengaruhi tingginya angka malaria yang tercatat secara statistik.

“Misalnya pagi berobat di satu puskesmas, lalu siang ke puskesmas lain atau klinik berbeda, orang yang sama bisa tercatat sebagai dua kasus. Dengan NIK, ini bisa terdeteksi,” ujarnya.

Melalui pencatatan berbasis NIK, Puskesmas berharap data kasus malaria dapat lebih akurat. Sistem akan mengenali pasien yang telah terdiagnosis dan menjalani pengobatan, sehingga tidak lagi tercatat sebagai kasus baru ketika datang kembali dalam waktu singkat.

Saat ini, jumlah pasien dengan keluhan yang mengarah pada malaria di Puskesmas Timika masih tergolong tinggi, dengan rata-rata 30 hingga 40 orang per hari. Dalam daftar 10 besar penyakit yang paling sering ditangani, malaria masih menempati posisi atas dan kerap saling bergantian dengan penyakit lainnya.

Tingginya angka tersebut juga dipengaruhi oleh kebijakan pemeriksaan malaria yang diperluas. Tahun ini, Puskesmas Timika menawarkan pemeriksaan malaria kepada seluruh pengunjung dengan gejala yang sesuai, bahkan sebagai bagian dari skrining rutin.

“Sekitar 80 hingga 85 persen pengunjung sudah kami periksa malaria. Angkanya memang terlihat naik, tapi ini justru membuat kita tahu secara pasti siapa yang benar-benar terinfeksi dan bisa segera diobati,” tambahnya.

Selain pengobatan, upaya pencegahan juga terus digencarkan. Program pembagian kelambu masih berjalan, terutama bagi ibu hamil sebagai kelompok prioritas, dengan cakupan mencapai 80 hingga 85 persen.

Dr. Moses juga mengingatkan masyarakat agar disiplin menjalani pengobatan malaria hingga tuntas serta menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk. Ia mengimbau warga yang beraktivitas di malam hari agar menggunakan pakaian panjang dan obat anti nyamuk guna menghindari gigitan nyamuk penular malaria.

 

Example 300250