Scroll untuk baca artikel
Dirgahayu Indonesia 80
Example 728x250
NasionalPeristiwaPolkam

Negara Hadir, Rakyat Didengar: Seruan Damai Presiden Prabowo Subianto di Tengah Gejolak Aspirasi

88
×

Negara Hadir, Rakyat Didengar: Seruan Damai Presiden Prabowo Subianto di Tengah Gejolak Aspirasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID) —
Di tanah perbatasan, di mana suara rakyat kecil sering lebih nyaring daripada dentum kendaraan di jalan raya, sebuah pesan kenegaraan hadir dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Pesan yang sejuk, damai, dan mengikat simpul persatuan bangsa yang sempat terurai oleh riak-riak gelombang aspirasi.

Presiden Prabowo membuka dengan ketegasan yang lembut: negara menghormati kebebasan berpendapat, tetapi menolak keras anarkisme, perusakan, dan penjarahan.
“Negara menghormati kebebasan penyampaian pendapat dan aspirasi murni dari masyarakat. Namun jika ada aktivitas anarkis, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan, itu pelanggaran hukum dan negara wajib hadir untuk melindungi rakyatnya,” ujar Presiden Prabowo Subianto dalam pernyataannya, Minggu (31/8/2025).

Example 300x600

Di Atambua, pesan ini bergema seperti doa. Warga sederhana, para pedagang kecil, kaum buruh, dan mahasiswa perbatasan merasa bahwa kata-kata Presiden adalah jaminan: suara mereka tidak dibungkam, tapi juga tidak boleh disalurkan dengan cara yang merusak.

Langkah nyata pun telah diambil. Kepolisian bergerak cepat memeriksa aparat yang keliru bertindak secara transparan. DPR RI merapatkan barisan, mencabut sejumlah kebijakan kontroversial yang membebani rakyat, termasuk soal tunjangan dan perjalanan luar negeri. Bahkan para ketua umum partai politik menindak tegas kadernya yang menyampaikan pernyataan keliru.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dijamin, sebagaimana diatur dalam United Nations International Covenant on Civil and Political Rights Pasal 19 serta UU Nomor 9 Tahun 1998. Aspirasi boleh dan harus disampaikan, tetapi dengan cara damai.

“Kepada Polri dan TNI, saya perintahkan untuk mengambil tindakan setegas-tegasnya terhadap perusakan fasilitas umum, penjarahan rumah individu, dan sentra-sentra ekonomi sesuai hukum yang berlaku,” tegas Presiden Prabowo.

Lebih jauh, ia memanggil semua unsur bangsa untuk duduk bersama. Pimpinan DPR, kementerian, lembaga, hingga tokoh masyarakat dan mahasiswa diminta membuka ruang dialog. Sebuah undangan persaudaraan, di mana kritik bukanlah musuh, melainkan cahaya untuk memperbaiki langkah.

“Kepada seluruh masyarakat, silakan sampaikan aspirasi secara damai. Kami pastikan akan didengar, dicatat, dan ditindaklanjuti. Saya minta seluruh warga negara untuk percaya kepada pemerintah dan tetap tenang. Pemerintah yang saya pimpin bertekad memperjuangkan kepentingan rakyat, termasuk rakyat yang paling kecil dan tertinggal,” tutur Presiden Prabowo, suaranya bagai peneduh di tengah terik perdebatan.

Dan ketika kalimat terakhir itu diucapkan, seolah seluruh negeri teringat kembali pada warisan luhur nenek moyang: gotong royong.
“Indonesia sudah berada di ambang kebangkitan, jangan mau diadu domba. Semangat nenek moyang kita adalah gotong royong. Mari kita bergotong royong menjaga lingkungan, keluarga, dan negara kita,” ajaknya penuh kasih.

Di tanah perbatasan ini, seruan Presiden Prabowo menggema bagai doa yang menyejukkan. Dari dusun ke dusun, dari rumah ke rumah, rakyat percaya: negara hadir, rakyat didengar.

Dan Kitab Suci pun meneguhkan pesan itu dengan firman yang abadi:

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9)


 

Example 300250