Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalKabupaten MimikaPolkam

Nama Kapolres Dicatut, Enam Kepala Kampung Nyaris Tertipu Modus Permintaan Dana Buka Puasa

54
×

Nama Kapolres Dicatut, Enam Kepala Kampung Nyaris Tertipu Modus Permintaan Dana Buka Puasa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAYAPURA | LINTASTIMOR.ID — Sebuah pesan berantai yang tampak sederhana nyaris menjerat enam kepala kampung di Kabupaten Jayapura. Di balik kalimat yang seolah resmi itu, terselip sebuah nama besar: Kapolres Jayapura, AKBP Dionisius Paron Helan.

Pesan tersebut beredar melalui telepon seluler, membawa permintaan bantuan dana untuk kegiatan buka puasa Kapolres Jayapura. Bahkan, untuk meyakinkan para penerimanya, pelaku menyertakan nomor rekening sebagai tujuan pengiriman uang.

Example 300x600

Namun sebelum kerugian benar-benar terjadi, kabar itu sampai ke telinga sang Kapolres.

Dari Sentani, Sabtu (7/3/2026), AKBP Dionisius Paron Helan dengan nada tegas langsung membantah keras pesan tersebut. Ia memastikan bahwa informasi yang beredar itu adalah hoaks dan tidak pernah berasal dari dirinya maupun institusi Polres Jayapura.

╔════════════════════════════════╗
“Kami Polres Jayapura tidak pernah meminta dana sepeser pun, apalagi membawa nama saya sebagai Kapolres Jayapura. Itu adalah fitnah dan hoaks.”
╚════════════════════════════════╝

Kapolres menegaskan bahwa dirinya tidak pernah meminta bantuan dana kepada siapa pun, termasuk kepada para kepala kampung di wilayah Kabupaten Jayapura.

Perwira yang pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Mimika dan Kabag Ops Polres Mimika itu juga meminta masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap pesan yang mencatut namanya.

╔════════════════════════════════╗
“Untuk masyarakat yang menerima informasi itu, tolong tidak ditanggapi permintaan yang mengatasnamakan Kapolres Jayapura, apalagi permintaan dana untuk ditransfer. Saya pastikan itu informasi tidak benar dan hoaks.”
╚════════════════════════════════╝

Ia juga mengimbau agar setiap pesan mencurigakan segera dilaporkan kepada kepolisian.

╔════════════════════════════════╗
“Jika ada yang menerima informasi permintaan dana seperti itu, segera laporkan melalui call center 110 dan anggota kami akan menindaklanjuti. Sekali lagi saya pastikan bahwa saya tidak pernah meminta bantuan dana kepada kepala kampung.”
╚════════════════════════════════╝

Saat ini, pihak Polres Jayapura tengah melakukan penelusuran untuk melacak pelaku yang menyebarkan pesan berantai tersebut.

Kapolres menegaskan bahwa aparatnya sedang bekerja untuk mengungkap sumber penyebaran hoaks itu dan akan menempuh langkah hukum jika pelaku berhasil diidentifikasi.

╔════════════════════════════════╗
“Anggota kita sementara menyelidiki pelaku penyebar pesan berantai itu. Kita akan lakukan langkah hukum jika kita dapat pelaku.”
╚════════════════════════════════╝

Fenomena pencatutan nama pejabat publik untuk melakukan penipuan sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, modus serupa semakin sering muncul melalui pesan singkat maupun aplikasi percakapan digital. Pelaku memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap figur otoritas untuk menciptakan kesan urgensi dan legitimasi, sehingga korban terdorong untuk segera mentransfer dana tanpa verifikasi lebih lanjut.

Kasus yang nyaris menimpa enam kepala kampung di Kabupaten Jayapura ini kembali menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan di era komunikasi digital yang serba cepat.

Di tengah derasnya arus informasi, satu hal tetap menjadi benteng paling kuat: kehati-hatian sebelum percaya.

Sebab di zaman ketika nama bisa dipinjam dan pesan bisa dipalsukan, kewaspadaan adalah cara paling sederhana untuk melindungi diri dari tipu daya yang bersembunyi di balik layar telepon.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe