Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalOtomotifPeristiwaPolkamTeknologi

Menunggu Sayap Dunia Kembali Terbuka

126
×

Menunggu Sayap Dunia Kembali Terbuka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Dari El Tari, NTT Menata Ulang Pintu Internasionalnya

KUPANG | LINTASTIMOR.ID — Pagi di Bandara El Tari, Senin (19/1/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar lalu-lalang petugas dan denting roda koper, tetapi ada ketegangan sunyi yang menyimpan harapan besar: Nusa Tenggara Timur sedang bersiap membuka kembali pintunya ke dunia.

Di ruang rapat bandara, Gubernur NTT Melki Laka Lena memimpin langsung pemeriksaan kesiapan dan simulasi operasional reaktivasi status internasional Bandara El Tari Kupang. Hadir lengkap seluruh simpul layanan penerbangan internasional—TNI AU Lanud El Tari, Kementerian Perhubungan, Imigrasi, Bea Cukai, Kekarantinaan Kesehatan, Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan, AirNav, InJourney Airports, maskapai, operator kargo, hingga pelaku usaha pendukung.

Example 300x600

Ini bukan rapat biasa. Ini adalah rapat tentang kepercayaan, tentang apakah negara siap melayani dunia dari timur Indonesia dengan standar yang bermartabat.

“Saya minta semua pihak bergerak serempak. Fokus pada pemenuhan fasilitas minimal sesuai regulasi agar operasional bisa segera berjalan, sambil penyempurnaan dilakukan bertahap. Momentum ini tidak boleh tertunda,”
— Gubernur NTT, Melki Laka Lena

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada keras, tetapi mengandung bobot tanggung jawab. Karena reaktivasi Bandara El Tari bukan sekadar mengubah status administratif. Ia adalah agenda strategis lintas sektor, kerja bersama yang menuntut disiplin sistem dan kepekaan pelayanan.

Bandara sebagai Wajah Negara

Paparan dari InJourney Airports menunjukkan progres yang tak bisa dipandang remeh. Terminal internasional mulai bernapas kembali: perbaikan fisik bangunan, sistem air dan sanitasi, pendingin ruangan, hingga penataan ulang alur penumpang kedatangan dan keberangkatan internasional. Semua diarahkan pada satu tujuan—pelayanan yang manusiawi, aman, dan efisien.

Usai rapat, rombongan meninjau langsung terminal. Bukan untuk seremoni, melainkan memastikan bahwa apa yang tertulis di kertas benar-benar hadir di lapangan. Di titik inilah tata kelola diuji: apakah negara hadir sebagai pengatur yang hidup, bukan sekadar regulasi mati.

“Kami mulai melakukan hitung mundur menuju pembukaan, termasuk mendorong maskapai dan operator kargo menyiapkan penerbangan internasional perdana,”
ujar salah satu perwakilan pengelola bandara.

Rute prioritas telah disiapkan—Timor Leste, Darwin (Australia), dan Malaysia—jalur-jalur yang bukan hanya menjanjikan trafik penumpang, tetapi juga membuka akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan bagi pekerja migran NTT.

Lebih dari Landasan Pacu

Reaktivasi Bandara Internasional El Tari adalah narasi tentang martabat wilayah. Tentang bagaimana Kupang diposisikan sebagai simpul transportasi kawasan timur Indonesia, bukan sekadar daerah transit, tetapi titik temu pergerakan manusia, barang, dan gagasan.

Bandara, dalam konteks ini, adalah ruang etika pelayanan publik. Di sanalah wajah negara pertama kali dilihat—oleh pekerja migran yang pulang, oleh investor yang datang, oleh diaspora yang kembali mencari akar.

Di sinilah pesan Gubernur NTT menemukan maknanya yang lebih dalam: bahwa pelayanan prima bukan hasil kerja satu institusi, melainkan orkestrasi sistem yang saling percaya dan saling menguatkan.

Pelajaran bagi Publik

Peristiwa ini mengajarkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dari ketertiban prosedur, kepatuhan regulasi, dan kesadaran akan dampak sosial. Bahwa keterlambatan bukan sekadar soal waktu, melainkan soal hilangnya kesempatan bagi masyarakat.

Targetnya jelas: Februari 2026, penerbangan internasional mulai beroperasi. Namun lebih dari target tanggal, yang diuji adalah komitmen—apakah kolaborasi lintas sektor ini mampu bertahan hingga pesawat internasional benar-benar kembali mendarat di Kupang.

El Tari bukan hanya bandara. Ia adalah simbol kesiapan NTT untuk kembali berdialog dengan dunia—dengan kepala tegak, sistem rapi, dan pelayanan yang memanusiakan.

Dan dari landasan pacu ini, NTT sedang belajar satu hal penting: bahwa terbang tinggi selalu dimulai dari kesiapan di darat.

Example 300250