ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Pagi itu, Ruang Sekretaris Daerah Kabupaten Belu tidak sekadar menjadi tempat rapat. Ia menjelma ruang sunyi tempat gagasan saling bertemu, seperti sungai-sungai kecil yang hendak disatukan menuju muara besar bernama pembangunan. Di sanalah Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST, memimpin diskusi arah kebijakan percepatan pembangunan, Rabu (7/1/2026).
Tak ada tepuk tangan, tak ada slogan besar. Yang hadir adalah kesadaran bahwa waktu terus berjalan, sementara harapan masyarakat tak bisa lagi menunggu. Diskusi ini bukan seremoni, melainkan upaya menyamakan denyut—agar pemerintah tidak melangkah sendiri-sendiri, dan pembangunan tak sekadar cepat, tetapi tepat sasaran.
Di hadapan Plh. Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, para Staf Khusus Bupati, pimpinan OPD, serta tokoh masyarakat, Wakil Bupati menekankan pentingnya sinergi. Bagi Vicente, percepatan pembangunan ibarat berlayar: kecepatan tanpa arah hanya akan membuat kapal tersesat.
“Percepatan pembangunan tidak boleh kehilangan ruhnya. Kita ingin bergerak cepat, tetapi tetap berpijak pada kebutuhan riil masyarakat,”
ujar Wakil Bupati dalam diskusi yang berlangsung cair namun sarat makna.
Forum ini menjadi ruang refleksi bersama—menimbang kembali prioritas, menyelaraskan program, dan memastikan setiap kebijakan tidak berhenti di atas kertas. Pembangunan, dalam pandangan diskusi ini, bukan sekadar angka pertumbuhan atau grafik laporan, melainkan perubahan nyata yang bisa dirasakan hingga ke dapur-dapur warga.
Simile demi simile mengalir dari para peserta. Ada yang menyamakan birokrasi dengan mesin tua yang perlu pelumasan agar kembali bertenaga. Ada pula yang menyebut pembangunan Belu seperti menenun kain: benangnya banyak, warnanya beragam, dan hanya akan indah bila ditenun bersama.
“Sinergi antarpihak adalah kunci. OPD tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kita harus memastikan setiap langkah saling menguatkan,”
tutur salah satu pimpinan OPD dalam diskusi.
Kehadiran tokoh masyarakat memberi warna tersendiri. Mereka membawa suara lapangan—tentang harapan, keluhan, dan realitas yang kerap luput dari meja rapat. Suara-suara itu menjadi cermin, agar kebijakan tidak terasing dari kehidupan sehari-hari warga Belu.
Diskusi ini juga menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan bukan jargon. Ia adalah komitmen untuk memastikan hari ini tidak mengorbankan esok, dan percepatan tidak menyingkirkan keadilan.
Di akhir pertemuan, ruang Sekda kembali sunyi. Namun sunyi itu bukan kosong. Ia terisi oleh tekad yang pelan tapi pasti—bahwa Belu sedang menata langkah, mencari kecepatan yang manusiawi, dan membangun tanpa kehilangan arah.
Karena pada akhirnya, pembangunan yang paling bermakna bukan yang paling cepat terlihat, melainkan yang paling lama dirasakan manfaatnya.


















