Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkam

Menanti Ketukan Palu Senja Di Antara Hisab dan Rukyat, Ramadan 1447 H Ditentukan

65
×

Menanti Ketukan Palu Senja Di Antara Hisab dan Rukyat, Ramadan 1447 H Ditentukan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | LINTASTIMOR.ID — Senja di ibu kota selalu punya caranya sendiri untuk terasa khidmat. Namun Selasa, 17 Februari 2026, senja itu bukan sekadar peralihan siang ke malam. Ia menjadi penanda harap, jeda napas, dan titik temu jutaan doa.

Di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor , pemerintah kembali menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah. Pukul 16.00 WIB, satu forum dimulai—bukan hanya untuk membaca angka-angka langit, tetapi juga merawat kebersamaan umat.

Example 300x600

Ramadan bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah gema adzan pertama di bulan suci, aroma sahur yang menguar sebelum fajar, dan tarawih yang menyejukkan malam. Maka penetapannya pun tak pernah sederhana.

Jalan Tengah di Langit Nusantara

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah tetap menempuh pendekatan integratif: hisab dan rukyatul hilal. Dua metode yang sering diperdebatkan, kini dirangkul dalam satu meja musyawarah.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa kombinasi perhitungan astronomi dan pemantauan langsung hilal bukan sekadar teknis, melainkan simbol persatuan.

╔══════════════════════════════════╗
“Pendekatan ini menjadi jalan tengah, agar keputusan memiliki dasar ilmiah sekaligus syar’i.”
╚══════════════════════════════════╝

Sidang isbat tak berdiri sendiri. Ia melibatkan perwakilan organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, PERSIS, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Hidayatullah, hingga Persatuan Umat Islam. Para pakar falak dan astronomi turut hadir, bersama lembaga seperti BMKG, BRIN, dan jaringan observatorium di berbagai daerah.

Di ruangan itu, sains dan syariat berdampingan. Data astronomi dibentangkan. Laporan rukyat dari ufuk barat Indonesia disimak dengan saksama. Semua menunggu satu hal: apakah sabit tipis itu benar-benar menyapa.

Hilal yang Masih Tersembunyi

Berdasarkan data hisab sementara, posisi hilal saat matahari terbenam 17 Februari 2026 berada pada kisaran minus 2 derajat hingga kurang dari 1 derajat. Sudut elongasinya pun berada di bawah ambang kriteria visibilitas hilal MABIMS.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan secara lugas.

╔══════════════════════════════════╗
“Secara perhitungan, posisi ini belum memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS.”
╚══════════════════════════════════╝

Ijtimak sendiri diproyeksikan terjadi pukul 19.01 WIB—setelah matahari terbenam. Secara astronomis, kondisi ini membuat peluang terlihatnya hilal menjadi sangat kecil.

Namun dalam tradisi sidang isbat, angka bukanlah vonis. Ia tetap harus dikonfirmasi oleh laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan.

19 Februari atau Lebih Awal?

Kalender Hijriah yang diterbitkan Kementerian Agama memprediksi 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Tetapi pemerintah menegaskan, itu masih prediksi.

Jika hilal dinyatakan terlihat pada 17 Februari, maka umat Islam berpotensi memulai puasa pada Rabu, 18 Februari 2026. Namun jika tidak teramati, maka bulan Syakban digenapkan 30 hari, dan Ramadan dimulai Kamis, 19 Februari 2026.

Arsad mengingatkan publik agar tidak mendahului keputusan.

╔══════════════════════════════════╗
“Sidang isbat adalah mekanisme resmi penetapan awal Ramadan di Indonesia. Mari menunggu dengan tenang dan penuh kebersamaan.”
╚══════════════════════════════════╝

Lebih dari Sekadar Tanggal

Sidang isbat selalu menjadi cermin wajah Islam Indonesia—yang berusaha merawat perbedaan dengan musyawarah, menjahit keragaman dengan keputusan bersama.

Di luar gedung, masyarakat menanti. Di kampung-kampung, masjid mulai bersiap. Di perbatasan hingga ibu kota, doa-doa dilangitkan agar Ramadan tiba dalam suasana damai.

Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan tentang siapa lebih dahulu memulai. Ia tentang bagaimana kita bersama-sama menyambutnya—dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan persatuan yang terjaga.

Senja pun perlahan turun. Di balik ufuk barat, hilal mungkin belum tampak. Tetapi harapan selalu lebih dulu terbit.

Example 300250