Ketika singkong dan rumput diturunkan ke tanah, pemerintah sedang menanam masa depan—pelan, sunyi, dan penuh keyakinan.
ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID —
Pagi di Sonis Laloran tak datang dengan gegap gempita. Tanah terbuka membentang, angin bergerak perlahan, dan derap langkah aparatur negara menyatu dengan bau tanah basah. Di kawasan peternakan itu, Jumat (30/01/2026), Pemerintah Kabupaten Belu memulai sesuatu yang tampak sederhana, namun menyimpan makna panjang: menanam rumput dan singkong—dua unsur kecil yang kelak menentukan hidup banyak ternak, dan kesejahteraan banyak keluarga.
Kerja bakti ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST. Bersamanya hadir Plh Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, para Asisten Sekda, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta seluruh ASN di lingkup Pemerintah Kabupaten Belu. Sebelum tangan menyentuh tanah, barisan aparatur terlebih dahulu berdiri tegak dalam apel persiapan—sebuah isyarat bahwa kerja fisik pun berangkat dari disiplin.
Di Sonis Laloran, pemerintahan tak hadir dalam bentuk pidato panjang atau papan proyek. Ia hadir dalam keringat, cangkul, dan bibit yang ditanam satu per satu.
Waktu yang Tak Pernah Menunggu
Di hadapan peserta kerja bakti, Wabup Vicente tidak berbicara tentang angka statistik atau target kertas. Ia memilih berbicara tentang waktu—tentang kefanaan, tentang tanggung jawab, tentang hari yang tak bisa diulang.
“Hidup ini hanya terdiri dari tiga hari:
kemarin, hari ini, dan esok.
Kemarin telah berlalu dan tinggal cerita.
Hari ini adalah kesempatan kita berbuat.
Esok belum tentu kita masih melihat matahari.”
Kata-kata itu jatuh pelan, namun menghunjam. Sonis Laloran, pagi itu, bukan sekadar lokasi kerja bakti. Ia menjadi ruang refleksi: bahwa pembangunan daerah tidak ditunda esok hari, karena esok tidak pernah menjamin apa pun.
150 Hektar Harapan
Penanaman rumput dan singkong dilakukan di lahan kurang lebih 150 hektar—sebidang ruang luas yang disiapkan untuk menopang ketahanan pakan ternak. Bagi Wabup Vicente, kehadiran ASN, PPPK, dan PPPK Paruh Waktu bukan formalitas kehadiran, melainkan simbol komitmen.
“Ini bukan sekadar kerja bakti.
Ini adalah langkah nyata menyiapkan pakan ternak
dan menguatkan sektor peternakan daerah.”
Setiap bibit yang ditanam menyimpan harapan agar kawasan Peternakan Sonis Laloran kelak tumbuh menjadi sentra produktif—bukan hanya bagi ternak, tetapi bagi ekonomi masyarakat Belu secara keseluruhan.
Di antara barisan aparatur, tangan-tangan yang biasanya menandatangani dokumen kini menggenggam bibit. Ada sesuatu yang jujur dalam momen itu: pembangunan tak selalu dimulai dari rapat, tapi dari keberanian menunduk ke tanah.
Dari Tanah, untuk Kesejahteraan
Pemerintah Kabupaten Belu memandang Sonis Laloran bukan sebagai proyek sesaat, melainkan investasi jangka panjang. Ketahanan pakan ternak adalah fondasi; kesejahteraan petani dan peternak adalah tujuannya.
Hari itu, singkong dan rumput ditanam. Tapi sesungguhnya, yang sedang disemai adalah kesadaran bersama: bahwa masa depan daerah dibangun dari kerja hari ini—tanpa menunggu esok.
Sonis Laloran pun menyimpan cerita baru.
Tentang aparatur yang menanam,
tentang tanah yang menerima,
dan tentang Belu yang pelan-pelan menyiapkan dirinya untuk berdiri lebih kokoh.


















