Semangat Perempuan, Rasa Lontar, dan Mimpi Go Internasional
KUPANG | LINTASTIMOR.ID — Ada aroma kacang panggang yang hangat di sudut Kota Kupang. Wangi gula lontar yang karamelnya lembut seperti senja di pesisir Timor. Di balik itu semua, berdiri seorang perempuan dengan mimpi yang tidak kecil: membawa rasa kampung halamannya melintasi batas negara.
Namanya . Orang-orang memanggilnya Kak Ira.
Dan brand yang ia lahirkan pada 2013 itu ia beri nama paling jujur yang ia miliki: Mama Ana—nama ibunya sendiri, yang kini berusia 80 tahun.
Nama itu bukan sekadar label. Ia adalah doa.
Ketika Nama Menjadi Nyawa
Bagi Kak Ira, membangun Mama Ana bukan hanya soal bisnis. Ia ingin ekonomi tumbuh dari tanah sendiri. Dari kebun-kebun petani kacang tanah. Dari pohon lontar yang disadap pagi hari. Dari sorgum yang dahulu dianggap pangan pinggiran.
Ia memilih fokus pada kacang-kacangan, gula lontar, dan serelia seperti sorgum. Bahan-bahan yang sederhana. Bahan-bahan yang akrab dengan dapur orang Timor.
╔════════════════════════════════╗
“Nama itu seperti nyawa. Seperti hidup. Punya hokinya sendiri. Mama Ana bukan hanya brand, tapi semangat keluarga dan perempuan Timor yang bekerja dengan hati.”
╚════════════════════════════════╝
Dalam proses produksinya, Mama Ana melibatkan banyak perempuan dari berbagai penjuru Nusa Tenggara Timur. Ada pengelola kenari di Alor, petani kacang dan sorgum, hingga ibu-ibu penganyam daun lontar yang menyiapkan kemasan alami.
Di sana, bisnis bertemu solidaritas.
Camilan yang Jujur pada Rasa
Di tengah tren makanan instan dan penuh aditif, Mama Ana memilih jalan berbeda: panggang tanpa minyak, tanpa bahan tambahan pangan, tanpa pengawet.
Produknya berderet:
Kacang Panggang, Selai Kacang, Gula Semut Lontar Timor, Sagu Timor, hingga Kacang Kenari Alor Oven dalam berbagai varian rasa—original, asin bawang putih, manis pedas, cokelat dan kayumanis.
Setiap gigitan menyisakan rasa kampung.
╔════════════════════════════════╗
“Semuanya adalah camilan khas yang kekinian, tapi tidak meninggalkan cita rasa yang sesungguhnya. Prosesnya sederhana, bumbunya jujur, tanpa bahan pengawet.”
╚════════════════════════════════╝
Dalam setiap kemasan, ada filosofi gastronomi Timor: sederhana, alami, dan apa adanya.
Dari Kupang ke Jakarta, dari Labuan Bajo ke Singapura
Hari ini, Mama Ana tak lagi hanya dikenal di Kupang. Produk-produknya telah menembus pasar nasional—Denpasar, Surabaya, Tangerang, hingga DKI Jakarta.
Menariknya, pasar tertinggi di NTT justru datang dari Labuan Bajo—gerbang pariwisata internasional yang mempertemukan dunia dengan Flores.
Sekitar 30 persen pesanan datang dari Jakarta, disusul Surabaya dan kota-kota lainnya. Bahkan, Mama Ana pernah terbang ke Singapura dan Korea.
Mimpi berikutnya?
╔════════════════════════════════╗
“Kami ingin Go Internasional. Mulai dari negeri tetangga dulu. Pelan-pelan, tapi pasti.”
╚════════════════════════════════╝
Mimpi itu kini tidak terdengar utopis. Ia terdengar seperti rencana.
Logistik sebagai Nadi Perjalanan
Untuk urusan pengiriman, Mama Ana mempercayakan distribusinya kepada , yang telah menjadi mitra sejak 13 tahun terakhir. Sebagai customer corporate JNE Kupang, Mama Ana membutuhkan kecepatan dan ketepatan komunikasi dalam setiap pengiriman.
Di bisnis makanan, waktu adalah rasa.
Keterlambatan bisa berarti kualitas yang turun.
“Ketepatan dan kecepatan komunikasi JNE lebih mampu, sehingga kebutuhan pengiriman Mama Ana dapat terakomodir dengan baik,” ujar Kak Ira.
Di sini, kolaborasi bukan sekadar kontrak—melainkan ekosistem yang saling menguatkan.
Semangat Perempuan Timor
Mama Ana adalah cerita tentang perempuan. Tentang tangan-tangan yang tak selalu terlihat kamera, tetapi menghidupkan dapur produksi setiap hari. Tentang ekonomi lokal yang bertumbuh dari bahan baku sendiri. Tentang nama seorang ibu yang menjelma merek nasional.
Dari dapur sederhana di Kupang, rasa itu kini berjalan jauh.
Mungkin suatu hari nanti, di rak supermarket luar negeri, orang akan membaca label kecil bertuliskan: Mama Ana – Produk Asli Timor, NTT, Indonesia.
Dan di balik label itu, ada kisah perempuan yang percaya bahwa mimpi, jika dirawat seperti adonan kacang panggang—pelan, sabar, dan penuh cinta—akan matang pada waktunya.


















