Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Malam Takbir Menggema, Persatuan Diuji dan Diteguhkan di  Mimika

49
×

Malam Takbir Menggema, Persatuan Diuji dan Diteguhkan di  Mimika

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Malam itu, langit seakan ikut bergetar. Gema takbir mengalun dari halaman , menembus hening, menyusup ke lorong-lorong kota, membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar perayaan: tentang syukur, tentang kebersamaan, tentang iman yang dirayakan bersama.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Lantunan itu tidak sekadar terdengar—ia terasa. Menjadi denyut kolektif umat Muslim yang menutup Ramadan dengan penuh haru, sekaligus membuka gerbang dengan semangat kemenangan spiritual.

Example 300x600

Di tengah gema itu, Bupati Mimika Johannes Rettob berdiri berdampingan dengan Wakil Bupati  Emanuel Kemong bersama jajaran Forkopimda, tokoh agama, dan masyarakat. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa negara, agama, dan rakyat bertemu dalam satu ruang nilai: harmoni.

Dalam suasana yang sarat makna itu, Bupati Rettob mengingatkan bahwa Mimika bukan hanya tentang wilayah administratif, melainkan tentang rumah besar kebersamaan.

“Kita harus terus memelihara kebersamaan ini sebagai wujud persatuan, sehingga Mimika tetap dikenal sebagai daerah yang rukun dan damai.”

Pesan itu menggema, seirama dengan takbir yang berkumandang—sebuah penegasan bahwa toleransi bukan slogan, melainkan warisan yang harus dijaga.

Sementara itu, Ketua PHBI Mimika, Joko Prianto , menafsirkan takbir keliling sebagai bahasa syukur yang hidup di jalanan, bukan hanya di masjid.

“Takbiran ini mencerminkan rasa syukur sekaligus kebahagiaan umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa, yang menjadi momen kemenangan secara spiritual.”

Ia menambahkan, lebih jauh dari sekadar ritual, takbiran di Mimika telah menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas iman—sebuah realitas sosial yang jarang terucap, namun nyata terasa.

“Kegiatan ini tidak hanya milik umat Muslim, tetapi juga menjadi wujud persatuan dan kebersamaan seluruh warga Mimika tanpa memandang perbedaan.”

Pawai takbiran pun bergerak—dari halaman Gedung Emeneme Yauware, menyusuri Jalan Budi Utomo, berlanjut ke Jalan Cendrawasih, menembus Jalan Yos Sudarso hingga Belibis, sebelum kembali ke titik awal. Rute itu bukan sekadar jalur, melainkan jejak simbolik yang menautkan sudut-sudut kota dalam satu irama kebersamaan.

Analisis Kontekstual
Dalam lanskap sosial Indonesia yang kerap diuji oleh gesekan identitas, Mimika menunjukkan wajah lain: bahwa keberagaman tidak selalu berujung pada konflik, melainkan dapat menjadi energi kolektif jika dirawat dengan kesadaran dan kepemimpinan yang tepat. Takbiran di Mimika bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga narasi sosial tentang bagaimana harmoni dibangun—pelan, konsisten, dan melibatkan semua.

Pemerintah daerah pun berharap, semangat yang mengalir di malam takbiran ini tidak berhenti sebagai gema sesaat, tetapi menjelma menjadi sikap hidup yang terus dijaga.

Sebab pada akhirnya, takbir yang menggema di langit Mimika bukan hanya seruan kemenangan spiritual—melainkan pengingat sunyi bahwa persatuan, jika benar-benar dijaga, akan selalu menemukan jalannya pulang.

Example 300250