ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID – Malam Sabtu itu, langit Kota Atambua teduh. Di Titik Nol, depan Gereja Katedral Imaculata Atambua,Keuskupan Atambua cahaya lilin menyala satu per satu.
Tidak sekadar penerang malam, tapi menjadi tanda duka, tanda solidaritas, sekaligus tanda doa.
Ratusan orang dari berbagai kalangan hadir. Forkopimda, tokoh agama, komunitas ojek online, mahasiswa, hingga masyarakat biasa menyatu dalam perenungan.
Semua berkumpul demi satu tujuan: mendoakan almarhum Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang berpulang saat unjuk rasa di Jakarta.
Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H., dengan suara bergetar menyampaikan bela sungkawa yang dalam.
“Kita semua merasa kehilangan atas kepergian beliau. Affan bukan hanya seorang driver ojek online, tetapi juga bagian dari keluarga besar masyarakat Kabupaten Belu. Malam ini kita hadir sebagai tanda persaudaraan, sebagai wujud solidaritas yang kuat,” tuturnya.
Lebih jauh, Bupati mengajak masyarakat menjadikan duka ini sebagai pengingat: bahwa persatuan harus dijaga, bahwa perbedaan harus dirangkai dalam dialog, bukan amarah.
“Jangan mudah terprovokasi oleh isu yang belum tentu benar. Aspirasi bisa disampaikan dengan cara yang baik, dengan musyawarah dan komunikasi. Mari kita jaga Kabupaten Belu tetap aman, damai, dan kondusif,” pesannya penuh harap.
Suasana menjadi haru ketika Alberth Beno, perwakilan komunitas ojol, berdiri di hadapan hadirin. Dengan mata berkaca-kaca ia menuturkan,
“Kepergian saudara kami bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi kami semua. Namun malam ini kami melihat, ternyata duka ini dirasakan bersama. Solidaritas ini menguatkan kami, dan untuk itu kami berterima kasih.”
Ia menegaskan, komunitas ojol di Belu akan menjaga persatuan dan tidak akan memberi ruang bagi provokasi yang bisa merusak kedamaian.
“Mari kita tetap bersatu, jangan mudah terprovokasi. Jika ada aspirasi, mari kita suarakan dengan cara yang baik, penuh tanggung jawab, bukan dengan cara-cara anarkis,” tegas Alberth Beno.
Dari barisan aparat, Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H., S.I.K. menyampaikan pesan religius yang mendalam. Malam itu, doa untuk Affan ia rangkai dengan doa untuk negeri.
“Kegiatan ini adalah momentum untuk mempererat kebersamaan dan kepedulian terhadap keselamatan bersama. Mari kita berdoa agar bangsa dan negara senantiasa dilindungi, agar masyarakat dan para petugas keamanan selalu diberi kekuatan menjaga kedamaian,” ucapnya penuh keteduhan.
Di bawah cahaya lilin, doa melayang ke langit. Nama Affan dipanjatkan, negeri ini pun didoakan. Dan malam itu, Atambua memberi pesan yang tak akan dilupakan: bahwa duka bisa mempersatukan, bahwa doa bisa menjadi benteng, dan bahwa kedamaian adalah warisan yang harus dijaga bersama.
Sebagaimana firman Tuhan mengingatkan:
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
(Matius 5:9)