LABUAN BAJO |LINTASTIMOR.ID —
Laut tidak pernah benar-benar kosong. Ia menyimpan cerita, doa, dan terkadang—duka yang tak sempat diucapkan. Di perairan utara Pulau Padar, ombak bergerak pelan membawa serpihan kayu, tabung gas, dan bagian tubuh kapal.
Namun yang sesungguhnya mengambang di sana adalah harapan yang belum kembali ke darat.
Hari kedua pencarian KM Putri Sakinah menjadi penanda bahwa laut mulai membuka rahasianya. Sedikit demi sedikit, ia mengembalikan potongan cerita dari sebuah perjalanan yang berakhir sebelum tujuan.
Serpihan yang Bicara, Sunyi yang Menjerit
Sejak pagi hingga senja, Tim SAR Gabungan menyisir perairan Pulau Padar dengan kesabaran yang nyaris sunyi. Kapal RIB Pos SAR Manggarai Barat, Sea Rider KSOP Labuan Bajo, RIB Lanal Maumere, RIB Ditpolair Polda NTT, hingga Kapal KPC Ditpolair Polda NTT bergerak perlahan, menantang arus dan hujan yang menutup jarak pandang.
Pada pukul 09.45 WITA, sebuah tabung gas milik KM Putri Sakinah ditemukan. Dua belas menit kemudian, penemuan serupa kembali terjadi. Siang harinya, tepat 12.35 WITA, tubuh kamar nahkoda muncul ke permukaan—bukan sebagai bangunan, melainkan sebagai saksi bisu bahwa sebuah kapal pernah berjuang melawan laut.
Seluruh temuan berada dalam radius lima mil laut dari lokasi kejadian. Radius yang sempit bagi peta, namun luas bagi kehilangan.
“Kami mulai menemukan tanda-tanda badan dan serpihan kapal di sekitar lokasi kejadian,”
ujar Fathur Rahman, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere sekaligus SAR Mission Coordinator, dengan nada yang menahan beban.
Ombak, Hujan, dan Keteguhan Manusia
Pencarian tidak berlangsung dalam kondisi ramah. Gelombang setinggi 0,25 hingga 1,5 meter, arus kuat, dan hujan lebat menjadi tembok alam yang menghadang langkah manusia. Namun tidak satu pun personel mundur.
“Cuaca menjadi tantangan, tetapi tidak menurunkan semangat Tim SAR Gabungan dalam proses pencarian,”
tegas Fathur Rahman.
Di tengah alam yang keras, keteguhan manusia justru tampak paling rapuh—namun paling jujur.
Satu Keluarga, Enam Nama, Empat Masih Dicari
Dari hasil pemeriksaan ulang data manifes, tragedi ini semakin menajamkan sisi kemanusiaannya. Para korban bukan sekadar angka. Mereka adalah satu keluarga.
Empat orang WNA Spanyol masih dalam pencarian: seorang ayah, satu anak perempuan, dan dua anak laki-laki. Yang selamat adalah sang ibu dan satu anak perempuan. Enam jiwa dalam satu perjalanan, terpisah oleh takdir yang datang terlalu tiba-tiba.
Laut tidak memilih. Namun manusia selalu berharap.
Ketika Pencarian Menjadi Doa
Pencarian hari ketiga akan kembali dilanjutkan. Kapal-kapal akan bergerak lagi, mata-mata akan menatap cakrawala yang sama, dan doa akan kembali dipanjatkan—diam-diam atau lantang.
Di Pulau Padar, laut masih beriak. Ia mungkin belum mengembalikan semua nama. Tetapi manusia tidak berhenti memanggilnya.
Karena di setiap operasi SAR, yang dicari bukan hanya korban—
melainkan juga kepastian, keadilan bagi keluarga, dan hak terakhir untuk pulang.
“Laut bisa menelan kapal, tetapi tidak akan pernah mampu menenggelamkan harapan manusia.”


















