Kepergian Alexander Omaleng dan Sunyi yang Tertinggal di Tanah Amungme
TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Malam itu, kabar duka datang seperti hujan yang jatuh tanpa suara. Dari Jakarta, berita itu melintasi jarak dan waktu, menyusup ke layar-layar telepon genggam warga Mimika. Nama itu disebut pelan, lalu diulang dengan berat: Alexander Omaleng telah tiada.
Rabu malam, 25 Februari 2026, tokoh muda suku Amungme itu mengembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan penyakit yang cukup lama dideritanya. Ia pergi dalam usia dan semangat yang masih menyala—meninggalkan ruang kosong yang tak mudah diisi.
Di Mimika, duka tak hanya menjadi perasaan. Ia menjelma percakapan yang terhenti, doa yang dipanjatkan diam-diam, dan kenangan yang kembali dipanggil satu per satu.
╔══════════════════════════════════════════╗
“Ia bukan sekadar kandidat.
Ia adalah harapan yang berjalan di antara kita—
menyapa, mendengar, dan mempercayai bahwa Mimika bisa lebih baik.”
╚══════════════════════════════════════════╝
Putra Amungme yang Pulang dalam Sunyi
Sebagai putra asli suku Amungme, Alexander Omaleng tumbuh di tanah yang kaya sekaligus penuh tantangan. Ia memahami betul denyut sosial Mimika—dari kampung-kampung adat hingga ruang-ruang diskusi modern.
Sebelum terjun ke politik elektoral, Alex—demikian ia akrab disapa—telah lama membangun jejaring dengan tokoh adat, tokoh agama, dan berbagai komunitas lokal. Ia hadir dalam kegiatan sosial, berdiri dalam acara keagamaan, dan berbincang tanpa jarak dengan masyarakat.
Ketika ia maju sebagai calon Bupati Mimika pada Pilkada 2024 berpasangan dengan Yusuf Rombe, banyak orang melihat bukan hanya figur politik, melainkan representasi generasi baru.
Visinya terang:
“Terwujudnya Mimika Bersatu, Inovasi, Sejahtera dan Berkelanjutan.”
Lima misi yang ia usung berbicara tentang transformasi—ekonomi berbasis pengelolaan sumber daya alam yang inklusif, kehidupan sosial-budaya yang unggul, infrastruktur dasar yang merata, stabilitas dan supremasi hukum, serta tata kelola pemerintahan yang prima dan terpercaya.
Namun di balik rumusan itu, ada kegelisahan yang lebih personal: bagaimana memastikan masyarakat adat tidak sekadar menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Politik yang Dihidupi, Bukan Sekadar Dijalani
Bagi sebagian orang, politik adalah kontestasi.
Bagi Alex, politik adalah pengabdian.
Ia sering berbicara tentang pemberdayaan masyarakat adat, pemerataan pembangunan, dan pelayanan dasar di sektor pendidikan serta kesehatan. Ia percaya bahwa kemajuan Mimika tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi dari seberapa jauh masyarakat kecil merasakan perubahan.
Dalam pertemuan-pertemuan kecil, ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dalam diskusi publik, ia mencoba menjembatani perbedaan. Ia membawa semangat muda, tetapi tidak kehilangan akar tradisi.
╔══════════════════════════════════════════╗
“Mimika harus bersatu.
Kita boleh berbeda pilihan,
tetapi kita tidak boleh kehilangan tujuan bersama.”
╚══════════════════════════════════════════╝
Kini, kalimat itu terdengar seperti wasiat yang tertinggal.
Duka yang Mengikat
Kabar wafatnya menyebar cepat melalui grup-grup WhatsApp. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai penjuru: dari tokoh adat, tokoh agama, rekan politik, hingga masyarakat biasa yang pernah berjabat tangan dengannya.
Bagi sebagian orang, kepergiannya adalah kehilangan figur.
Bagi yang lain, ia adalah kehilangan sahabat, saudara, atau inspirasi.
Di tanah Amungme, setiap kehilangan selalu punya makna spiritual. Ada keyakinan bahwa mereka yang pergi tidak benar-benar hilang, melainkan pulang—kembali menyatu dengan tanah yang membesarkan mereka.
Mimika kini berduka.
Namun duka ini bukan hanya tentang kematian. Ia tentang cita-cita yang terhenti di tengah jalan, tentang visi yang belum sepenuhnya diwujudkan.
Langit Mimika mungkin kehilangan satu bintang.
Tetapi jejak cahayanya akan tetap tinggal—
dalam ingatan, dalam doa,
dan dalam harapan bahwa tanah ini suatu hari benar-benar menjadi seperti yang ia impikan:
bersatu, inovatif, sejahtera, dan berkelanjutan.


















