TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di Rumah Kopi Amungme Gold, Timika Indah, Kamis, 24 September 2026, suara anggota koperasi tidak hanya menentukan siapa yang akan memimpin organisasi. Di ruangan itu, sebuah harapan tentang masa depan petani kopi juga sedang dipertaruhkan.
Sebanyak 232 anggota Koperasi Produsen Amungme Gold Coffee berkumpul dalam Rapat Anggota Tahunan Tahun Buku 2025. Dari forum tersebut, Isak G. U. Jawame, SP, mendapat mandat untuk memimpin koperasi periode 2026–2028.
Mandat itu datang bersama pekerjaan besar: menjaga produksi tetap hidup, memperluas pasar, memperkuat kelembagaan, dan memastikan kopi yang tumbuh dari wilayah pegunungan Papua Tengah tidak berhenti sebagai hasil kebun, tetapi menjelma menjadi kekuatan ekonomi bagi para petaninya.
Rapat anggota tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika Samuel Yogi, SH., MH., serta Manager Community Economic Development (CED) PT Freeport Indonesia Alfons Ramidi.
Bagi Isak, kepercayaan 232 anggota merupakan amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para anggota sekaligus pemerintah daerah yang selama ini memberikan dukungan terhadap pengembangan koperasi.
“Terima kasih kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas Koperasi atas dukungan kelembagaan dan bantuan modal usaha selama ini,” ujar Isak.
Namun kepemimpinan baru tidak hendak berhenti pada ucapan terima kasih.
Ada target yang harus dikejar.
Ada produksi yang harus ditingkatkan.
Ada pasar yang harus diperluas.
Dan ada petani yang menunggu agar kerja koperasi benar-benar memberi nilai tambah bagi kehidupan mereka.
Dari Pegunungan, Menuju Pasar
Di bawah kepengurusan periode 2026–2028, peningkatan produksi ditempatkan sebagai salah satu agenda utama.
Koperasi mendorong anggota meningkatkan produksi kopi dari sejumlah wilayah kerja, antara lain Arwanop, Waa Banti, Tsonga, Hoeya, Jila, Bela, dan Alama.
Wilayah-wilayah tersebut bukan sekadar titik dalam peta produksi. Dari sana, biji kopi tumbuh melalui tangan petani dan perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai ke Rumah Kopi Amungme Gold.
Kopi hasil produksi anggota selanjutnya diarahkan untuk disetor ke Rumah Kopi Amungme Gold sesuai kebutuhan pasar.
Target awalnya tidak kecil: 400–500 kilogram green bean setiap bulan.
Angka tersebut menjadi sasaran sekaligus ujian bagi kepengurusan baru.
Sebab pasar membutuhkan kesinambungan. Pembeli membutuhkan kepastian pasokan. Sementara petani membutuhkan sistem yang mampu menghubungkan hasil kebun dengan nilai ekonomi yang lebih baik.
Di titik itulah koperasi dituntut bukan hanya menjadi tempat berhimpun anggota, melainkan menjadi jembatan antara petani, produksi, pengolahan, pemasaran, dan pasar.
Mandat yang Harus Dibuktikan
Isak menyadari, membangun bisnis kopi tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah produksi.
Kualitas harus dijaga. Pasokan harus konsisten. Pemasaran harus diperluas. Dan produk Amungme Gold Coffee harus mampu menembus ruang pasar yang lebih luas.
Karena itu, ia berharap dukungan Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Koperasi dan UMKM dapat terus diperkuat, termasuk dalam pengembangan bisnis dan ekspansi produk.
Dukungan PT Freeport Indonesia melalui program Community Economic Development (CED) juga dinilai menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan koperasi.
Isak berharap sinergi tersebut terus berjalan.
Bukan semata untuk membesarkan sebuah merek kopi, tetapi untuk membangun ekosistem ekonomi yang memberi ruang lebih luas kepada petani.
Di balik secangkir kopi yang tersaji di Rumah Kopi Amungme Gold, ada kebun, petani, perjalanan, produksi, dan harapan yang saling bertaut.
Karena itu, ketika koperasi berbicara tentang produksi, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan hanya kilogram kopi.
Yang sedang dibangun adalah masa depan.
Dari Koperasi untuk Petani
Kepengurusan baru periode 2026–2028 membawa satu garis besar yang sederhana, tetapi menuntut pembuktian panjang:
“Bersama Kita Maju, Koperasi Kuat, Petani Sejahtera.”
Tagline itu menjadi arah perjalanan baru Amungme Gold Coffee.
Koperasi kuat tidak lahir hanya dari kepengurusan yang baru. Ia tumbuh dari anggota yang aktif, petani yang produktif, tata kelola yang sehat, dukungan pemerintah, kemitraan yang berkelanjutan, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar.
Isak pun memilih menutup awal kepemimpinannya dengan sebuah ajakan yang menyatukan seluruh unsur koperasi.
“Bersama kita melangkah, koperasi kuat, petani sejahtera, dan masa depan lebih cerah,” katanya.
Kalimat itu kini menjadi pekerjaan rumah.
Sebab setelah rapat anggota berakhir dan mandat kepemimpinan berpindah tangan, perjalanan sesungguhnya baru dimulai.
Dari Arwanop hingga Alama, dari kebun-kebun kopi di wilayah pegunungan hingga Rumah Kopi Amungme Gold di Timika, setiap kilogram green bean akan menjadi bagian dari pembuktian.
Bahwa kopi Papua Tengah tidak hanya tumbuh di tanahnya.
Ia juga sedang menumbuhkan harapan di tangan para petani.


















