Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupKabupaten MappiNasionalPeristiwaPolkam

Ketika Tahun Ditutup dengan Doa: Mimika Merawat Waktu, Menyambut 2026 dengan Syukur dan Cinta

263
×

Ketika Tahun Ditutup dengan Doa: Mimika Merawat Waktu, Menyambut 2026 dengan Syukur dan Cinta

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID—
Malam itu, waktu tidak benar-benar beranjak pergi. Ia duduk sejenak di pelantaran Gedung Eme Neme Yauware, menyimak doa-doa yang naik perlahan ke langit Mimika. Tahun 2025 dilepas bukan dengan gemuruh pesta, melainkan dengan syukur yang tenang, air mata yang ditahan, dan harapan yang dipeluk bersama. Di sanalah pemerintah dan rakyat berdiri sejajar—sebagai keluarga besar yang sedang belajar memaafkan masa lalu dan menjemput hari esok.

Pemerintah Daerah Mimika menggelar syukuran lepas sambut tahun 2026, Rabu (31 Desember 2025), dalam suasana religius yang khidmat dan hangat. Hadir unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai latar iman. Acara ditutup dengan doa lintas agama, sebuah isyarat sunyi bahwa Mimika tetap memilih persaudaraan sebagai jalan pulang.

Example 300x600

Bupati Mimika Johannes Rettob berdiri di hadapan hadirin, bukan sekadar sebagai kepala daerah, tetapi sebagai penjaga rasa.

Ia mengajak seluruh warga untuk berhenti sejenak, merenungi perjalanan setahun yang telah dilalui—di rumah, di gereja, di masjid, di ladang, di laut, dan di ruang-ruang sunyi kehidupan.

“Mari kita bercermin—sebagai pribadi, sebagai keluarga, sebagai masyarakat. Pembangunan Mimika tidak lahir dari satu tangan, tetapi dari hati yang mau berbagi peran,” tuturnya pelan, namun menembus.

Tahun baru, kata Bupati, seharusnya dirayakan dengan kegembiraan. Namun Mimika memilih menahan langkah, menyesuaikan nada, karena di tempat lain—di Sumatera Utara—ada saudara-saudara yang tengah bergulat dengan banjir dan kehilangan. Pemerintah bahkan membatalkan pesta tahun baru, sebagai bentuk empati dan solidaritas.

“Tahun ini bukan tahun yang mudah. Tetapi kita bisa melewatinya karena cinta dan rasa kebersamaan. Ketika satu saudara berduka, kita semua ikut menundukkan kepala,” ucap Rettob, suaranya menyimpan kegetiran sekaligus kekuatan.

Ia tidak menutup mata terhadap berbagai peristiwa yang sempat menguji keharmonisan daerah. Namun kepada masyarakat, ia menitip pesan sederhana namun bernas: jadilah tuan rumah yang baik—menjaga ketertiban, merawat damai, dan memastikan Mimika tetap menjadi rumah yang ramah bagi siapa pun.

Ucapan terima kasih mengalir kepada mereka yang kerap bekerja tanpa sorotan: petani di tanah basah, nelayan di laut gelap, pedagang di pasar subuh, guru di ruang kelas terpencil, tenaga medis di lorong-lorong jaga, serta aparat keamanan yang setia berjaga ketika kota tertidur.

“Bagi saya, keberhasilan bukan angka, bukan panggung. Keberhasilan adalah ketika anak-anak di pesisir, pedalaman, dan pegunungan bisa tersenyum—karena sekolahnya layak, perutnya terisi, dan kesehatannya terjaga,” ujarnya, lirih namun tegas.

Mimika, kata Bupati, telah lama dikenal sebagai daerah yang menjaga keharmonisan dalam perbedaan. Warisan itu tak boleh retak oleh kebencian atau prasangka. Tahun 2025 harus dijalani dengan kerja keras, hati yang lapang, dan keberanian untuk tetap saling merangkul.

Di akhir sambutan, atas nama pribadi dan keluarga, Johannes Rettob mengucapkan selamat tahun baru. Ia menyerahkan masa depan Mimika pada penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Kuasa—seraya mengajak semua pihak menjaga rumah bersama ini.

“Mari kita rawat Mimika seperti kita merawat rumah sendiri—agar tetap aman, damai, dan bertabur berkah. Dengan semangat baru dan sukacita yang jujur,” pungkasnya.

Malam kian larut. Doa-doa telah selesai. Tahun lama pamit dengan tenang. Dan Mimika—di bawah langit Papua yang setia—melangkah ke 2025 bukan dengan hingar-bingar, melainkan dengan syukur yang dewasa dan harapan yang disatukan oleh cinta.

 

Example 300250