Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaPolkamTeknologi

Ketika Palu Kayu Mengetuk Kesadaran Bumi Sejak Dini

11
×

Ketika Palu Kayu Mengetuk Kesadaran Bumi Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Di Dusun Wailawa, anak-anak PAUD belajar mencintai lingkungan bukan lewat ceramah, melainkan lewat warna, daun, dan sentuhan tangan sendiri.

Pagi di Dusun Wailawa, Negeri Laha, Kota Ambon, tak hanya diisi suara angin dan dedaunan. Ada bunyi lain yang terdengar berulang—ketukan palu kayu kecil yang dipukul pelan, penuh rasa ingin tahu. Di tangan anak-anak PAUD Sadar Lingkungan, palu itu bukan alat kerja orang dewasa, melainkan jembatan pertama menuju kesadaran menjaga bumi.

Di tempat inilah Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura menggelar Darling Recycle Creative Day, sebuah kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang menyasar kelompok usia paling jujur: anak-anak. Bukan dengan slogan besar, melainkan melalui pengalaman langsung—menyentuh daun, memukul warna, dan melihat kain bekas berubah menjadi karya seni.

Example 300x600

Sebanyak 50 murid PAUD, didampingi 45 orang tua dan para pendidik, larut dalam proses ecoprint. Teknik pounding—memindahkan pigmen alami daun dan bunga ke kain perca serta pakaian bekas—menjadi medium belajar yang hidup. Tangan-tangan kecil itu bekerja, sementara mata mereka berbinar menyaksikan warna alam muncul perlahan, seolah bumi sedang berbicara lewat kain.

“Ini bukan sekadar kegiatan seni, tetapi proses belajar yang utuh—melatih kreativitas, motorik halus, sekaligus membangun ikatan emosional antara anak dan orang tua,”
Kepala Sekolah PAUD Sadar Lingkungan, Santi Sainyakit.

Pembelajaran di PAUD Sadar Lingkungan memang tak berhenti di ruang kelas. Lingkungan sekitar dijadikan buku terbuka, dan sampah bukan lagi sesuatu yang dibuang begitu saja, melainkan bahan belajar yang bernilai. Setelah proses pemukulan daun selesai, kain-kain ecoprint dikunci warnanya dengan larutan tawas—sebuah detail kecil yang mengajarkan anak-anak tentang ketekunan dan proses.

Bagi para guru, pendidikan lingkungan bukan materi tambahan, melainkan fondasi karakter.

“Sejak dini anak-anak kami biasakan memilah dan mendaur ulang sampah. Kami ingin kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sebagai kebiasaan, bukan paksaan,”
Guru PAUD Sadar Lingkungan, Nilci Angelica.

Dari sudut lain, para orang tua menyaksikan anak-anak mereka belajar dengan cara yang berbeda—lebih bebas, lebih membumi. Tidak ada bangku kelas, tidak ada tekanan nilai, hanya pengalaman yang membekas.

“Belajar langsung seperti ini membuat anak-anak lebih mudah memahami makna menjaga lingkungan. Mereka pulang membawa cerita, bukan sekadar tugas,”
Hasni Sidik, orang tua murid.

Bagi Pertamina Patra Niaga, kegiatan ini adalah perpanjangan dari komitmen keberlanjutan yang tidak berhenti pada aspek operasional semata. Pendidikan, khususnya pada usia dini, dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.

“Kami ingin menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Harapannya, PAUD Sadar Lingkungan dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain dalam mengelola edukasi daur ulang secara kreatif, aplikatif, dan berkelanjutan,”
Febri Nur Faizin, AFT Manager AFT Pattimura.

Di Dusun Wailawa, hari itu tak ada pidato panjang tentang krisis iklim atau kerusakan bumi. Namun, lewat palu kayu kecil dan daun-daun yang menempel di kain bekas, sebuah pesan besar ditanamkan: mencintai lingkungan bisa dimulai dari hal paling sederhana—dan dari usia paling muda.

Dan mungkin, dari tangan-tangan kecil itulah, masa depan bumi menemukan harapan barunya.

 

Example 300250