Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkam

Ketika Negara Memilih Menahan Langkah

130
×

Ketika Negara Memilih Menahan Langkah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Keamanan VVIP, Tanggung Jawab Sunyi di Balik Penundaan Kunjungan Wapres ke Yahukimo

BIAK |LINTASTIMOR.ID —
Tidak semua keberanian negara diukur dari seberapa jauh kaki pemimpinnya melangkah. Ada kalanya, keberanian justru hadir dalam keputusan untuk menahan langkah, membaca tanda-tanda zaman, dan mendahulukan keselamatan di atas simbolisme politik.

Itulah yang terjadi menjelang rencana kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, ke Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, Rabu (14/1/2026). Agenda yang semula dirancang sebagai momen temu negara dengan rakyat itu akhirnya direkomendasikan untuk ditunda—bukan karena keraguan, melainkan karena tanggung jawab.

Example 300x600

Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Amrin Ibrahim, S.I.P., dalam kapasitasnya sebagai Panglima Komando Tugas Gabungan Terpadu (Pangkogasgabpad) Pengamanan VVIP.

Di Bandara Internasional Frans Kaisiepo, Biak, suara Pangdam terdengar tegas namun tenang—seperti seorang penjaga yang memahami betul makna amanah.

“Bapak Wakil Presiden memiliki keinginan yang sangat kuat untuk berkunjung ke Yahukimo, menyapa masyarakat dan meninjau langsung progres pembangunan. Namun, berdasarkan penilaian situasi hingga pagi ini, saya menyarankan agar kunjungan tersebut ditunda,”
ujar Mayjen TNI Amrin Ibrahim.

Keamanan: Etika Pertama Kekuasaan

Penundaan ini bukan keputusan reaktif, apalagi politis. Ia lahir dari rangkaian penilaian data, fakta lapangan, dan analisis intelijen yang menunjukkan adanya indikasi aktivitas kelompok tertentu yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dan keselamatan VVIP.

Dalam tata kelola kenegaraan modern, keamanan bukan sekadar urusan teknis. Ia adalah etika pertama kekuasaan—penjaga nyawa, martabat, dan kepercayaan publik. Di sinilah negara diuji: apakah ia memaksakan agenda, atau justru mendengarkan realitas.

Pangdam XVII/Cenderawasih memilih jalan kedua.

“Keamanan VVIP adalah prioritas mutlak. Ini bukan semata soal pengamanan seorang pejabat, melainkan tanggung jawab negara untuk memastikan setiap langkah pemerintahan berlangsung tanpa risiko yang tak perlu,”
tegas Pangdam.

Yahukimo dan Janji yang Tidak Ditunda

Meski langkah ditahan, komitmen tidak ditarik. Pemerintah pusat menegaskan bahwa penundaan ini tidak berarti pengabaian. Yahukimo tetap berada dalam peta perhatian nasional. Kunjungan Wapres hanya menunggu satu syarat: situasi benar-benar kondusif.

Di sini, penundaan justru menjadi pesan: bahwa pembangunan Papua tidak dijalankan dengan gegabah, tetapi dengan kehati-hatian dan penghormatan terhadap kompleksitas sosial-keamanan di lapangan.

Makna di Balik Penundaan

Peristiwa ini memberi pelajaran penting—bagi publik dan aparatur negara.

Bahwa kehadiran negara bukan selalu soal datang dan tampil, tetapi juga soal membaca waktu yang tepat. Bahwa keberpihakan kepada rakyat tidak diukur dari kunjungan semata, melainkan dari keputusan yang melindungi semua pihak: masyarakat, aparat, dan pemimpin itu sendiri.

Turut mendampingi Pangdam dalam keterangan pers tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc, serta Kapolda Papua Irjen Pol Petrus Patrige R. Renwarin, S.H., M.Si—menandakan bahwa keputusan ini diambil dalam koordinasi lintas institusi, bukan kehendak sepihak.

Catatan Akhir

Dalam negara demokrasi, tidak semua keputusan populer adalah bijak. Dan tidak semua penundaan adalah kelemahan. Ada kalanya, justru di sanalah kedewasaan negara diuji—ketika keselamatan manusia ditempatkan di atas kepentingan citra.

Yahukimo akan tetap dikunjungi. Negara akan tetap hadir.
Namun hari itu, negara memilih untuk berhenti sejenak—demi melangkah lebih aman di kemudian hari.

 

Example 300250