TIMIKA, LINTASTIMOR.ID – Pagi itu, Jalan Budi Utomo tidak sekadar menjadi lintasan kendaraan. Ia berubah menjadi panggung perayaan, tempat warna merah lampion berayun lembut ditiup angin, aroma kuliner hangat mengepul dari tenda-tenda sederhana, dan senyum para pelaku usaha kecil memantulkan harapan yang lama dirawat dalam diam.
Di bawah langit Timika yang cerah, Bupati Mimika, , berdiri membuka Festival Pasar Imlek 2026, Minggu (15/02/2026). Di hadapannya, 38 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memamerkan karya terbaik mereka—sebuah perayaan yang bukan hanya tentang Tahun Baru Imlek, tetapi tentang denyut ekonomi rakyat yang tak pernah benar-benar padam.
Festival ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pertemuan antara tradisi dan inovasi, antara doa dan daya juang.
Lampion, Doa, dan Derap Langkah UMKM
Sejak pagi, pengunjung berdatangan. Anak-anak berlarian di antara stan, orang tua berhenti lebih lama di meja-meja yang memajang kue keranjang, pernak-pernik Imlek, hingga busana bernuansa oriental. Di sudut lain, tangan-tangan terampil merapikan anyaman, menjajakan kerajinan tangan, dan menjelaskan dengan penuh semangat proses kreatif di balik setiap produk.
Festival Pasar Imlek 2026 menjadi ruang hidup bagi 38 UMKM lokal—mereka yang selama ini bertahan dalam sunyi, kini berdiri di tengah sorak dukungan.
Dalam sambutannya, Johannes Rettob tidak hanya berbicara sebagai kepala daerah, tetapi sebagai penggerak semangat kolektif.
╔════════════════════════════════╗
“Kami berharap Festival Pasar Imlek ini menjadi ajang promosi yang efektif bagi produk-produk unggulan UMKM Mimika, sehingga semakin dikenal dan diminati masyarakat luas.”
╚════════════════════════════════╝
Kalimat itu mengalir tegas, namun penuh empati. Di baliknya tersimpan kesadaran bahwa UMKM bukan sekadar angka statistik—mereka adalah wajah-wajah keluarga, dapur-dapur yang harus tetap mengepul, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin tumbuh besar.
Imlek: Dari Identitas Budaya ke Simpul Kebersamaan
Festival ini juga menegaskan satu hal: Imlek di Mimika bukan hanya milik satu komunitas. Ia telah menjadi milik bersama.
Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Mimika, , Ir. Gunawan, menyampaikan pesan yang merangkul.
╔════════════════════════════════╗
“Perayaan Imlek bukan hanya milik masyarakat Tionghoa. Ini adalah momen mempererat tali persaudaraan dan kerukunan antar semua suku, agama, dan ras di Kabupaten Mimika.”
╚════════════════════════════════╝
Kata-katanya menggema di antara riuh transaksi dan tawa pengunjung. Festival ini adalah simbol harmoni—bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan.
Di Mimika, Imlek menjelma menjadi bahasa persatuan.
Ekonomi yang Tumbuh dari Rasa
Yang paling terasa bukan hanya ramainya transaksi, tetapi rasa memiliki yang tumbuh di antara masyarakat. Pemerintah daerah dan pelaku usaha berdiri di satu garis yang sama: memajukan ekonomi lokal dengan cara yang inklusif dan berkelanjutan.
Festival Pasar Imlek 2026 menjadi bukti bahwa ketika pemerintah membuka ruang dan pelaku usaha mengisi dengan kreativitas, maka ekonomi tidak sekadar bergerak—ia berdenyut.
Di antara lampion merah dan tenda-tenda UMKM itu, Mimika sedang menulis kisahnya sendiri: tentang keberanian merawat tradisi, tentang inovasi yang lahir dari keterbatasan, dan tentang kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.
Hari itu, Jalan Budi Utomo bukan hanya menjadi saksi perayaan. Ia menjadi saksi bahwa harapan, ketika dirawat bersama, mampu menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
Dan 38 UMKM itu—dengan segala kesederhanaannya—telah membuktikan satu hal: masa depan Mimika tumbuh dari tangan-tangan kecil yang tak pernah lelah berkarya.


















